Rolasnews.com – Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan sepanjang musim kemarau 2026 yang melintasi batas negara, mulai berdampak ke sektor pariwisata ASEAN, terutama di Malaysia dan Singapura.
Operator tur inbound Malaysia melaporkan pembatalan perjalanan untuk November 2026 dan penurunan pemesanan rombongan wisatawan asing.
Presiden Malaysian Inbound Tourism Association, Mint Leong, menyatakan bahwa agen perjalanan luar negeri mulai menanyakan kondisi kualitas udara secara rutin.
Wisatawan juga mengeluhkan pemandangan ikonik seperti Menara Kembar Petronas dan Merdeka 118 yang tertutup kabut. Sehingga foto-foto yang dihasilkan buruk dan aktivitas luar ruangan terganggu.
Di Singapura, sejumlah pelaku usaha wisata outdoor mencatat penurunan pemesanan hingga 30 persen. Tur kick-scooter, walking tour, dan penyewaan kapal pesiar mengalami penurunan 10–30 persen karena wisatawan menunda atau membatalkan aktivitas akibat kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Kota-kota utama seperti Kuala Lumpur, Singapura, dan Jakarta sempat masuk daftar 10 kota paling tercemar di dunia berdasarkan pemantauan IQAir.
Kondisi ini memaksa sekolah ditutup di sejumlah wilayah Malaysia dan mengganggu kenyamanan wisatawan.
Baca Juga:
Malaysia Tutup Sekolah di Sejumlah Wilayah Imbas Kabut Asap Karhutla Indonesia
Gangguan pada Penerbangan dan Destinasi Wisata
Di Indonesia sendiri, lebih dari 2.400 penerbangan domestik di puluhan bandara terdampak sejak Agustus hingga pertengahan Oktober 2026, dengan ribuan di antaranya dibatalkan atau ditunda.
Penerbangan internasional seperti rute Singapura–Pontianak dan Singapura–Palembang juga ikut dibatalkan. Gangguan ini langsung memukul akses ke destinasi ekowisata seperti Tanjung Puting di Kalimantan Tengah dan kawasan Danau Toba.
Pelaku usaha di destinasi alam mengaku banyak wisatawan membatalkan kunjungan karena jarak pandang terbatas dan risiko kesehatan. Aktivitas outdoor yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut menjadi kehilangan daya pikatnya.
Terparah dalam Satu Dekade Terakhir
Kabut asap 2026 dinilai termasuk yang terparah dalam lebih dari satu dekade di Asia Tenggara. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut peristiwa ini berpotensi menjadi salah satu yang terburuk bagi Singapura, Malaysia, Filipina, dan negara tetangga lainnya.
Dampaknya tidak hanya pada kesehatan (ratusan ribu kasus gangguan pernapasan di Indonesia). Tetapi juga pada perekonomian, termasuk sektor yang bergantung pada kunjungan wisatawan.
Meski target kunjungan Malaysia mencapai 47 juta wisatawan pada 2026, kabut asap menambah tekanan pada industri yang sudah menghadapi tantangan lain. Kerugian harian di Malaysia diperkirakan bisa mencapai puluhan juta ringgit jika kondisi ini terus berlanjut.






