Rolasnews.com – Ketika remaja seusianya baru menuntaskan jenjang SMA, Hasna Nur Shadrina justru sudah menyelesaikan pendidikan tingginya. Di usia 19 tahun 7 bulan, ia resmi meraih gelar sarjana dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Hasna juga dinobatkan sebagai wisudawan termuda pada Wisuda ke-134, Sabtu (10/10/2026).
Lahir dan tumbuh di Kota Tangerang, Hasna mengungkapkan bahwa durasi akademisnya memang berjalan lebih cepat dibandingkan teman seusianya.
Sejak belia, irama pendidikannya bergerak serba cepat, dengan mengawali pendidikan TK pada usia 3 tahun dan SD pada usia 5 tahun.
Tak berhenti di situ, kapasitas belajarnya yang mumpuni itu juga membuat Hasna menyelesaikan jenjang SD dan SMP dengan jalur akselerasi. Ia menceritakan bahwa dirinya berada di bangku kelas 4 hingga 6 SD hanya dalam kurun waktu dua tahun.
“Lalu, saya kembali ikut percepatan (akselerasi, red) saat SMP jadi hanya 2 tahun,” ujarnya.
Perjalanan panjangnya sejak kanak-kanak itu rupanya berhasil membentuk mental Hasna hingga mudah beradaptasi tumbuh di lingkungan pertemanan yang berada di atas usianya. Bagi Hasna, adaptasi sosial sejatinya bukan lagi persoalan utama dalam perjalanan akademisnya.
Menempuh bangku perkuliahan di usia 16 tahun, Hasna turut dihadapkan dengan tantangan untuk hidup jauh dari orang tua. Keputusannya merantau dari Tangerang ke Surabaya menyajikan tantangan tersendiri, terutama dalam mengurus segala kebutuhan hidup seorang diri.
“Proses saya untuk beradaptasi terbantu banget karena punya teman-teman yang sama-sama merantau, jadi terasa lebih mudah,” ungkapnya.
Kemudian, Hasna dihadapkan dengan tantangan akademik berupa ritme perkuliahan di Departemen Teknik Lingkungan ITS yang terkenal kompetitif dan padat. Menghadapi tekanan tersebut, Hasna memilih tak ambil pusing dan fokus pada konsistensi eksekusi.
Teliti Mikroplastik di Kalimas
Fase terberat dilalui Hasna saat memasuki masa pengerjaan Tugas Akhir (TA). Berbeda dari penelitian biasa, studinya menuntut pengujian laboratorium yang intensif serta rangkaian tiga tahapan sidang. Mulai dari seminar proposal, seminar progress, hingga seminar hasil.
Dalam risetnya, Hasna menyoroti isu polusi lingkungan di Jawa Timur melalui topik mikroplastik di Sungai Kalimas, Surabaya. Topik tersebut dinilai menarik saat memahami bahwa mikroplastik tergolong pada emerging pollutant yang keberadaannya kian mengkhawatirkan.
“Namun, hingga saat ini belum ada regulasi resmi untuk mengatasi persoalan lingkungan di lokasi wisata seperti Sungai Kalimas,” terang gadis kelahiran 28 Maret 2007 itu.

Keberhasilan menuntaskan studi tepat waktu di usia muda diakui Hasna sebagai buah dari lingkungan yang terus mendukungnya. Keluarga, rekan seperjuangan, para dosen, hingga teknisi laboratorium yang mendampingi risetnya memberikan kontribusi nyata dalam porsi masing-masing.
Usai resmi melepas almamater biru ITS kebanggaannya, Hasna tidak terburu-buru menetapkan target jangka panjangnya. Dalam tiga bulan ke depan, ia memilih mematangkan pengalaman laboratoriumnya dengan bergabung dalam proyek riset dosen yang berfokus pada Toxic Site Identification.
Sembari menimbang opsi karier profesional maupun studi lanjutan, bagi Hasna, usia muda adalah ruang lapang untuk terus mengeksplorasi potensi tanpa harus kehilangan fokus.
Kisah Hasna menjadi bukti bahwa kombinasi antara fokus, ketahanan beradaptasi, dan disiplin mampu menembus batas usia dalam meraih puncaknya di dunia akademis.
Pencapaian akademis Hasna di usia muda selaras dengan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Dedikasinya dalam meneliti polusi mikroplastik menjadi wujud kontribusi nyata sivitas akademika ITS dalam mendukung perwujudan kota dan permukiman yang berkelanjutan (SDG 11) serta kemampuan menyelesaikan pendidikan tinggi di usia belia mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas.






