Rolasnews.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan komitmen dana darurat senilai US$580 juta untuk mendukung operasi penanganan wabah Ebola selama enam bulan ke depan. Langkah ini diambil menyusul deklarasi Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atas penyebaran virus mematikan tersebut di kawasan Afrika Tengah dan Timur, terutama di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda.
Dengan respons cepat terhadap krisis kesehatan global, dana tersebut diharapkan membiayai berbagai upaya krusial. Mulai dari pengerahan tim medis dan pakar, penyediaan peralatan pelindung diri (APD), laboratorium diagnosis cepat, hingga kampanye edukasi masyarakat dan penguatan sistem surveilans di negara-negara tetangga yang berisiko.
Wabah Ebola kali ini menunjukkan penyebaran yang mengkhawatirkan, dengan ratusan kasus suspek dan puluhan kematian yang dilaporkan dalam waktu singkat.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menekankan bahwa pendanaan ini bukan sekadar respons reaktif. Tetapi merupakan investasi strategis untuk mencegah penyebaran lebih luas yang berpotensi menjadi ancaman regional bahkan global.
“Kita harus bertindak sekarang sebelum situasi memburuk,” ujarnya dalam pernyataan terkait kunjungan ke lokasi wabah.
Pendekatan ini mencakup koordinasi dengan Africa CDC, pemerintah setempat, dan mitra seperti Doctors Without Borders (MSF).
Berita Terkait:
WHO Nyatakan Darurat Kesehatan Global Akibat Wabah Ebola di Kongo
Wabah Ebola Memburuk di Kongo, Uganda Tutup Perbatasan
Wabah Ebola terbaru ini terjadi di tengah kondisi yang kompleks. Wilayah konflik di Kongo, mobilitas penduduk lintas batas, dan sistem kesehatan yang masih rapuh pasca-pandemi COVID-19. Virus Ebola, yang memiliki tingkat kematian hingga 90% pada kasus tertentu tanpa penanganan memadai, menuntut respons cepat berbasis vaksin, pengobatan, dan isolasi.
Dana WHO diharapkan melengkapi komitmen lain seperti dari Amerika Serikat (lebih dari US$200 juta) dan Pandemic Fund.
Sebelumnya, janji dana awal dari berbagai pihak sempat turun drastis dari target semula, menimbulkan kekhawatiran akan kesenjangan pendanaan. Efektivitas penggunaan dana juga bergantung pada akses ke daerah terpencil, kepercayaan masyarakat lokal, dan koordinasi antar-aktor internasional.






