Rolasnews.com – Iran kembali melontarkan kecaman keras terhadap serangan militer Amerika Serikat setelah rudal AS dilaporkan menghantam area dekat rumah sakit khusus kanker anak, Shahid Baghaei, di Kota Ahvaz, Provinsi Khuzestan, Kamis (16/7/2026).
Menurut laporan media lokal seperti Fars, beberapa rudal meledak di sekitar Rumah Sakit Baqai (atau fasilitas serupa yang melayani pasien kanker, khususnya anak-anak). Getaran dan suara ledakan yang dahsyat memicu kepanikan massal di kalangan pasien kecil yang sedang menjalani pengobatan, termasuk kemoterapi.
Karyawan medis bersama keluarga pasien segera melakukan evakuasi darurat, memindahkan anak-anak penderita kanker ke fasilitas lain untuk menghindari risiko lebih lanjut.
Pejabat dan media Iran menyebut serangan tersebut sebagai tindakan “biadab” dan “tidak manusiawi” yang mengabaikan keselamatan warga sipil, terutama kelompok rentan seperti anak-anak yang sedang berjuang melawan kanker.
Serangan ini dinilai semakin memperparah krisis kemanusiaan di tengah konflik berkepanjangan antara AS-Israel dan Iran.
Baca Juga:
AS Intensifkan Serangan ke Iran, Selat Hormuz Kian Panas
Sebelumnya, serangan AS di wilayah barat Iran, termasuk pinggiran Ahvaz, dilaporkan menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai beberapa lainnya. Fasilitas kesehatan di Khuzestan, termasuk rumah sakit anak di Ahvaz, juga sempat mengalami kerusakan akibat gempuran udara sebelumnya.
Kementerian Luar Negeri Iran dan pejabat setempat menuntut pertanggungjawaban internasional atas serangan yang dinilai melanggar hukum humaniter.
“Serangan terhadap area sipil dan fasilitas kesehatan merupakan kejahatan perang,” tegas juru bicara Iran dalam pernyataan terkait.
Insiden ini terjadi di tengah ketegangan tinggi di Timur Tengah, di mana serangan balasan dan blokade laut terus berlangsung. Sementara itu, pihak AS belum memberikan komentar resmi mengenai serangan spesifik di Ahvaz ini.
Evakuasi pasien kanker anak menambah daftar panjang dampak kemanusiaan konflik, di mana akses terhadap pengobatan vital semakin terancam. Kondisi ini memicu kekhawatiran luas atas keselamatan ribuan anak yang membutuhkan perawatan rutin di tengah gejolak perang.






