Trump Beri Mandat JD Vance dan Marco Rubio Lanjutkan Dialog dengan Iran

Trump Beri Mandat JD Vance dan Marco Rubio Lanjutkan Dialog dengan Iran
JD Vance dan Marco Rubio diperintahkan Presiden AS, Donald Trump, untuk melanjutkan negoisasi dengan Iran.

Rolasnews.com – Presiden AS Donald Trump memerintahkan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio untuk melanjutkan upaya dialog dan negosiasi dengan Iran, meskipun gencatan senjata antara kedua negara sempat dinyatakan “berakhir” pasca-eskalasi militer baru-baru ini. Pernyataan ini mencerminkan pendekatan ganda Trump yang menggabungkan tekanan maksimal dengan jalur diplomasi. Terutama di tengah upaya mencapai kesepakatan jangka panjang terkait program nuklir Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Dalam beberapa kesempatan, Trump menegaskan bahwa secara pribadi ia skeptis terhadap kepemimpinan Iran yang disebutnya sebagai “liars” dan “scum”. Meski begitu, ia tetap memberikan mandat kepada tim seniornya untuk melanjutkan pembicaraan.

Read More

JD Vance, yang sering memimpin negosiasi langsung termasuk di Swiss, diberi peran kunci dalam membangun fondasi kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni 2026. Sedangkan Rubio, dengan pendekatan yang lebih hawkish, terlibat dalam diplomasi regional untuk menjamin kepentingan sekutu AS seperti Israel dan negara-negara Teluk.

Trump disebut sering bercanda bahwa jika kesepakatan berhasil, ia akan mengambil kredit penuh. Tetapi jika gagal, Vance yang akan disalahkan. Namun ia berulang kali juga memuji kedua pembantunya sebagai “fantastic”. Ia mendukung kelanjutan dialog untuk mencapai “final deal” dalam jangka waktu yang ditentukan. Termasuk pembukaan Selat Hormuz, penghentian konflik di Lebanon, dan pembatasan program nuklir Iran.

Upaya negosiasi ini merupakan kelanjutan dari MoU yang ditandatangani Juni 2026, yang sempat terganggu oleh serangan balik dan ancaman militer. Meski gencatan senjata berakhir, Trump tetap mengizinkan pembicaraan teknis berlanjut, termasuk melalui mediator seperti Pakistan dan Qatar.

Hanya saja, skeptisisme tetap tinggi mengingat sejarah ketidakpercayaan mendalam antara Washington dan Teheran. Juga tekanan dari sekutu seperti Israel yang khawatir kesepakatan terlalu lunak terhadap Iran.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *