Rolasnews.com – Di saat harga Musang King jatuh dramatis ke level terendah dalam 10 tahun, aksi pencurian durian justru meningkat tajam di Malaysia. Petani di kawasan produksi utama seperti Raub, Pahang, kini hidup dalam ketakutan. Geng bersenjata parang beraksi berani. Mereka menyerang korban dan merampas buah yang nilainya kini jauh lebih rendah, tetapi tetap menggiurkan bagi pelaku kejahatan.
Fenomena “tsunami durian” merupakan istilah yang digunakan industri untuk menggambarkan banjir pasokan akibat panen raya serentak. Hal ini telah menekan harga Musang King hingga RM10 per kilogram (sekitar Rp 41.000) atau bahkan lebih rendah di tingkat petani. Padahal, harga puncaknya pernah mencapai RM80 per kg (sekitar Rp 328.000).
Promo “isi kantong sepuasnya” hanya RM133 (sekitar Rp 545.000) untuk puluhan kilogram kini menjadi pemandangan biasa di pinggir jalan dan pusat durian seperti Petaling Jaya.
Namun, melimpahnya panenan durian ini tidak menyurutkan nafsu pencuri. Salah satu kasus paling brutal terjadi pada Juli 2024 di Raub. Ketika itu, seorang petani bernama Huang Jiabao (44) diserang oleh geng 12 orang.
Korban ditebas parang berkali-kali di kepala dan tangan hingga mencapai tulang, hanya karena mencoba menghentikan pencurian durian dan peralatan kebunnya. Kerugian material dari kasus serupa sering mencapai ribuan ringgit. Sementara korban menderita luka fisik serius.
Faktor Ekonomi Hingga Illegal Farming
Menurut laporan petani dan polisi setempat, beberapa faktor mendorong peningkatan kasus.
- Nilai Ekonomi yang Masih Menguntungkan. Meski harga anjlok, satu truk durian premium tetap bernilai jutaan rupiah di pasar lokal atau jalur tidak resmi. Biaya “operasi” pencurian rendah, sementara potensi keuntungan cepat tinggi.
- Kerawanan Area Produksi. Kebun di Raub dan sekitarnya sering berada di lokasi terpencil, dekat hutan cadangan, sehingga sulit diawasi 24 jam.
- Dampak Ekosistem Illegal Farming. Operasi pemerintah Ops Sekat yang menebang ribuan pohon durian haram dan menangkap ratusan pelaku justru menciptakan kekosongan dan peluang baru bagi pencuri oportunis.
- Tekanan Ekonomi Pelaku. Beberapa geng diduga melibatkan pekerja migran atau warga lokal yang melihat durian sebagai sumber uang tunai instan di tengah musim panen melimpah.
Kasus serupa terus dilaporkan di berbagai kampung seperti Sungai Klau, Sungai Ruan, dan Sungai Chalit. Komunitas petani kini sering berpatroli bersama dan menggunakan grup WhatsApp untuk saling mengingatkan.
Rugi Besar, Petani Masih Harus Hadapi Ancaman Tindakan Kriminal
Presiden Asosiasi Eksportir Durian Malaysia, Sam Tan, menyatakan bahwa era harga tinggi seperti dulu (RM80/kg) sudah berakhir karena perluasan lahan tanam hingga lima kali lipat dan permintaan ekspor yang fluktuatif, terutama dari China. Sementara konsumen berpesta, petani kecil rugi besar dan harus menghadapi ancaman kejahatan tambahan.
Federal Agricultural Marketing Authority (FAMA) berupaya meredam gejolak dengan membeli kelebihan pasokan dan mendorong pengolahan menjadi produk turunan. Namun, keamanan kebun tetap menjadi tantangan serius.
Kasus peningkatan pencurian ini mengungkap sisi gelap di balik “raja buah” yang kini lebih terjangkau. Lonjakan pasokan tak serta-merta mengurangi nilai kriminalnya. Bagi petani Malaysia, musim durian tahun ini bukan hanya soal harga rendah, melainkan juga soal nyawa dan mata pencaharian yang dipertaruhkan.






