Rolasnews.com – Banjir bandang akibat hujan deras yang dipicu Topan Maysak melanda Kebun Binatang Guigang di wilayah Guangxi, China selatan, awal pekan ini. Air bah setinggi lebih dari dua meter menyapu area kandang. Hal ini memaksa pengelola mengunci hewan-hewan liar di tempatnya demi mencegah pelarian massal yang berpotensi membahayakan warga. Tragisnya, keputusan itu berujung pada kematian tiga ekor singa yang tenggelam, sementara lebih dari 100 hewan lainnya hanyut dan hilang.
Menurut laporan Red Star News dan pernyataan pihak kebun binatang, pengelola memilih mengunci singa, beruang cokelat, serigala, serta hewan berbahaya lainnya di kandang saat banjir mulai merendam fasilitas pada Senin (7 Juli 2026).
“Kami tidak ingin menambah masalah bagi negara dengan membiarkan hewan-hewan berbahaya lepas dan melukai orang,” ujar pemilik kebun binatang seperti dikutip media lokal.
Namun, banjir yang cepat dan deras tak memberi kesempatan. Tiga singa ditemukan tewas tenggelam di kandang mereka. Sementara itu, lebih dari 100 hewan lain, termasuk sepasang zebra (salah satunya kemudian ditemukan mati), tiga kuda poni mini, burung unta, alpaka, rakun, landak, merak, serta berbagai burung dan hewan herbivora lainnya, tersapu arus deras.
Pihak kebun binatang pun mengeluarkan pengumuman darurat di media sosial, meminta bantuan masyarakat untuk melacak dan mengembalikan satwa-satwa yang hilang.
Baca Juga:
Banjir Guangxi Hancurkan Peternakan Ular, 800-900 Ekor Lepas ke Pemukiman Warga
Dikecam Aktivis Penyayang Binatang
Keputusan pengelola menuai kritik tajam dari kelompok hak-hak hewan internasional. People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) menyebut tindakan mengunci hewan di kandang saat banjir sebagai “unconscionable” atau tak bermoral.
Jason Baker, Presiden PETA Asia, menyatakan bahwa bencana banjir di Guangxi seharusnya menjadi “peringatan bagi setiap kebun binatang. Juga fasilitas penangkaran satwa liar yang berada di jalur cuaca ekstrem.”
Menurut Baker, meninggalkan hewan terperangkap di balik jeruji saat air bah naik adalah tindakan yang tak dapat diterima. Namun, ia juga menekankan bahwa melepaskan begitu saja hewan-hewan liar yang ditangkap selama bencana justru tak bertanggung jawab dan berbahaya bagi kedua belah pihak, hewan maupun manusia.
PETA mendesak adanya rencana evakuasi yang memadai untuk satwa kurungan. Organisasi penyayang binatang itu juga menyerukan penghentian praktik penangkaran hewan liar di kebun binatang. Terlebih di wilayah rawan bencana.
Beberapa hewan yang lolos dilaporkan berpotensi agresif setelah trauma banjir, memicu kekhawatiran di kalangan warga setempat. Pihak berwenang daerah juga mencatat kerusakan kandang akibat curah hujan deras berkelanjutan.
Banjir ini merupakan bagian dari bencana yang lebih luas di Guangxi. Setidaknya 39 orang tewas dan puluhan ribu warga dievakuasi akibat bencana tersebut.






