Rolasnews.com – Harga minyak mentah dunia kembali melonjak tajam menyusul serangkaian serangan balasan antara Amerika Serikat dan Iran beberapa hari terakhir. Konflik yang sempat mereda pasca-gencatan senjata kini mengancam pasokan energi global. Terutama melalui jalur vital Selat Hormuz yang menjadi arteri utama pengiriman minyak dunia.
Menurut data perdagangan, harga minyak Brent naik sekitar 64 sen menjadi US$78,66 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 54 sen ke level US$74,06. Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar atas gangguan pengiriman tanker dan serangan terhadap fasilitas serta kapal komersial di kawasan Teluk.
Eskalasi dimulai ketika AS melakukan serangan terhadap target-target strategis Iran. Termasuk respons terhadap dugaan serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran telah berakhir, memicu kekhawatiran baru atas stabilitas pasokan energi.
Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20-30% pasokan minyak global, menjadi pusat ketegangan. Serangan terhadap kapal dan fasilitas di kawasan ini langsung memicu spekulasi trader, mendorong harga naik meski sempat ada harapan perdamaian.
Analis mencatat bahwa ketidakpastian geopolitik ini membalik tren penurunan harga sebelumnya, dengan dampak langsung pada harga bensin di berbagai negara, termasuk AS.
Di tengah musim liburan musim panas di belahan bumi utara, kenaikan harga minyak ini berpotensi memperburuk inflasi energi dan membebani konsumen.
Meski demikian, beberapa pakar menilai lonjakan ini masih di bawah level puncak konflik sebelumnya. Tetapi volatilitas pasar diperkirakan akan berlanjut seiring perkembangan diplomatik dan militer di Timur Tengah.






