Atasi Banjir, Bambang Irianto Dorong Gerakan Menabung Air Lewat Sumur Resapan

  • Whatsapp
Atasi Banjir, Bambang Irianto Dorong Gerakan Menabung Air Lewat Sumur Resapan
(Ir. Bambang Irianto, pembina lingkungan tingkat nasional. Credit: ANC)

Rolasnews.com – Gerakan Angkut Sampah dan Sedimen (GASS) yang digagas Pemkot Malang untuk mengantisipasi terjadinya banjir, sudah sepatutnya diberikan apresiasi. Namun demikian, gerakan GASS saja dinilai masih belum cukup untuk mengatasi masalah banjir di Kota Malang.

Hal ini disampaikan pembina lingkungan tingkat nasional, Ir. Bambang Irianto saat menghadiri kegiatan GASS di wilayah kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Minggu (14/11).

Read More

Menurut Bambang, GASS merupakan sebuah langkah yang perlu diapresiasi. Karena ini menunjukkan bahwa Pemkot Malang dan masyarakat sudah mulai tergugah untuk menghadapi banjir. Tergugah untuk melakukan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

“Oleh karena itu kalau saya memang dibutuhkan masyarakat, saya akan hadir di RT per RT atau RW per RW untuk melakukan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Karena banjir ini tidak bisa diatasi sendirian,” ucapnya.

Masing-masing warga harus melakukan apa yang dinamakan gerakan menabung air menurut kemampuan dan kapasitas masing-masing warga. Kalau ini dilakukan secara masif, dampaknya bisa sangat signifikan.

“Saya tetap memberikan apresiasi tapi dengan langkah begini saja, jangan berharap banjir bisa teratasi. Karena itu menabung air harus menjadi budaya warga Malang termasuk budaya memilah sampah,” tuturnya.

Dikatakan Bambang, saat ini kawasan resapan di Kota Malang sudah banyak yang berubah menjadi kawasan terbangun. Contohnya di daerah Lambau yang harusnya menjadi kawasan resapan, sekarang justru sudah menjadi kawasan terbangun berupa hotel dan perumahan. Bagaimana Amdalnya, sudahkah mereka membuat sumur resapan atau biopori atau bahkan kalau perlu membuat embung.

“Kemudian mereka mengambil air dari mana. Apakah dari PDAM atau dari Air Bawah Tanah (ABT). Kalau mengambil dari ABT, maka lengkaplah dosa kesalahan mereka sehingga warga menjadi kawasan terdampak,” ucapnya.

Baca Juga :

Terjadi Longsor, Sutiaji Minta Pengembang Perumahan Tidak Asal Bangun

Siapa yang bisa mentertibkan usaha ini, tentu pemerintah. Pemerintah, terutama pemerintah daerah, harus mengecek perijinannya seperti apa. Kalau perlu sekarang diwajibkan untu membuat sumur resapan. jangan sampai urusan begini yang digerakkan hanya masyarakat saja tetapi juga dunia usaha.

“Coba diaudit kawasan industri dan perusahaan di Kota Malang. Saya yakin semua perusahaan mereka pakai ABT tetapi apakah semua perusahaan membuat sumur resapan, belum tentu,” ujarnya.

Kalau perusahan di Kota Malang diwajibkan untuk membuat minimal satu sumur resapan, sudah milyaran liter air yang jatuh di kawasan perusahaan itu sehingga tidak melimpah ke kampung sebelah.

“Ini powernya pemerintah yang harus menekan, sehingga masyarakat bergerak, dunia usaha bergerak dan kantor-kantor milik pemerintah pun juga harus membuat sumur resapan untuk menabung air. Ini yang harus kita berikan contoh sehingga gerakan menabung air itu menjadi gerakan sosial,” pungkasnya. (ANC)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *