Rolasnews.com – Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung 21-22 Juli 2026. Proyeksi ini disampaikan sejumlah ekonom di tengah tekanan inflasi yang mendekati batas atas target dan pelemahan nilai tukar rupiah yang belum sepenuhnya mereda.
Lead Economist Bank Danamon, Irman Faiz, menjadi salah satu pihak yang memperkirakan bank sentral akan melanjutkan siklus pengetatan moneter.
Menurutnya, BI berpeluang menaikkan suku bunga kebijakan hingga mencapai level 6,25 persen sebagai suku bunga terminal, seiring inflasi inti yang mendekati batas atas kisaran sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen serta tekanan depresiasi rupiah yang terus berlanjut.
Risiko tambahan datang dari faktor cuaca. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Juli-Agustus 2026, yang berpotensi menekan produksi padi dan komoditas hortikultura di tengah potensi fenomena El Nino.
Di sisi nilai tukar, rupiah sempat menguat ke level Rp17.738 per dolar AS pada pertengahan Juni 2026 usai kenaikan BI Rate, namun kembali melemah ke kisaran Rp17.900 per dolar AS pada awal Juli 2026.
Pergerakan dolar AS yang masih relatif kuat serta arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat menjadi salah satu faktor penentu arah rupiah ke depan.
Meski demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menyampaikan keyakinannya bahwa rupiah berpotensi menguat secara bertahap mulai Juli hingga Agustus 2026, seiring pola musiman tahunan di mana tekanan terhadap rupiah cenderung mereda memasuki paruh kedua tahun.
Dari sisi eksternal, bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) hingga saat ini masih mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50-3,75 persen, dengan potensi kenaikan lanjutan seiring prospek inflasi AS yang lebih tinggi. Kondisi ini turut memengaruhi preferensi investor global terhadap aset-aset di negara berkembang, termasuk Indonesia, yang pada gilirannya memengaruhi kalkulasi kebijakan suku bunga domestik.
RDG Juli, Forum Penentu Kebijakan Triwulanan
RDG yang akan digelar pada 21-22 Juli 2026 merupakan RDG bulanan dengan cakupan triwulanan, yang biasanya turut membahas evaluasi menyeluruh terhadap prospek perekonomian nasional serta proyeksi ke depan.
Sesuai jadwal resmi yang telah diumumkan Bank Indonesia sejak akhir 2025, hasil RDG akan diumumkan Gubernur BI dalam konferensi pers pada hari kedua rapat.
Pelaku pasar dan pelaku usaha kini menanti keputusan resmi bank sentral, mengingat arah suku bunga acuan akan berdampak langsung pada biaya dana perbankan, suku bunga kredit, hingga daya tarik instrumen investasi domestik bagi investor asing.






