Rolasnews.com – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI Prof Stella Christie PhD mengajak para mahasiswa baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk berpikir kritis di tengah euforia teknologi akal imitasi (AI) era ini. Pemaparan tersebut disampaikannya di hadapan ribuan peserta Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) ITS 2026 di GOR Pertamina ITS, Rabu (5/8/2026).
Stella mengajak mahasiswa untuk bisa menelaah fenomena AI melalui sudut pandang keberlanjutan. Ia mengibaratkan perkembangan AI dengan fenomena economic bubble yang pernah terjadi pada perdagangan tulip di Belanda dan gelembung dot-com (dot-com bubble) pada akhir abad ke-19.
Menurutnya, euforia terhadap satu teknologi perlu disikapi secara kritis agar masyarakat tidak terjebak pada optimisme berlebihan.
“Kini hampir semua persoalan dijawab AI dan dapat menjadi indikasi yang layak dikaji sebagai wujud gelembung teknologi yang dapat pecah sewaktu-waktu,” terang perempuan berkacamata ini.
Profesor dari Tsinghua University, China tersebut menegaskan bahwa analisis tersebut bukan untuk meremehkan AI, melainkan mengajak mahasiswa berpikir lebih mendalam mengenai dampaknya. Terlebih, ia menyoroti besarnya sumber daya yang dibutuhkan AI, namun tidak diketahui oleh banyak orang.
“Pusat data AI memerlukan listrik dan air dalam jumlah sangat besar untuk menjalankan proses komputasi yang juga diperkirakan terus meningkat,” papar Stella.
Lebih lanjut, Stella memaparkan fakta bahwa kebutuhan energi dan air untuk menopang pusat data AI itu setara dengan penggunaan di negara-negara besar. Kondisi tersebut dinilainya harus menjadi pertimbangan sebelum masyarakat memanfaatkan AI secara masif.
“Untuk itu, saya mengingatkan bahwa kita harus mempertimbangkan apakah manfaat AI sepadan dengan sumber daya yang dikorbankan,” tutur Stella mengingatkan.
Peningkatan kapasitas AI yang sangat rakus tersebut memicu dilema global mengenai keberlanjutan energi. Ia mempertanyakan apakah dunia sanggup untuk terus menopang operasional AI yang masif tanpa mengorbankan kebutuhan vital manusia.
Fenomena ini menuntut mahasiswa dan dunia akademik untuk bersikap kritis, bukan sekedar jubir teknologi, melainkan memahami batasan serta dampak nyata dari adopsi AI secara masif.
Sementara itu, ancaman penggantian peran manusia oleh AI nyata terjadi di berbagai aspek kehidupan. Ancaman AI bahkan melanda lulusan bidang ilmu komputer yang sebelumnya dianggap paling aman. Hal ini karena kemampuan koding AI yang dinilai jauh lebih efisien dan murah oleh perusahaan.
“Maka, keberhasilan dan nilai dari berkuliah tidak lagi diukur dari ijazah, namun kemampuan nyata individu agar tidak tergantikan oleh AI,” terang Guru Besar bidang Kecerdasan Kognitif tersebut.
Agar tetap relevan di era AI, Stella menegaskan bahwa kampus harus bertumpu pada tiga pilar utama. Mulai dari penciptaan pengetahuan (creation of knowledge), transmisi pengetahuan (transmission of knowledge), hingga kurasi pengetahuan (curation of knowledge).
Stella meluruskan bahwa tugas utama perguruan tinggi bukanlah sekadar menjadi tempat penumpukan fakta yang instan, melainkan melatih kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan menciptakan hal-hal baru yang tidak bisa dilakukan oleh mesin.
AI diketahui memiliki akses terhadap seluruh data dan fakta di dunia secara instan. Namun secara nyata, AI tidak memiliki kemampuan untuk menyeleksi atau mengkurasi informasi mana yang benar-benar bermakna dan berguna.
“Kurasi pengetahuan inilah yang membedakan antara manusia dengan AI, dan akademisi bertugas menyaring esensi kebenaran yang paling bernilai bagi peradaban,” ujar Stella.
Pada era AI ini, mahasiswa diimbau untuk fokus memaksimalkan proses pembelajaran selama di kampus. Terutama dengan menyeimbangkan input usaha yang diberikan demi menghasilkan output kapasitas diri yang unggul.
Stella mengungkapkan bahwa kampus dirancang untuk menempa kesiapan mental, jejaring profesional, serta ketajaman analisis yang tidak mungkin bisa direplikasi oleh algoritma komputer. Pengalaman kolektif, diskusi interaktif, dan kolaborasi langsung di lingkungan kampus memberikan nilai tambah humanis yang esensial dalam membentuk tenaga kerja yang kompeten.
Pada akhirnya, masa depan sarjana yang sukses di era AI ditentukan oleh kapasitas mereka dalam mengoptimalkan potensi diri, menguasai seni kurasi pengetahuan, serta menghadirkan solusi kreatif yang berdampak nyata bagi kemajuan bangsa.
Hal tersebut dapat dimulai dengan membekali diri melalui kemampuan berpikir kritis.
“Jadi mahasiswa ITS diharapkan mampu menjadi insan yang tangguh, inovatif, dan tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi,” pungkas Stella.
Pemaparan materi yang berkenaan dengan euforia teknologi seperti AI ini juga menuntut perguruan tinggi menciptakan pendidikan yang berkualitas, sejalan dengan poin ke-4 Sustainable Development Goals (SDGs). Tidak hanya itu, dorongan bagi mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas diri agar tidak tersaingi oleh kecerdasan buatan, sehingga terciptanya pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi sesuai SDGs poin ke-8.






