Rolasnews.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini mendekati level rekor terendah menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku industri pariwisata Indonesia. Secara teoritis, depresiasi rupiah membuat Indonesia tampak lebih murah bagi wisatawan mancanegara (wisman), sehingga berpotensi meningkatkan kunjungan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang lebih kompleks.
Bagi wisatawan asing, penurunan nilai tukar rupiah memberikan keuntungan daya beli yang signifikan. Pemegang mata uang dolar AS atau euro kini dapat memperoleh fasilitas akomodasi, kuliner, transportasi lokal, hingga suvenir dengan jumlah yang lebih banyak. Situasi ini dapat memperpanjang durasi tinggal (length of stay) para pelancong internasional.
Banyak pelaku usaha mencatat bahwa kondisi ini pernah mendorong lonjakan kunjungan di masa lalu.
Di Bali dan destinasi populer lainnya, biaya liburan yang relatif rendah menjadi daya tarik kompetitif dibandingkan negara tetangga. Data awal 2026 menunjukkan pertumbuhan kunjungan wisman di beberapa daerah, meski faktor lain seperti promosi dan konektivitas penerbangan juga berperan.
Akan tetapi, tidak semua analis sepakat efeknya langsung dan dominan. Faktor penghambat seperti kenaikan harga tiket pesawat akibat mahalnya avtur, ketidakpastian geopolitik global, dan inflasi domestik sering kali mengurangi daya tarik tersebut.
Di beberapa wilayah, pelemahan rupiah justru lebih terasa dampak negatifnya bagi wisatawan domestik dan operasional bisnis.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) umumnya menyambut positif pelemahan rupiah sebagai peluang, meski tetap waspada terhadap risiko ganda.
Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, menyatakan bahwa kondisi ini dapat mendorong wisatawan asing untuk tinggal lebih lama dan belanja lebih banyak. Hotel-hotel yang bertransaksi dalam dolar pun berpotensi meraup keuntungan kurs yang lebih baik.
PHRI juga mendorong pelaku usaha, khususnya UMKM pariwisata, untuk memanfaatkan momentum ini dengan menjaga kualitas layanan dan harga yang tetap kompetitif.
Di sisi lain, mereka mengakui tantangan berupa kenaikan biaya impor bahan baku makanan dan operasional hotel, yang dapat menekan margin keuntungan jika tidak dikelola dengan baik.
Momentum untuk Inbound Tourism
Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) lebih optimistis melihat pelemahan rupiah sebagai momentum strategis untuk meningkatkan inbound tourism. Perwakilan Asita Jawa Barat, Budijanto Ardiansyah, menegaskan bahwa biaya liburan yang lebih murah seharusnya menarik wisatawan dari negara-negara Asia dan pasar lain yang sensitif terhadap nilai tukar.
Namun, Asita juga menyoroti kendala praktis. Di Sulawesi Selatan misalnya, Ketua Asita Didi L. Manaba menyebut kenaikan harga tiket pesawat akibat pelemahan rupiah justru membuat wisatawan domestik menunda perjalanan. Meski kunjungan wisman sempat naik di awal tahun.
Oleh karena itu, Asita mendorong pemerintah untuk menjaga stabilitas harga tiket dan meningkatkan promosi agar potensi pelemahan rupiah dapat dimaksimalkan.
Pelemahan rupiah memang memiliki pengaruh positif secara teoritis terhadap peningkatan wisatawan mancanegara melalui mekanisme harga yang lebih terjangkau.
Pelemahan mata uang rupiah memang membuka peluang besar bagi pasar pariwisata internasional melalui mekanisme harga yang lebih terjangkau. Hanya saja, pengaruh ini tidak otomatis dan sering kali dibayangi oleh faktor eksternal seperti biaya transportasi udara dan kondisi global.
PHRI dan Asita sepakat mendesak pemerintah untuk menjaga stabilitas harga tiket pesawat dan memperkuat strategi mitigasi. Hal ini agar potensi membaiknya industri pariwisata tidak tergerus oleh risiko inflasi dan kenaikan biaya operasional.







