Rolasnews.com – Keberhasilan klub sepak bola putri Naegohyang dari Korea Utara menjuarai AFC Women’s Champions League 2025/2026 yang digelar di Korea Selatan menjadi perbincangan di dalam negeri. Namun, banyak warga Korea Utara justru lebih tertarik pada fakta bahwa tim tersebut berhasil menginjakkan kaki di Korea Selatan daripada gelar juara yang diraih.
Seorang sumber Daily NK di Provinsi Hamgyong Utara melaporkan pada Rabu bahwa kemenangan tersebut banyak dibicarakan di Kota Hoeryong.
“Sebagian warga sangat memperhatikan bahwa pertandingan digelar di Korea Selatan dan pemain kami dikirim ke sana,” ujar sumber tersebut.
Reaksi ini mencerminkan ketegangan yang lebih dalam. Pada akhir 2023, otoritas Korea Utara mendefinisikan ulang hubungan antar-Korea sebagai hubungan antara dua negara yang secara permanen bermusuhan, menghapus semua referensi persatuan nasional, dan memutuskan segala kontak dengan Selatan.
Bagi banyak warga, keputusan mengirim tim ke negara yang secara resmi disebut sebagai musuh bertentangan dengan kebijakan tersebut.
“Orang-orang bertanya-tanya mengapa pemain dikirim ke Korea Selatan sementara negara itu dianggap musuh,” kata sumber tersebut.
Beragam Reaksi
Reaksi masyarakat di Hoeryong bercampur aduk. Sebagian menyatakan iri, menyebut para pemain beruntung bisa melihat Korea Selatan secara langsung. Ada pula yang bercanda bahwa mungkin layak mulai bermain sepak bola karena bisa membawa prestise sekaligus kesempatan berkunjung ke Selatan.
Meski Pyongyang gencar memberantas konten budaya Korea Selatan sejak 2020, ketertarikan terhadap budaya Selatan tetap tinggi.
“Orang-orang lebih tertarik pada fakta tim pergi ke Korea Selatan daripada kemenangan itu sendiri,” ungkap sumber.
Tidak semua reaksi positif. Sebagian bersikap sinis, menyatakan bahwa gelar juara sepak bola tidak mengubah apa pun dalam kehidupan sehari-hari mereka. Isu pangan dan kebutuhan dasar jauh lebih mendesak dibanding prestasi olahraga.
Di sisi lain, banyak yang menyampaikan kebanggaan nasional. Mereka menyebut sepak bola putri Korea Utara tak tertandingi. Hal ini berbeda dengan tim putra yang dianggap kurang kompetitif.
Soal Uang Hadiah
Uang hadiah juara juga menjadi topik hangat. Melalui informasi yang didapatkan via ponsel China dari kontak di luar negeri, warga mengetahui bahwa sanksi internasional menyulitkan transfer dana secara langsung ke Korea Utara. Reaksi pun campur aduk, mulai dari simpati terhadap para pemain hingga pandangan skeptis bahwa uang tersebut kemungkinan besar tidak akan sampai ke tangan atlet.
Beberapa warga berpendapat bahwa meski tidak bisa menerima uang hadiah, Pyongyang tetap mengirim tim demi prestise nasional, dan para pemain bertanding dengan kesadaran penuh atas situasi tersebut.
Naegohyang Women’s Football Club tiba di Korea Selatan melalui Beijing pada 17 Mei, mengalahkan Suwon FC Women (2-1) pada 20 Mei dan Tokyo Verdy Beleza (1-0) pada 23 Mei. Tim sepak bola putri asal negaranya Kim Jong-un itu lalu pulang melalui Bandara Incheon pada 24 Mei.
Sebagai informasi, ini merupakan kunjungan pertama klub sepak bola putri Korea Utara, bukan tim nasional, ke Korea Selatan.






