Selain COVID-19, Masih Ada 500 Ribuan Virus Tak Dikenal yang Lebih Mematikan

Selain COVID-19, Masih Ada 500 Ribuan Virus Tak Dikenal yang Lebih Mematikan
(Memperjualbelikan hewan liar untuk konsumsi manusia menjadi salah satu penyebab utama merebaknya pandemi. Foto : Rain Forest 4)
Rolasnews.com – Merebaknya pandemi COVID-19 bukanlah sesuatu yang ujug-ujug begitu saja terjadi. Aktivitas manusia yang mempercepat perubahan iklim serta lenyapnya keanekaragaman hayati juga meningkatkan resiko pandemi lain yang disebabkan oleh ratusan ribu virus tak dikenal.

Demikian kesimpulan laporan Intenational Panel on Nature, IPBES, yang dirilis Kamis (29/10).

Laporan tentang kaitan antara keanekaragaman hayati dan pandemi disusun oleh 22 peneliti internasional terkemuka yang terjun langsung di lapangan.

Read More

Berdasarkan laporan tersebut, diperkirakan ada 500.000 hingga 800.000 virus tak dikenal di alam liar yang dapat menginfeksi manusia dan menyebabkan pandemi baru yang lebih sangar dan mematikan.

Pakar ekologi penyakit asal Inggris, Dr. Peter Daszak, mengungkapkan dalam rilis itu bahwa saat ini umat manusia terlalu mengandalkan vaksin untuk pengendalian penyakit. Langkah pengobatan tergopoh-gopoh dilakukan setelah muncul penyakit baru.

Perburuan Vaksin COVID-19 Didominasi Negara Kaya

Era pandemi memang memungkinkan untuk dihindari, lanjut laporan tersebut, namun membutuhkan upaya yang signifikan untuk melakukan tindakan pencegahan.

Upaya melindungi keanekaragaman hayati, seperti memperluas kawasan (hutan) lindung dan menjaga agar eksploitasi sumber daya alam tidak sampai awur-awuran, akan sangat berperan dalam melestarikan keanekaragaman hayati, mengurangi perubahan iklim serta mencegah penyakit.

Misalnya saja, memperluas kawasan cagar alam akan mengurangi kontak antara satwa liar, ternak dan manusia. Dengan demikian, virus tak dikenal jenis baru cenderung tidak akan berpindah dari hewan ke manusia.

Sebagai informasi, sekitar 70 persen penyakit baru yang mengancam homo sapiens adalah penyakit dari hewan ke manusia atau zoonosis.

Karena itu, produksi hewan ternak secara besar-besaran, pembukaan lahan pertanian secara masif, penggundulan hutan hujan Amazon (juga hutan-hutan di Indonesia), dan berbagai bencana ekologi yang disebabkan oleh perubahan iklim seperti banjir, hujan lebat dan kebakaran hutan, semuanya akan meningkatkan resiko pandemi baru dalam waktu dekat.

Peternakan ayam berpotensi sebarkan flu burung jenis baru
(Hewan ternak pun berpotensi menyebarkan virus tak dikenal yang mematikan ke manusia. Seperti wabah flu burung yang pernah merebak beberapa waktu lalu. Foto : Reuters)

Ketika campur tangan manusia mengubah secara drastis wajah alam dan lingkungan di sekitarnya, maka aneka penyakit pun akan mengiringi.

Laporan International Panel on Nature juga memperkirakan sekitar 30 persen penyakit baru akibat virus tak dikenal yang ditemukan setelah tahun 1960 disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri. Perdagangan global satwa liar secara signifikan terbukti turut meningkatkan resiko tersebut.

Menurut Daszak, tujuan publikasi laporan bukanlah untuk menakut-nakuti.

“Tetapi untuk menggugah kesadaran pada kenyataan bahwa jika kita bertindak benar, kita masih dapat menekan resiko munculnya pandemi di masa depan,” ujarnya.

Perdagangan satwa liar
(Perdagangan global satwa liar turut berperan dalam penyebaran penyakit dari hewan ke manusia (zoonosis). Foto : Alert Conservation)

Harus ada keseimbangan antara pelestarian lingkungan dengan geliat ekonomi

Salah satu pesan penting dari laporan yang ditulis Daszak dkk adalah perlunya perspektif baru agar upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi.

Program Pengentasan Kemiskinan Berefek Signifikan pada Penurunan Laju Deforestasi

Upaya pelestarian lingkungan selama ini sering mengalami resistensi karena alasan ekonomi. Sebagai contoh, Pemerintahan Presiden Donald Trump memutuskan untuk hengkang dari Perjanjian Paris dengan dalih perjanjian tersebut malah menimbulkan beban ekonomi bagi Amerika Serikat.

Padahal tanpa keseimbangan, atau hanya memandang dari sudut ekonomi saja, justru akan berakibat fatal kedepannya.

Hal ini bisa dilihat dari fenomena global pandemi COVID-19. Merebaknya pandemi menjadi salah satu biang kemunduran ekonomi terbesar dalam sejarah yang pernah dialami umat manusia.

Laporan Nature Panel menyebutkan bahwa pandemi pada bulan Juli tahun ini telah menyebabkan kerugian global antara USD 8 triliun hingga 16 triliun.

Para ekonom mengatakan bahwa di Amerika Serikat saja, ada kemungkinan pandemi bahkan telah menimbulkan dampak negatif ekonomi senilai USD 16 triliun. Jumlah itu nyaris setara produk domestik bruto AS.

Dalam laporan tersebut, para pakar memperkirakan tindakan pencegahan akan menghemat biaya sekitar 100 kali dibanding dampak ekonomi dari gelombang wabah penyakit yang sama dengan pandemi COVID-19.

Apabila kalkulasi ini benar dan tindakan pencegahan efektif dilakukan, presentasi laporan dapat mengubah persepsi betapa saling terkaitnya hubungan antara kebijakan lingkungan dan ekonomi.

Pandemi menghancurkan ekonomi
(Upaya pencegahan tetaplah lebih murah dibanding upaya penanggulangan. Jalanan lenggang di Times Square New York akibat pandemi yang sudah merenggut ratusan ribu korban jiwa. Tak hanya AS, ekonomi di seluruh dunia luluh lantak diterjang pandemi COVID-19. Foto : EPA)

Walau Penangkapan Ikan Turun di Masa Pandemi, Spesies Langka Tetap dalam Bahaya Punah

Dikutip dari sebuah laman berita Finlandia, Menteri Lingkungan Hidup dan Iklim, Krista Mikkonen, mengatakan bahwa biaya pencegahan relatif jauh lebih kecil dibandingkan dengan dampak ekonomi global yang ditimbulkan pandemi.

“Virus corona telah menunjukkannya pada kita,” demikian pernyataan Mikkonen dalam rilis resmi kementeriannya.

Upaya mengendalikan pandemi

Dalam laporannya, IPBES mengemukakan beberapa cara pencegahan penyakit yang dapat dilakukan. Akan tetapi panel itu juga menekankan pentingnya mendengarkan (baca : melibatkan) sains dalam politik.

Beberapa upaya tersebut di antaranya :

  • Pembentukan dewan internasional : Sebuah dewan yang fokus pada pengendalian pandemi akan memberikan pemahaman ilmiah terbaik bagi para pembuat kebijakan tentang munculnya penyakit baru, wilayah beresiko tinggi dan menilai dampak ekonomi dari pandemi.
  • Menyusun perjanjian internasional untuk kepentingan manusia, hewan dan lingkungan.
  • Pembentukan lembaga nasional di tiap-tiap negara yang fokus pada pengendalian pandemi.
  • Membatasi konsumi berlebih produk pertanian dan perdagangan yang meningkatkan resiko pandemi. Misalnya, menaikkan pajak hewan ternak.
  • Membatasi perdagangan satwa liar internasional dan mengedukasi warga sekitar tentang resiko perdagangan satwa liar.
  • Memberikan akses pendidikan dan komitmen masyarakat lokal untuk pencegahan pandemi dan meningkatkan ketahanan pangan. (TON)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *