Jelang Hari Kemerdekaan, UM Kukuhkan Lima Guru Besar

Jelang Hari Kemerdekaan, UM Kukuhkan Lima Guru Besar

Rolasnews.com – Jelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Universitas Negeri Malang (UM) kembali mengukuhkan guru besar. Tak tanggung-tanggung, lima orang guru besar dikukuhkan dalam Sidang Senat Terbuka UM yang digelar di Gedung Graha Cakrawala UM, Kamis (11/8/2022).

Mereka adalah Prof. Dr. Dwi Agus Sudjimat ST, MPd Guru Besar Bidang Ilmu Tehnologi Pembelajaran Kejuruan, Prof. Drs. Burhanudin, M. ED, Ph.D, Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan, Prof. Drs. I Komang Astina MS, Phd Guru Besar bidang Ilmu Geografi Sosial; Prof.Dr.Ponimin MHum, Guru Besar bidang Penciptaan dan Pengkajian Seni, Fakuktas Sastra serta Prof. Dr. Eddy Sutadji MPd, Guru Besar Fakultas Tehnik.

Read More

Prof Dwi Agus Sudjimat dalam pidato ilmiahnya mengambil judul “Mencetak SDM Terampil dan Berkarakter melalui Implementasi Model IPjBL pada Pendidikan Vokasi di Era Industri 4.0”.

Dijelaskan Prof Agus, Model interdicipliner project-based learning (IPjBL) merupakan salah satu bentuk implementasi pendekatan interdisipliner (interdisciplinary approach). Yakni suatu pendekatan dalam pemecahan masalah-masalah kompleks  dengan menggunakan tinjauan berbagai sudut pandang ilmu serumpun yang relevan secara terpadu.

“Di samping mampu meningkatkan hard skills, implementasi model IPjBL juga potensial untuk mengembangkan soft skills,” jelasnya.

Menurutnya, dengan implementasi model IPjBL dalam pembelajaran bidang vokasi akan mampu mengembangkan keterampilan dan karakter kebekerjaan para lulusannya yang tidak saja siap menghadapi perubahan pekerjaan di era industri 4.0.

“Tetapi juga akan mengantarkan mereka menjadi SDM yang sukses, dapat eksis dan bekembang sesuai dengan dirupsi pekerjaan di era industri 4.0,” tandasnya.

Selanjutnya, Prof. Drs. Burhanudin, M. ED, Ph.D, mengusung judul “Mengembangkan Budaya Organisasi di dalam Memimpin Masa Depan Universitas”.

Dalam kajiannya, Burhanuddin menuliskan bahwa melimpahnya berbagai sarana, fasilitas, infrastruktur, dan SDM dengan berbagai tingkat jabatan fungsional maupun administratif, bukanlah berarti apa-apa apabila tidak dipimpin dengan baik melalui human empowerment terhadap segenap sumber daya yang dimiliki.

Menurutnya, tugas memimpin bukan lagi sekadar bagaimana mempengaruhi para anggota bekerja sesuai tujuan organisasi. Melainkan bagaimana proses penyaluran potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh para anggota agar mereka memberikan “dampak” terbaik bagi universitas.

“Temuan yang menarik adalah semakin kuatnya budaya organisasi yang dikembangkan. Maka semakin kuat pula pimpinan dalam mendorong anggotanya untuk menyukseskan program kerja melalui manajemen yang efektif.

Berikutnya, Prof. Drs. I Komang Astina MS, Phd, dalam pidato pengukuhannya mengambil judul “Perspektif Geografi dalam Kajian Kualitas Hidup Lansia”.

Dalam kajiannya, Komang menemukan beberapa permasalahan yang dihadapi lansia. Di antaranya adalah Empty Nest Syndrome atau perasaan kesepian maupun kesedihan yang dialami oleh orang tua ketika anak-anak mereka telah meninggalkan rumah (sepi). Perasaan tersebut membuat lansia merasa telah selesai membesarkan anaknya dan merasa sudah tidak berguna (sepah).

Selain itu, menurutnya salah satu permasalahan lansia berkaitan dengan ruang dan lingkungan hidup lansia adalah terkait dengan kualitas hidupnya. Kualitas hidup tersebut ditinjau dari pendapatan, perbelanjaan, keadaan tempat tinggal, kesehatan, dan tanggapan kualitas hidup lansia secara umum.

“Faktor yang dinilai ‘sepele’ tetapi merupakan faktor penting penentu kualitas hidup lansia adalah aktivitas rekreasi. Seperti home based recreation, yaitu menonton televisi di rumah, memelihara hewan kesayangan, membaca surat kabar, berkebun, menjahit, menyulam, dan melukis,” tandasnya.

Sementara itu Prof.Dr.Ponimin MHum, mengusung judul, “Penciptaan Seni Berbasis Potensi Lokal sebagai Penguat Eksistensi Artistik Kenusantaraan Era Global: Studi Kasus Penciptaan Seni Kriya”

Dikatakan Prof Ponimin, dalam metode kreatif dalam praktik seni kriya tradisi dan komunal, disebutkan bahwa berkesenian itu mengalir seperti air atau ‘tidak mencari kerumitan’. Ketercapaian alamiah menjadi penting dalam mencapai tujuan seni kriya.

Sementara, dalam metode kreatif konteks akademik, alur kerja akademik dalam penelitian kreatif penciptaan seni harus melalui tiga pengalam akademik dahulu. Di antaranya, menggali subjek sumber ide dan merumuskannya sebagai konsep penciptaan, mewujudkan konsep penciptaan menjadi karya, serta telaah hasil penciptaan seni kedalam bentuk naskah.

“Sehingga terciptalah karya seni monumental yang berbasis akademik melalui proses penelitian, kajian, kemudian dirumuskan konsepnya dan dieksplorasi. Setelah itu, diwujudkan dan dianalisis dengan pendekatan keilmuan lain yang terkait dengan tema garapan seninya. Kemudian, dipublikasikan di jurnal internasional atau nasional,” terang Ponimin.

Terakhir, Prof. Dr. Eddy Sutadji MPd, dalam pidato pengukuhannya, ia mengambil judul “Penerapan Asesmen Autentik Dalam Pembelajaran Ilmu Eksak dan Ilmu Sosial: Studi Kasus di Universitas Negeri Malang”.

Dari hasil penelitian yang dilakukannya, dapat disimpulkan bahwa hampir semua aspek asesmen autentik antara bidang ilmu eksak dan ilmu sosial tidak memiliki perbedaan. Yang berbeda hanyalah bentuk asesmen dan teknik penugasan individu.

Dalam pelaksanaan asesmen autentik pada bidang ilmu sosial lebih banyak menggunakan atau melakukan asesmen non tes jika dibandingkan dengan pelaksanaan asesmen autentik pada bidang ilmu eksak.

“Hasil selanjutnya adalah tes-tes terukur lebih banyak digunakan pada bidang ilmu eksak dengan menggunakan soal-soal High Order Thinking Skill. Serta, penugasan individu berupa pembuatan artikel lebih banyak digunakan pada bidang ilmu sosial,” pungkasnya. (ANC)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.