Kekurangan Vitamin D Dapat Picu Peradangan Kronis

Kekurangan Vitamin D Dapat Picu Peradangan Kronis

Rolasnews.com – Kadar vitamin D yang sangat rendah dapat berkontribusi terhadap peradangan yang berlangsung lama. Temuan ini muncul dari analisis data genetik dan kesehatan hampir 295.000 orang.

Penelitian yang dipimpin Ang Zhou dan Elina Hyppönen dari University of South Australia itu dipublikasikan di International Journal of Epidemiology.

Tim peneliti menganalisis data 294.970 peserta UK Biobank berlatar belakang keturunan Inggris kulit putih.

Mereka meneliti hubungan antara kadar vitamin D dalam darah dan C-reactive protein. Penanda yang biasanya meningkat saat terjadi peradangan.

Hal ini mengonfirmasi penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa orang dengan vitamin D rendah cenderung memiliki kadar penanda peradangan lebih tinggi. Namun, pola tersebut belum mampu menjelaskan mana yang menjadi penyebab.

Untuk memastikan arah hubungan, peneliti menggunakan metode Mendelian randomization. Metode ini memanfaatkan perbedaan genetik yang memengaruhi kadar vitamin D agar pengaruh faktor lain seperti pola makan, paparan sinar matahari, atau kondisi kesehatan yang sudah ada dapat dipisahkan.

Hasil analisis menunjukkan hubungan paling kuat terjadi pada orang yang mengalami defisiensi vitamin D.

Prediksi genetik kadar vitamin D yang lebih tinggi berkaitan dengan kadar penanda peradangan yang lebih rendah, tetapi hanya pada rentang defisiensi. Setelah kadar vitamin D naik di atas ambang tersebut, pola hubungan menjadi datar.

Baca Juga:

Waspadai 5 Tanda Kekurangan Vitamin D

Para peneliti juga menguji hubungan sebaliknya. Tidak ditemukan bukti genetik bahwa kadar C-reactive protein yang tinggi menyebabkan vitamin D menurun. Hasil studi ini memperkuat interpretasi bahwa defisiensi vitamin D dapat berkontribusi terhadap peradangan.

Studi ini bukan uji coba pemberian suplemen. Estimasi efek berasal dari analisis genetik, sehingga tidak dapat menentukan dosis suplemen atau kecepatan dampaknya.

Selain itu, metode ini bergantung pada asumsi tertentu, dan keterbatasan latar belakang peserta membuat temuan belum tentu berlaku untuk populasi lain. Satu penanda darah juga tidak menggambarkan seluruh aktivitas sistem imun.

Hasil penelitian ini memberi penjelasan yang lebih terfokus atas temuan campuran dalam studi vitamin D sebelumnya bahwa kadar awal ternyata penting. Uji klinis yang difokuskan pada orang dengan defisiensi dapat membantu memastikan apakah perbaikan kadar vitamin D mampu menurunkan peradangan dan memberi manfaat kesehatan yang berarti.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *