Rolasnews.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur (Jatim) mencatat inflasi month-to-month (mtm) sebesar 1,43 persen pada Mei 2026. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi bulanan April yang hanya 0,02 persen.
Pelaksana Tugas Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, menyatakan Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Jawa Timur pada Mei 2026 berada di level 111,83. Secara year-on-year (yoy), inflasi tercatat 3,49 persen, sementara inflasi year-to-date (ytd) mencapai 1,43 persen.
“Terjadi kenaikan IHK dari 108,06 pada Mei 2025 menjadi 111,83 pada Mei 2026,” kata Herum dalam konferensi pers di Surabaya, Selasa (2/6/2026).
Inflasi Mei 2026 di Jawa Timur terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta transportasi.
Komoditas penyumbang terbesar meliputi:
- Angkutan udara (inflasi 5,04 persen, andil 0,07 persen)
- Minyak goreng (inflasi 3,96 persen, andil 0,05 persen)
- Bawang merah (inflasi 11,5 persen, andil 0,05 persen)
- Cabai rawit dan cabai merah (masing-masing andil 0,04 persen)
- Beras, laptop/notebook, bahan bakar rumah tangga, dan air kemasan.
Kenaikan harga pangan disebabkan terbatasnya pasokan akibat faktor cuaca, sementara angkutan udara terdorong peningkatan permintaan.
Beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga sehingga meredam laju inflasi. Di antaranya adalah emas perhiasan (deflasi 3,09 persen), telur ayam ras (deflasi 6,16 persen), daging ayam ras, dan bawang putih.
Dari 11 kota yang dipantau BPS Jatim, seluruhnya mengalami inflasi. Tertinggi terjadi di Surabaya (0,37 persen), sementara terendah di Probolinggo (0,03 persen). Kota Malang tercatat inflasi 0,18 persen.
BPS menilai inflasi Jawa Timur pada Mei 2026 masih dalam kategori terkendali, meski menunjukkan akselerasi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memantau pasokan komoditas strategis menjelang musim kemarau.






