Kepolisian Jepang Waspadai Potensi Unjuk Rasa Menolak Olimpiade Berujung Kekerasan

  • Whatsapp
Kepolisian Jepang Waspadai Potensi Unjuk Rasa Menolak Olimpiade Berujung Kekerasan
(Unjuk rasa menolak olimpiade tepat sebulan sebelum pembukaan Olimpiade Tokyo 2020. Photo Courtesy : Bloomberg)
Rolasnews.com – Pihak keamanan Jepang bersiap siaga menghadapi kemungkinan eskalasi berujung kekerasan dari berbagai demonstrasi menentang diselenggarakannya olimpiade. Aksi unjuk rasa menolak Olimpiade Tokyo 2020 dilakukan karena khawatir hajatan olahraga terbesar sejagad itu bisa menjadi kluster baru penyebaran COVID-19.

Departemen Kepolisian Metropolitan Tokyo tengah menyelesaikan persiapan keamanan untuk venue olimpiade dan kawasan-kawasan di sekitarnya. Mereka sudah lama mempersiapkan diri menyambut olimpiade, termasuk mengadakan latihan anti-terorisme dan anti-huru hara.

Untuk mendukung persiapan tersebut, personel pendukung departemen kepolisian dari 16 perfektur telah tiba di ibukota pekan ini.

Read More

Sebelumnya, pihak penyelenggara menyatakan akan menggelar olimpiade yang berlangsung mulai 23 Juli hingga 3 Agustus 2021 itu hanya untuk penonton domestik.

Pada 21 Juni lalu, pihak penyelenggara juga memutuskan hanya mengijinkan maksimal 10.000 penonton untuk hadir di stadion berkapasitas besar.

Namun banyak anggota masyarakat yang bersikeras menghendaki agar seluruh pertandingan diadakan secara tertutup tanpa penonton. Atau bahkan sekalian dibatalkan saja.

Penolakan untuk menyelenggarakan olimpiade masih terus disuarakan sebagian warga Jepang. Beberapa di antaranya menunjukkan kemarahan dalam berbagai aksi demonstrasi beberapa pekan terakhir.

Sekelompok masyarakat sipil melakukan protes anti-olimpiade di dekat Gedung Pemerintah Metropolitan Tokyo pada 23 Juni atau sebulan menjelang pembukaan olimpiade. Lebih dari 400 orang terlibat dalam aksi unjuk rasa tersebut.

“Jumlah itu (pengunjuk rasa, red), lebih banyak dari yang kami perkirakan,” kata salah seorang pejabat senior kepolisian.

Departemen Kepolisian Metropolitan Tokyo telah meningkatkan kesiagaan karena beredar kabar demonstrasi besar-besaran akan digelar tanggal 23 Juli, tepat di hari pembukaan olimpiade.

Polisi siaga jelang olimpiade
(Pihak keamanan Jepang meningkatkan kesiagaan menghadapi kemungkinan unjuk rasa menolak olimpiade berujung pada tindak kekerasan. Photo Courtesy : Getty Images)

Baca Juga :

Jepang Rilis Panduan Lebih Ketat untuk Kamp Latihan Atlet Asing di Olimpiade

Dikutip dari Jiji Press, seorang pemerhati keamanan memperingatkan bahwa pengunjuk rasa bisa saja terlibat bentrok fisik dengan aparat dalam upaya mereka menuntut pembatalan Olimpiade Tokyo.

Sedangkan pakar keamanan internasional, Daiju Wada, yang mengajar di Universitas Seiwa di Prefektur Chiba, menyoroti kemungkinan terjadinya kegiatan terorisme yang memanfaatkan sentimen anti-olimpiade.

“Pandemi membelah masyarakat. Karena sentimen publik terhadap olimpiade sangat kuat, bisa saja terjadi kekerasan liar yang bertujuan membatalkan penyelenggaraan olimpiade,” kata Wada.

Ia menambahkan, warga sebaiknya menghindari tempat-tempat kerumunan yang cenderung menjadi sasaran serangan kekerasan yang dilakukan secara acak.

“Meski jika ada upaya preventif anti-terorisme, tak akan ada gunanya kecuali orang-orang menyadari akan bahaya terorisme,” wantinya.

Sektor publik dan swasta perlu bekerjasama. Dan informasi apa pun terkait potensi munculnya aksi kekerasan, harus segera disebarluaskan, tandas Wada. (TON)

Related posts

Link Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *