Masuk Sumber Daya Tak Terbarukan, Ilmuwan Ingatkan Penggunaan Pasir yang Berkelanjutan

  • Whatsapp
Masuk Sumber Daya Tak Terbarukan, Ilmuwan Ingatkan Penggunaan Pasir yang Berkelanjutan
(Meski melimpah, pasir sebenarnya termasuk sumber daya alam yang terbatas dan tak terbarukan. Photo Courtesy : iStock Photo)
Rolasnews.com – Meski eksploitasinya tak semassif penambangan minyak atau batubara, sejumlah ilmuwan mengingatkan para pembuat kebijakan di tiap-tiap negara untuk memikirkan implikasi keberlanjutan dari penggunaan pasir secara berlebihan. Pasalnya, pasir termasuk sumber daya alam tak terbarukan yang sangat berharga. Penggaliannya secara tak terkontrol akan menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup besar.

Sekilas, pasir seolah sumber daya alam tak terbatas. Hampir setiap negara memiliki sumber-sumber pasir yang amat melimpah. Akan tetapi kegunaannya sebagai bahan utama beton dan kaca, membuat pasir terus dieksploitasi secara besar-besaran untuk membangun jalan, jembatan hingga jendela dan layar ponsel.

Pasir untuk pembangunan konstruksi
(Pengecoran untuk pembangunan konstruksi dan jalan membutuhkan pasir dalam jumlah amat banyak. Photo Courtesy : Pinterest)

Dalam makalah yang dipublikasikan di jurnal ilmiah One Earth akhir pekan lalu, para ilmuwan yang menulisnya berpendapat bahwa kebutuhan ekonomi global akan pasir merusak lingkungan, mempercepat perubahan iklim dan bahkan bisa memicu konflik sosial.

Read More

“Dengan makalah ini, kami berupaya menunjukkan apa yang perlu kita lakukan sebagai masyarakat untuk mempromosikan penggunaan berkelanjutan atas sumber daya pasir global,” kata penulis utama Aurora Torres dalam rilisnya.

Mengingat krusialnya masalah ini, Torres menambahkan, maka dibutuhkan pula solusi yang menyeluruh demi menciptakan upaya penggunaan pasir yang lebih berkelanjutan.

Torres sendiri merupakan peneliti di Pusat Integrasi dan Keberlanjutan di Universitas Michigan, AS.

Meski tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan tentang keberlanjutan yang terkait dengan penggunaan pasir secara global, para peneliti berharap apa yang mereka lakukan dapat mengilhami munculnya solusi atas permasalahan tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan pembangunan tanpa membebani sumber daya alam di planet ini, ilmuwan menyarankan perlunya reformasi kebijakan yang signifikan.

Vietnam terancam kelangkaan pasir
(Vietnam adalah salah satu negara yang terancam mengalami kelangkaan pasir akibat eksploitasi berlebihan serta pesatnya pembangunan di negara itu. Photo Courtesy : AFP)

20 Persen Sumur Air Tawar di Dunia Terancam Mengering

Sementara untuk memberikan gambaran umum mengenai banyaknya masalah lingkungan dan sosial ekonomi yang disebabkan oleh penambangan pasir, penulisan makalah tersebut juga mengundang para pakar dari berbagai disiplin ilmu.

“Kolaborasi memungkinkan penelitian dapat merangkai potongan-potongan puzzle menjadi satu gambaran penuh,” demikian rilis makalah itu.

Ketimbang hanya fokus pada titik-titik penambangan, yang dilakukan oleh banyak studi sebelumnya, para peneliti mengarahkan perhatiannya pada “dimensi fisik dan sosial lingkungan dari jaringan penyuplai pasir”.

Penambangan pasir
(Penambangan pasir besar-besaran selain merusak lingkungan juga sering menimbulkan masalah sosial ekonomi. Photo Courtesy : Pixabay)

Hal ini memungkinkan mereka mengeksplorasi hubungan antara penambangan pasir, pemrosesan, distribusi, faktor ekonomi serta kebijakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tekanan jaringan ini pada alam dan manusia.

Untuk studi tersebut, para ilmuwan mengadopsi cara kerja telecoupling. Telecoupling sendiri merupakan upaya untuk mengetahui dampak dari interaksi sosial, ekologi dan ekonomi pada gabungan sistem alam-manusia di satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Dengan menggabungkan cara kerja tersebut dengan apa yang disebut analisis aliran material, para peneliti dapat mengidentifikasi jangkauan penuh dampak lingkungan dan sosial ekonomi yang disebabkan penambangan pasir – dari lokasi penggalian seperti sungai, tambang, hingga konsumsinya yang massif di kota-kota – serta berbagai sarana transportasi yang digunakan untuk mengangkutnya.

Protes penambangan pasir liar
(Penambangan pasir liar secara ugal-ugalan sering kali berujung pada penolakan keras oleh warga sekitar. Photo Courtesy : ANTARA)

“Tak bisa tantangan keberlanjutan yang kompleks ini hanya dilihat dari sudut pandang yang sederhana,” kata penulis lainnya, Jianguo “Jack” Liu, direktur di Pusat Integrasi dan Keberlanjutan di Universitas Michigan, AS.

“Cara baru seperti telecoupling membantu mengurai dan merangkum kompleksitas tantangan penggunaan pasir secara global serta menunjukkan jalan menuju solusi yang efektif,” terangnya.

PBB Peringatkan Perubahan Iklim Sebabkan Lebih Banyak Bencana Tiap Tahun

“Jack” Liu dan rekan-rekannya di penulisan makalah tersebut juga mempertimbangkan proses geologi – termasuk deposit, aliran dan pola akumulasinya – yang berkaitan dengan keseluruhan konstruksi yang paling penting.

Selain menambang pasir dan kerikil yang terbentuk secara alami, beberapa perusahaan penambang pasir ternyata juga meledakkan serta menghancurkan bebatuan untuk memenuhi demand dari perusahaan-perusahaan konstruksi.

Penghancuran bukit batu untuk mendapatkan pasir
(Bukit batu pun dihancurkan demi mendapatkan pasir dan kerikil untuk pembangunan konstruksi. Photo Courtesy : Wisconsin Geological and Natural History)

Para ekonom memperkirakan permintaan pasir untuk pembangunan konstruksi akan berlipat ganda dalam beberapa dekade mendatang. Untuk mengatasi masalah lingkungan yang diakibatkannya, para ilmuwan menganjurkan ditemukannya solusi secepat mungkin.

Dalam makalah itu, para penulis menyerukan pendekatan multi aspek untuk penggunaan pasir yang berkelanjutan.

Menurut mereka, kebijakan diperlukan untuk mengurangi penggunaan material dan mendorong pembangunan yang lebih terpadu. Misalnya, reformasi untuk menunjang pasar konstruksi dan penghancuran limbah.

“Sama halnya dengan perubahan iklim, tak ada solusi tunggal. Tetapi banyak cara untuk pemanfaatannya (pasir) yang lebih berkelanjutan,” tegas Torres. (TON)

Related posts

Link Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *