Perdagangan Satwa Liar Banyak Terjadi Dari Negara Miskin Ke Negara Maju

  • Whatsapp
Perdagangan Satwa Liar Banyak Terjadi Dari Negara Miskin Ke Negara Maju
(Monyet dari berbagai jenis adalah salah satu spesies yang banyak menjadi obyek perdagangan satwa liar. Photo Courtesy : Freepik)
Rolasnews.com – Ketimpangan global  yang terjadi saat ini bukan hanya disebabkan oleh masalah membludaknya populasi manusia. Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa perdagangan satwa liar juga turut menjadi penyebab utama kekacauan dan ketimpangan global. Bukan hanya berpengaruh pada keseimbangan ekosistem saja, namun perdagangan satwa liar yang sulit dikendalikan juga berperan besar terhadap penyebaran virus dan penyakit mematikan yang banyak melanda dunia saat ini.

Penelitan yang telah diterbitkan dalam Science Advance menemukan bahwa hewan liar lebih mungkin diperdagangkan dari negara miskin ke negara kaya, dan penemuan ini bisa menjadi  kunci untuk memerangi lalu lintas perdagangan satwa liar  yang  dapat membahayakan spesies yang terancam punah dan kesehatan masyarakat.

“Temuan kami menunjukkan bahwa kebijakan internasional untuk mengurangi perdagangan satwa liar global harus mengatasi ketidaksetaraan antara negara anggota penandatangan,” ungkap peneliti.

Read More

Perdagangan satwa liar adalah penyebab utama hilangnya keanegaragaman hayati. Tidak hanya menghilangkan spesies dari ekosistem mereka pada tingkat yang tidak berkelanjutan, tetapi  juga beresiko memasukkan spesies invasif ke lingkungan baru dan membawa penyakit seperti jamur chytrid ke populasi baru.

Ancaman saat ini yang juga menjadi masalah bagi seluruh umat manusia adalah bahwa perdagangan satwa liar telah dikaitkan dengan munculnya pandemi virus corona.

Cecropia peltata
(Cecropia peltata adalah sejenis pohon yang digolongkan sebagai spesies invasif. Pohon yang berasal dari daratan Amerika ini ditemukan sudah ada di wilayah Indonesia. Mengingat potensinya yang berbahaya bagi lingkungan karena pertumbuhannya yang sangat cepat sehingga dapat menurunkan produktivitas tanaman lokal, otoritas negara dan penduduk disarankan melakukan tindakan pencegahan agar spesies ini tidak berkembang tak terkendali dan meng”invasi” spesies asli. Photo Courtesy : Wikipedia)

Untuk lebih memahami masalah ini, penelitian ini menggunakan data dari Convention On Internasional Trade In Endangered Species Of Wild Fauna and Flora (CITES) yang mengatur perdagangan di tingkat internasional.

Dilansir phys.org, penulis penelitian  yang berbasis di Hongkong dan Singapura membandingkan  data CITES  tentang penjualan hewan liar internasional dengan informasi sosial ekonomi negara-negara yang terlibat.

Mereka menemukan sekitar 420 juta hewan liar diperdagangkan oleh 226 negara dari tahun 1998 hingga tahun 2018. Hewan-hewan ini kemungkinan besar diperdagangkan dari negara miskin ke negara kaya. Misalnya seperti dilaporkan BBC News, katak liar bisa diperdagangkan dari Madagaskar ke AS, sedangkan ikan yang ditangkap di Thailand dikirim ke Hongkong.

Secara keseluruhan, AS adalah importir hewan liar numero uno alias no. 1. Diikuti Prancis dan Italia di urutan kedua dan ketiga. Indonesia, Jamaika, dan Honduras adalah pengekspor terbesar berdasarkan negara, sementara sebagian besar hewan liar di pasar berasal dari Asia atau wilayah Panama.

Bayi orang utan di black market
(Bayi orang utan yang kerap diperdagangkan di pasar gelap internasional. Photo Courtesy : WCS Wildlife Crimes Unit)

Dengan ditemukannya skala perdagangan yang sangat besar tersebut,  muncul sebuah solusi yang diungkapkan oleh penulis utama Jia Huan Liew dari Universitas Hongkong.

Liew berpendapat bahwa negara-negara pengekspor yang lebih miskin harus diberi bantuan keuangan untuk menghentikan perdagangan selama jangka waktu tertentu. Uang hanya akan disediakan jika negara bersedia memenuhi target pengurangan perdagangan satwa liar. Mengingat memberantas perdagangan satwa liar ilegal butuh dana yang tidak sedikit.

“Pendanaan idealnya akan diambil dari negara-negara kaya, mengingat komitmen mereka pada tujuan pembangunan berkelanjutan PBB (SDG), dan fakta bahwa mereka memainkan peran besar yang tidak proporsional dalam pasar satwa liar global,” kata Liew pada BBC News.

Perubahan Iklim Picu Inang Virus Corona Migrasi ke Berbagai Wilayah

Penemuan ini muncul pada momen penting di era perubahan (new normal), karena dunia telah menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh perdagangan satwa liar setelah munculnya pandemi virus corona. Hal ini menyebabkan larangan sementara perdagangan dan konsumsi hewan liar di China.

“Untuk menghindari kembali ke bisnis perdagangan satwa liar seperti biasa, kita harus memanfaatkan kesadaran publik tentang kemungkinan konsekuensi mengkonsumsi produk satwa liar guna mengurangi permintaan, dan membuat larangan China atas konsumsi satwa liar menjadi permanen,” lanjut  Liew.

Perdagangan satwa liar untuk konsumsi
(Kebiasaan mengkonsumsi satwa liar disinyalir menjadi penyebab utama merebaknya pandemi global, termasuk COVID-19. Photo Courtesy :

Sejatinya hewan dan tumbuhan memang diciptakan untuk melengkapi kehidupan manusia. Namun keserakahan dan pemanfaatan hewan dan tumbuhan yang tidak semestinya akan berdampak buruk bagi keberlangsungan kehidupan manusia itu sendiri. Perubahan iklim, kerusakan lingkungan, punahnya banyak spesies langka, munculnya berbagai penyakit dan pandemi seperti yang terjadi saat ini sudah seharusnya menyadarkan kita semua untuk melaksanakan tugas sebagai penjaga alam ini.

Karena itu stop perdagangan hewan liar, lestarikan alam, dan jaga keseimbangan lingkungan  demi kehidupan yang lebih baik di masa depan. (AZP)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *