Rolasnews.com – Populasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis dan kerabatnya) di sungai-sungai Jakarta kini mendominasi hingga 80-90 persen biomassa ikan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai gencar menjaring ribuan ekor ikan invasif ini. Di sisi lain, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah merevisi aturan untuk membendung ancaman yang lebih luas.
Spesies asal Sungai Amazon ini, yang dulu populer sebagai ikan hias akuarium, kini menjadi momok bagi ekosistem perairan nasional. Termasuk potensi penyebaran ke sungai-sungai di wilayah Jawa Timur seperti Kali Surabaya.
Menurut data penangkapan massal yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta pada pertengahan April 2026, petugas berhasil menjaring 68.800 ekor ikan sapu-sapu dengan total bobot 6,9 ton hanya dalam satu hari operasi serentak di lima wilayah kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan kebijakan ini untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu yang bersifat invasif.
“Ikan ini sudah mendominasi 60-90 persen populasi biota air. Kalau dibiarkan, dia akan merusak tanggul sungai dan mengganggu keseimbangan ekosistem,” terangnya.

Berawal dari Ikan Hias
Ikan sapu-sapu masuk ke Indonesia pada era 1990-an melalui perdagangan ikan hias. Banyak pemilik akuarium yang melepasnya ke sungai, kanal, dan danau ketika ikan ini tumbuh terlalu besar.
Kini, spesies ini tercatat sebagai jenis ikan asing invasif (JAI) berdasarkan Peraturan Menteri KP No. 19 Tahun 2020. Kemampuannya bertahan di air tercemar dengan kadar oksigen rendah dan limbah organik tinggi membuatnya unggul dibandingkan ikan asli seperti nila, lele lokal, atau ikan-ikan kecil.
Pakar perikanan dari IPB University, Charles PH Simanjuntak, menjelaskan sifat invasifnya yang ekstrem.
“Ikan ini memiliki reproduksi super cepat: betina bisa menghasilkan ribuan telur per siklus, memijah sepanjang tahun, dan jantan merawat sarang dengan menggali lubang horizontal di tebing sungai hingga lebih dari satu meter. Tanpa predator alami di sini, populasinya bisa melonjak 24 kali lipat dalam 15 tahun,” jelasnya.

Dampak ekologisnya sudah terlihat jelas. Sebagai pemakan dasar (bottom feeder), ikan sapu-sapu menghabiskan algae, detritus, bahkan telur ikan asli. Ia bersaing ketat untuk makanan dan ruang hidup, sehingga biodiversitas perairan menurun drastis.
Parahnya lagi, lubang sarangnya menyebabkan erosi tebing sungai, pendangkalan, dan risiko banjir lebih tinggi. Nelayan lokal juga sering mengeluh jaring rusak akibat duri siripnya yang keras.
Baca Juga:
Banjir Sumatra Ancam Populasi Orangutan
Populasi Harimau Sumatra Kembali Tumbuh
Di tingkat nasional, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat ikan ini tidak hanya merusak rantai makanan, tapi juga menjadi indikator sekaligus pemicu degradasi kualitas air.
“Penyebarannya cepat dan efektif, dengan dampak negatif ekologis, ekonomi, dan sosial,” kata Peneliti BRIN Triyanto.
Di Jakarta saja, populasi ini sudah mencapai level mengkhawatirkan di Sungai Ciliwung dan kanal-kanal urban.
Upaya pengendalian kini menjadi prioritas. KKP sedang merevisi Permen KP No. 19/2020 agar lebih aplikatif, termasuk penguatan larangan pelepasan spesies asing ke perairan terbuka.
Bukan untuk Konsumi Manusia
Pakar IPB merekomendasikan pendekatan terpadu: pencegahan melalui edukasi masyarakat, penangkapan massal yang berkelanjutan (khususnya ukuran juvenil), serta kontrol biologis dengan memanfaatkan predator alami seperti ikan baung atau betutu.
Hasil tangkapan tidak boleh dibuang begitu saja. Direkomendasikan diolah menjadi pupuk organik cair atau tepung pakan ternak. Bukan untuk konsumsi manusia.
KKP dan pakar kesehatan menyatakan ikan sapu-sapu dari perairan lokal tidak layak dimakan. Habitatnya yang tercemar membuatnya menjadi bioakumulator racun. Kandungan logam berat seperti merkuri, kadmium, timbal, dan arsenik sering melebihi ambang batas aman BPOM.
“Residu ikan sapu-sapu rata-rata sudah di atas 0,3—berbahaya sekali,” tegas Pramono Anung.

Dokter dan peneliti kesehatan menambahkan risiko infeksi parasit, bakteri (seperti E. coli dan Salmonella), serta gangguan jangka panjang: kerusakan ginjal, hati, saraf, hingga peningkatan risiko kanker. Anak-anak, ibu hamil, dan lansia paling rentan. Bahkan setelah dimasak matang, zat beracun sulit hilang sepenuhnya.
“Masyarakat jangan nekat mengonsumsinya. Dampaknya tidak langsung terasa, tapi bisa menimbulkan masalah kesehatan kronis,” imbau pakar dari IPB.
Di Jawa Timur, termasuk Kali Surabaya, ikan sapu-sapu sudah tercatat mendominasi tangkapan sejak lebih dari satu dekade lalu. Lonjakan populasi di ibu kota bisa menjadi sinyal dini bagi daerah lain. Tanpa pengendalian holistik, mulai dari regulasi ketat, restorasi habitat, hingga kesadaran masyarakat, ancaman ini berpotensi merembet lebih luas, mengancam ketahanan pangan nelayan lokal dan kesehatan publik.
Pemerintah dan pakar sepakat: perang melawan ikan sapu-sapu bukan hanya soal menjaring ikan. Melainkan menjaga keseimbangan alam yang telah rusak akibat ulah manusia sendiri. Setiap pelepasan ikan hias ke sungai berarti menambah bom waktu ekologis baru. (TON)







