Rolasnews.com – Banjir dan longsor besar yang melanda wilayah Batang Toru, Sumatra Utara, pada akhir November lalu, menjadi “gangguan level kepunahan” bagi populasi orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang terancam punah. Hal ini disampaikan para ilmuwan pada Jumat (12/12/2025).
Spesies yang baru diklasifikasikan secara ilmiah pada 2017 ini merupakan orangutan paling langka di dunia. Populasinya kurang dari 800 ekor di alam liar dan hanya tersebar di kawasan kecil di Sumatra.
Konservasionis melaporkan satu individu orangutan Tapanuli yang diduga mati telah ditemukan di wilayah terdampak.
“Kehilangan satu orangutan saja sudah menjadi pukulan telak bagi kelangsungan spesies ini,” kata Panut Hadisiswoyo, pendiri dan ketua Pusat Informasi Orangutan Indonesia.
Analisis citra satelit dikombinasikan dengan data sebaran orangutan menunjukkan bahwa banjir yang menewaskan hampir 1.000 orang itu juga menghancurkan habitat satwa liar di kawasan Batang Toru.
Fokus utama adalah Blok Barat, habitat paling padat yang sebelumnya diperkirakan menampung 581 ekor orangutan.
“Kami memperkirakan 6–11 persen orangutan di Blok Barat kemungkinan besar tewas akibat bencana ini,” ujar Erik Meijaard, konservasionis orangutan berpengalaman.
“Mortalitas dewasa yang melebihi satu persen saja sudah mendorong spesies menuju kepunahan. Apalagi dengan populasi sekecil ini,” imbuhnya.
Citra satelit menunjukkan deforestasi besar-besaran di lanskap pegunungan. Beberapa di antaranya membentang lebih dari satu kilometer dengan lebar hampir 100 meter.
Arus lumpur, pohon, dan air yang menerjang dari lereng gunung menghanyutkan segala sesuatu di jalurnya, termasuk satwa lain seperti gajah.

David Gaveau, pakar penginderaan jauh dan pendiri The Tree Map, mengaku terkejut melihat perbandingan sebelum dan sesudah bencana.
“Selama 20 tahun memantau deforestasi di Indonesia dengan satelit, saya belum pernah melihat kerusakan sebesar ini,” katanya.
Habitat Semakin Rentan
Kerusakan diperkirakan menghancurkan lebih dari sembilan persen habitat Blok Barat. Sumber pakan dan tempat berlindung hilang, membuat orangutan yang tersisa semakin rentan.
Dalam draf makalah yang akan dipublikasikan sebagai pre-print dalam beberapa hari ke depan, para ilmuwan memperingatkan bahwa banjir Sumatra ini merupakan “gangguan level kepunahan” bagi orangutan Tapanuli.
Aktivis lingkungan lama menentang aktivitas industri di Batang Toru, terutama pembangunan bendungan hidroelektrik dan tambang emas.
Habitat dataran tinggi yang kini ditempati orangutan bukanlah habitat ideal mereka, melainkan tempat terakhir yang tersisa setelah pengembangan di dataran rendah.
🇮🇩 Fears are growing for the world’s rarest apes after the devastating landslides and floods in north Sumatra.
In the Batang Toru forests, where Tapanuli orangutans are normally seen and heard, conservation teams say the forest has fallen silent since Cyclone Senyar hit on 25… pic.twitter.com/iLqDWnPye0
— Volcaholic 🌋 (@volcaholic1) December 12, 2025
Awal bulan ini, pemerintah Indonesia menyatakan bahwa perkebunan industri, pembangkit listrik tenaga air, dan tambang emas di kawasan itu “berkontribusi besar terhadap tekanan lingkungan”.
Pemerintah kemudian mengumumkan penangguhan sementara izin operasi semua proyek di wilayah tersebut untuk ditinjau ulang.
Pemerintah Indonesia dan aktivis lingkungan sepakat bahwa deforestasi memperparah skala bencana banjir. Studi yang dirilis juga menyebutkan hujan ekstrem akibat krisis iklim serta pemanasan laut yang memperkuat badai turut berperan.
Para ahli orangutan mendesak penghentian segera semua pembangunan yang merusak habitat tersisa, survei mendesak di wilayah terdampak, perluasan kawasan lindung, serta restorasi hutan dataran rendah.
Panut Hadisiswoyo menuturkan kawasan itu kini terasa sunyi setelah longsor.
“Habitat rapuh dan sensitif di Blok Barat ini harus dilindungi sepenuhnya dengan menghentikan semua pembangunan yang merusak habitat,” tegasnya. (TON)







