Wujudkan Kampus Eco Green, Pembangunan PLTS di ITN Malang Mulai Dikerjakan

Wujudkan Kampus Eco Green, Pembangunan PLTS di ITN Malang Mulai Dikerjakan
(Rektor ITN Malang, Prof Abraham Lomi, menjelaskan terkait pembangunan PLTS di kampusnya. Photo Courtesy : ANC/Rolasnews)
Rolasnews.com – Bekerjasama dengan PT Wijaya Karya (WIKA) Persero dan PT Surya Utama Nuansa (Sun) Energy, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang kini tengah mengembangkan renewable energy berupa proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Berlokasi di Kampus 2, pengerjaan pembangunan PLTS di ITN tersebut rencananya akan dikerjakan selama 3-4 bulan.

“Hari ini ITN bersama WIKA dan SUN melakukan groundbreaking pemasangan panel surya berkapasitas 500 KWP untuk memenuhi kebutuhan listrik di kampus 2 ITN,” ujar Rektor ITN Malang, Prof. Dr. Ir. Abraham Lomi, MSEE, Jumat (5/3).

Menurutnya, pembangunan PLTS tersebut sejalan dengan program pemerintah yang menginginkan bahwa di tahun 2025 yang akan datang, kebutuhan energi nasional 33 persen harus berasal dari renewable energy.

Read More

Banyak regulasi yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah sehingga perlu didukung oleh upaya-upaya implementasi untuk mewujudkan renewable energy.

“Walaupun dikatakan kurang kompetitif, tapi kebutuhan dunia sekarang tentang renewable energy terus dikembangkan. Kami saat ini menjadi perguruan tinggi kedua di Indonesia setelah Institut Teknologi Sumatera (ITERA) dan yang pertama di Jawa yang saat ini mengembangkan renewable energy berupa PLTS,” terangnya.

“Untuk pembangunan PLTS tersebut kami sudah menyiapkan lahan seluas 0,5 hektar,” sebutnya.

Lebih lanjut Prof Lomi mengatakan, kedepannya ITN memiliki progam untuk membuka wisata teknologi berupa edukasi center, sehingga mahasiswa dari perguruan tinggi mana saja boleh datang kesini untuk belajar.

Terlebih menurut Lomi pihaknya memiliki jaringan yang bagus dengan kepala daerah di Indonesia bagian Timur yang notabene mereka banyak memasang solar panel. Namun sayangnya mereka masih kesulitan dalam mengoperasikan dan melakukan perawatan sehingga banyak PLTS yang mangkrak.

“Dengan proyek PLTS ini di ITN, kami akan menawarkan pelatihan manajemen energinya. Jadi staf-staf yang bertanggungjawab mengoperasikan PLTS di sana kita undang untuk dilatih di sini,” ungkapnya.

Karena itu pihaknya berharap penggunaan energi terbarukan tersebut betul-betul akan mampu mewujudkan suatu kampus tekonolgi yang Eco Green yang memunculkan nuansa energi terbarukan.

Groundbreaking pembangunan PLTS di ITN Malang
(Proses groundbreaking pembangunan PLTS di ITN Malang. Photo Courtesy : ANC/Rolasnews)

Mahasiswa ITS Gagas Penggunaan Thorium sebagai Bahan Bakar PLTN

Sementara itu perwakilan direksi PT SUN, Reynaldi Wijaya mengatakan, untuk skala kampus, PLTS ITN ini terbesar kedua di Indonesia dan terbesar pertama di Pulau Jawa.

Menurutnya pembangunan PLTS tersebut bisa terlaksana atas kerjasama antara tiga pihak yakni kampus ITN, WIKA dan SUN. Nantinya mereka akan bekerjasama selama 25 tahun, dimana seluruh investasinya tidak ditanggung oleh ITN tapi ditanggung oleh SUN.

“Jadi ITN tidak mengeluarkan biaya apapun, tapi hanya mengeluarkan biaya operasionalnya saja. Dimana nanti pada akhir tahun ke-25, kita serahterimakan semuanya ke ITN,” terangnya.

Reynaldi menambahkan, untuk perawatan akan dilakukan oleh WIKA bekerjasma dengan civitas akademika termasuk mahasiswa.

Lebih lanjut, perwakilan PT WIKA, Harum Akhmad Zuhdi, berharap supaya pembangunan PLTS di ITN bisa menjadi percontohan.

“Sebelum ITN, beberapa waktu lalu kita sudah mulai di ITERA dengan spirit yang sama. Artinya kita ingin rangkul para mahasiswa bahwa renewable energy ini memang milik kita, karena negara Indonesia memiliki semua potensi renewable energy, mulai dari matahari, pegunungan, angin dan laut,” ucapnya.

Tapi kalau semua potensi tersebut tidak bisa dijalankan dengan baik, sayang sekali.

“Karenanya sekarang kita mulai dari ITN dan kita rangsang dengan pembangkit listrik tenaga surya,” pungkasnya. (ANC)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.