Rolasnews.com – Keinginan Tarwi merayakan ulang tahunnya yang ke-79 dengan nggowes Surabaya-Jakarta secara marathon, tidaklah berjalan datar-datar saja. Pihak keluarga sempat menolak keras karena khawatir terjadi apa-apa mengingat usianya yang sudah lebih dari uzur.
Istri Tarwi, Hj. Asmani, adalah orang yang paling shock begitu mendengar keinginan suaminya kembali bersepeda jarak jauh. Bahkan ia langsung jatuh sakit karena tahu bahwa keinginan suaminya itu bakal sulit dicegah.
“Ibu sempat stress dan sakit selama beberapa hari setelah Bapak ngomong mau sepedaan ke Jakarta,” kata Ony Cristiana Dewi, putri kandungnya, saat press rilis, Minggu (13/9), di rumah Jl. Ngagel Kebonsari 2 No 22, Surabaya.
Menurut Ony, ingatan ibunya langsung tertuju pada peristiwa 18 tahun silam ketika sang bapak nekad bersepeda sendirian ke Jakarta. Subuh pamit mau nggowes, sehari kemudian tahu-tahu mengabari sedang dalam perjalanan menuju ibukota.
“Ibu khawatir hal yang sama terulang lagi kalau Bapak ga dikasih ijin. Makanya meski berat, Ibu akhirnya merestui. Malah akan ikut mendampingi sepanjang perjalanan,” imbuh Ony yang menjadi humas sekaligus manajer Tarwi khusus untuk nggowes Surabaya-Jakarta ini.
Kisah menarik lainnya datang dari putri bungsunya yang tinggal di Salatiga, Jawa Tengah. Tahu bapaknya bersikeras mau mewujudkan keinginannya bersepeda ke Jakarta, ia segera mengurungkan niatnya balik ke Salatiga.
“Waktu itu adik lagi sambang ke Surabaya. Pas Bapak tanya kapan balik, eh, malah bilang ga jadi. Adik bilang cuma mau pulang ke Salatiga setelah ikut mengawal Bapak sepedaan sampai ke Jakarta,” terang Ony.
Abah Tarwi Ingin Finish di Jakarta International Velodrome
Alhasil, perjalanan Tarwi nggowes Surabaya-Jakarta kali ini full team alias diikuti rombongan keluarga. Memang, yang mancal hanya ia seorang. Tetapi istri, anak, cucu dan cicit turut mengawal dan mendampingi sampai finish.

Rencananya, ada tiga unit mobil yang akan mengiringi Tarwi menyusuri jalanan Pulau Jawa yang pernah dijelajahinya kala masih aktif sebagai atlet. Satu unit khusus untuk keluarga, sementara dua mobil lainnya untuk perbekalan dan tim dokumentasi.
Selain itu, juga ada satu unit motor yang berfungsi memonitor serta mensuplai apa-apa saja yang dibutuhkan mantan pebalap nasional itu selama perjalanan. Motor tersebut dikendarai Puspita Mustika Adya, sesama mantan atlet balap sepeda yang pernah menjadi anak didiknya.
“Pesannya Bapak, dari start sampai finish setiap etapenya tidak mau berhenti untuk makan atau minum. Semuanya dilakukan sambil tetap nggenjot. Mas Puspita nanti yang melayani Bapak sambil jalan,” pungkas Ony. (TON)







