Rolasnews.com – Saham PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) terus mengalami tekanan berat di pasar modal. Hingga perdagangan awal November 2026, harga saham emiten milik Raffi Ahmad tersebut telah anjlok lebih dari 60 persen dari level puncaknya, sekaligus mencatatkan salah satu koreksi terdalam di antara emiten IPO 2026.
Berdasarkan data perdagangan, saham RANS sempat mencapai harga tertinggi Rp272 per saham pada 15 Juli 2026, hanya beberapa hari setelah pencatatan perdana. Akan tetapi pada awal November, harga bergerak di kisaran Rp89–Rp97.
Jika dihitung dari harga pembukaan hari pertama perdagangan sebesar Rp228, koreksinya mencapai sekitar 60 persen. Dibandingkan harga IPO Rp170, penurunan berada di kisaran 47–48 persen.
Kapitalisasi pasar yang sempat menyentuh sekitar Rp3,4 triliun kini menyusut menjadi sekitar Rp1,2 triliun. Jumlah investor juga merosot tajam.
Dari 754.691 Single Investor Identification (SID) saat IPO pada Juli 2026, jumlahnya tinggal 126.253 SID pada akhir September 2026, atau turun lebih dari 83 persen.
Sebagai informasi, RANS resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 10 Juli 2026 dengan harga IPO Rp170 per saham.
Pada perdagangan perdana, saham langsung dibuka di Rp228 atau melonjak 34,12 persen dan sempat menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA). Euforia tersebut mendorong harga hingga Rp272 dalam hitungan hari.
Sayangnya, momentum positif tidak bertahan lama. Sejak Agustus hingga Oktober, saham secara bertahap mengalami koreksi seiring aksi ambil untung investor dan penilaian ulang valuasi.
Pada akhir Oktober, saham RANS beberapa kali bahkan menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB).
Faktor Pemicu
Sejumlah faktor menjadi penyebab pelemahan saham RANS.
Pertama, euforia IPO yang mereda diikuti aksi jual investor ritel yang mendominasi basis pemegang saham.
Kedua, kinerja keuangan yang belum sepenuhnya mendukung valuasi premium. Pendapatan perseroan pada semester I-2026 tercatat turun sekitar 13 persen menjadi Rp149 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Ketiga, ketergantungan tinggi pada personal branding Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Risiko ini sudah disebutkan dalam prospektus IPO. Ketika sentimen publik terhadap pemiliknya memburuk, dampaknya langsung terasa di harga saham.
Pemicu yang memperparah tekanan datang pada akhir Oktober lalu. Kehadiran Raffi Ahmad dalam acara Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa 2026 pada 29 Oktober memicu kontroversi.
Acara tersebut dianggap sebagian kalangan sebagai tandingan terhadap aksi demonstrasi mahasiswa sehari sebelumnya.
Seruan boikot kemudian muncul di media sosial dan berdampak pada penyelenggaraan RANS Carnival di Yogyakarta. Sejumlah pengisi acara dan pelaku UMKM dilaporkan mengundurkan diri.
Bursa Efek Indonesia kemudian meminta penjelasan resmi dari manajemen terkait dampak polemik tersebut terhadap operasional dan kinerja perusahaan. Manajemen menyatakan bahwa isu tersebut belum memberikan dampak material terhadap keuangan maupun operasional secara keseluruhan.
Bertumpu pada Personal Branding
Meski harga saham anjlok dan jumlah investor menyusut, struktur kepemilikan RANS masih sangat terkonsentrasi. Raffi Ahmad tetap menjadi pemegang saham pengendali dengan porsi sekitar 62,93 persen. Nagita Slavina juga tercatat memiliki sejumlah saham sebagai anggota direksi.
Analis menilai pergerakan harga RANS sangat sensitif terhadap persepsi publik karena model bisnis yang berbasis ekosistem hiburan dan personal branding. Selama sentimen negatif masih berlanjut, tekanan di pasar diperkirakan belum akan segera mereda.
Saat ini, saham RANS berada jauh di bawah harga IPO dan level tertinggi pasca-pencatatan. Investor yang masuk di harga tinggi saat euforia awal kini menghadapi kerugian signifikan.
Pasar masih menunggu langkah konkret manajemen dalam menjaga kepercayaan investor sekaligus mengelola dampak reputasi pemilik terhadap bisnis perseroan.






