Rolasnews.com – Provinsi Jawa Timur (Jatim) mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 3,33 persen pada September 2026. Angka ini menjadikannya tertinggi di Pulau Jawa dan sedikit di atas rata-rata nasional yang mencapai 3,28 persen.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Kamis (1/10/2026) menunjukkan seluruh 38 provinsi mengalami inflasi tahunan.
Di Jawa, posisi Jatim diikuti DI Yogyakarta (3,18 persen), Jawa Barat (3,16 persen), serta Jawa Tengah dan Banten yang sama-sama 3,14 persen. DKI Jakarta tercatat paling rendah di pulau ini dengan 2,71 persen.
Inflasi Jatim September 2026 naik tipis dibanding Agustus yang sebesar 3,32 persen. Secara nasional, inflasi bulanan (month-to-month) mencapai 0,30 persen, sementara tahunan naik dari 3,19 persen pada Agustus.
Pendorong utama inflasi tahunan nasional yang juga memengaruhi berbagai daerah termasuk Jatim, adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau (inflasi 4,37 persen dengan andil 1,28 persen). Komoditas utama meliputi ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin, dan daging sapi.
Kelompok transportasi menyumbang andil 0,58 persen (terutama bensin dan tarif angkutan udara). Disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 0,53 persen.
Baca Juga:
Cabai hingga Daging Ayam Dorong Inflasi Nasional September 2026
Pada Agustus 2026, inflasi bulanan Jatim sempat mencapai 0,34 persen (lebih tinggi dari nasional 0,21 persen), dengan sumbangan besar dari daging ayam ras dan emas perhiasan. Harga cabai di pasar Jatim juga terpantau merangkak naik hingga akhir September.
Angka 3,33 persen masih berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 persen ±1 persen. BPS dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) sebelumnya optimistis inflasi Jatim tetap terkendali hingga akhir tahun berkat pasokan pangan yang relatif stabil.






