Rolasnews.com – Akibat ketergantungan impor yang sangat tinggi, industri makanan dan minuman (mamin) Indonesia saat ini menghadapi tekanan cukup berat dengan terus melemahnya nilai tukar rupiah.
Rupiah pada akhir Oktober 2026 sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di kisaran Rp18.180–Rp18.184 per dolar AS. Meski sempat sedikit menguat di awal perdagangan 30 Oktober 2026 ke sekitar Rp18.120–Rp18.140, level tersebut masih jauh di atas asumsi APBN dan membuat biaya produksi naik signifikan.
Ketergantungan Impor yang Tinggi
Menurut catatan Kementerian Perindustrian dan Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi), tingkat ketergantungan bahan baku impor industri mamin mencapai 60–65 persen. Beberapa komoditas strategis bahkan hampir sepenuhnya diimpor:
- Gandum: 100 persen
- Gula industri/rafinasi: hampir 100 persen
- Jagung pangan: sekitar 90 persen
- Susu dan turunannya: sekitar 80 persen
- Kedelai: sekitar 70 persen
- Garam industri: sekitar 70 persen
Selain bahan baku utama, kemasan (resin plastik, aluminium foil), bahan kimia, dan beberapa ingredients juga masih banyak yang diimpor.
Baca Juga:
Lonjakan Harga Plastik Ancam Industri Mamin, Pemerintah Siapkan Jurus Penyelamat
Dampak ke Industri
Pelemahan rupiah langsung menaikkan biaya impor bahan baku, kemasan, dan energi dalam denominasi rupiah. Pelaku usaha, termasuk Gapmmi dan asosiasi minuman kemasan (ASRIM), mengakui bahwa kenaikan biaya ini menggerus margin keuntungan.
Banyak perusahaan terpaksa menyerap kenaikan tersebut karena khawatir menaikkan harga jual akan semakin menekan daya beli masyarakat yang sudah lemah.
Sektor mamin termasuk yang rentan bersama tekstil, farmasi, elektronik, dan kimia. Tekanan ini juga berpotensi menghambat ekspansi dan investasi baru.
Di sisi lain, inflasi pangan bergejolak yang sudah mencapai 5,03 persen (September 2026) bisa semakin terdorong jika pelemahan kurs berlanjut.
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus berupaya menjaga pasokan bahan baku strategis, terutama gula rafinasi, agar utilisasi pabrik tidak terganggu.
Pengusaha mamin sendiri telah berulang kali menyuarakan solusi jangka panjang berupa roadmap penguatan industri hulu agar ketergantungan impor berkurang secara bertahap.






