Petani Nanas Australia Protes Keras Rencana Impor dari Indonesia dan India

Petani Nanas Australia Protes Keras Rencana Impor dari Indonesia dan India
Produksi nanas Australia. (Canva)

Rolasnews.com – Petani nanas di Australia, khususnya di Queensland yang menjadi pusat produksi, secara terbuka menyatakan kekhawatiran serius terhadap rencana kebijakan impor nanas segar (decrowned) dari Indonesia dan India. Alasannya, risiko biosecurity terhadap pertanian domestik terlalu tinggi.

Industri yang menghasilkan lebih dari 35 juta buah nanas per tahun dengan nilai sekitar AUD 80 juta (setara Rp1 triliun) merasa terancam oleh draft laporan Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia (DAFF).

DAFF, menyusul permintaan akses pasar dari India dan Indonesia, merilis draft analisis risiko pada Juli 2026. Laporan itu menyatakan impor nanas segar tanpa mahkota (decrowned) dari kedua negara bisa diizinkan, asalkan memenuhi syarat ketat.

Delapan hama diidentifikasi sebagai risiko, termasuk hard scale (hama serangga sisik dari keluarga Diaspididae), enam spesies mealybug (kutu putih), dan thrips. Usulan penanganan meliputi fumigasi methyl bromide, iradiasi, atau pendekatan sistem yang disetujui departemen.

Namun, bagi petani lokal, langkah mitigasi itu belum cukup.

Hal itu ditegaskan pula oleh Scott Maxwell, Ketua Pineapple Growers Association Australia.

“Kami sadar perdagangan adil harus terjadi. Tapi masalahnya mereka mengidentifikasi banyak hama di sana. Padahal di Australia kami sudah tidak punya bahan kimia yang terdaftar untuk mengendalikannya,” kata Maxwell.

Col Hawken, petani nanas di Fraser Coast, mengamininya. Sebagai industri kecil, menurutnya, mereka tidak punya sumber daya besar untuk menghadapi invasi hama.

“Jika nanas dari luar masuk dan kami tidak punya cara melawannya, selesai sudah,” katanya.

Adapun Scott Kompo-Harms dari Queensland Fruit and Vegetable Growers menekankan bahwa biosecurity bukan sesuatu yang bisa dicoba dua kali.

“Begitu hama eksotis masuk, petani yang harus menanggung akibatnya,” ujarnya.

Kekhawatiran tak hanya soal serangga. Beberapa pihak, termasuk politisi oposisi seperti Matt Canavan dari Nationals, menyinggung risiko penyakit seperti bacterial heart and fruit rot (dikenal sebagai “exploding pineapple disease”).

Mereka mengingatkan bahwa satu pengiriman yang lolos bisa merusak seluruh industri, mengancam ribuan pekerjaan dan ratusan keluarga petani.

Hanya Impor Sedikit

Australia saat ini sudah mengizinkan impor nanas decrowned dari Filipina, Kepulauan Solomon, Sri Lanka, Taiwan, dan Thailand, tetapi volume perdagangan sangat minim.

Pada 2025, hanya sekitar 18 ton yang masuk dari Taiwan. Petani lokal berargumen produksi dalam negeri sudah cukup memenuhi pasar domestik sepanjang tahun. Dengan demikian, membuka pintu impor lebih lebar dari India dan Indonesia tidak diperlukan.

Nanas menjadi ikon dan salah satu daya tarik wisata di Queensland. (bigpineapple.com.au)

Masa konsultasi publik atas draft laporan telah ditutup pada 5 Oktober 2026. DAFF menyatakan sedang mempertimbangkan masukan pemangku kepentingan sebelum menyusun laporan final.

Sementara itu, petani terus mendesak pemerintah federal agar menunda atau menolak persetujuan hingga jaminan ilmiah dan perlindungan lebih kuat tersedia.

Bagi petani nanas Australia, kebijakan yang salah bisa menjadi titik balik yang malah menghancurkan industri buah eksotis tersebut.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *