Rolasnews.com – Berdasarkan data terbaru dari Xendit Ecommerce Payments Momentum Report 2026 (bekerja sama dengan Cube), Filipina mencatat pangsa Cash on Delivery (COD) tertinggi di Asia Tenggara, sekitar 23 persen dari nilai transaksi e-commerce, unggul dari Vietnam yang di angka 16 persen. Sementara di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand pangsa COD sudah jauh lebih rendah atau tak lagi jadi pilihan utama.
Filipina diperkirakan tetap menjadi salah satu pasar utama di Asia Tenggara di mana COD masih menyumbang lebih dari 20 persen nilai e-commerce hingga 2027. Bahkan ketika rata-rata regional diproyeksikan turun di bawah 25 persen.
Laporan yang merujuk data transaksi Xendit serta survei 6.000 pembeli online di enam pasar (termasuk 1.000 responden Filipina) menunjukkan bahwa sekitar sepertiga responden Filipina sudah mengurangi penggunaan COD dibanding setahun sebelumnya. Namun, 12 persen menyatakan tetap setia pada COD dan tidak ada yang bisa mengubah preferensi mereka.
Beberapa faktor menjelaskan keawetan COD di Filipina. Basis konsumen yang masih bergantung pada uang tunai relatif besar, kekhawatiran keamanan transaksi online serta akses perbankan yang terbatas. Menurut World Bank, setengah populasi dewasa di negara itu masih belum memiliki rekening bank.
Baca Juga:
Menko Airlangga: Ekonomi Digital di Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara
Cash is King
“Negara kita mencintai cash. Ketika saya berbicara dengan merchant, seberapa pun mereka ingin beralih ke digital, mereka selalu bilang cash is still king,” kata Ina Gatan, Head of Go-to-Market Xendit Philippines.
Namun di sisi lain, pembayaran digital terus mencatat pertumbuhan signifikan. Volume pembayaran QR Ph dan InstaPay di platform Xendit naik 198 persen dari Januari 2025 hingga April 2026. Hal itu kini menyumbang sekitar 13 persen nilai e-commerce.
Filipina tetap pasar yang “wallet-first”, dengan GCash sebagai pemain dominan, walau pun pertumbuhan e-wallet secara keseluruhan lebih moderat.
Bagi merchant, temuan ini memiliki implikasi praktis. Sebanyak 41 persen pembeli online Filipina yang membatalkan pembelian dalam tiga bulan terakhir menyebutkan alasan utama adalah metode pembayaran yang mereka sukai tidak tersedia.
Diskon atau cashback di checkout menjadi insentif paling efektif untuk mendorong peralihan ke pembayaran digital, baik di Filipina maupun di pasar regional lainnya.
Secara regional, COD yang dulu mendominasi (sekitar 52 persen pada 2019) sudah turun signifikan, tetapi laju penurunannya tidak merata. Filipina bergerak lebih lambat dibanding negara tetangga yang memiliki inklusi keuangan lebih tinggi.
Proyeksi menunjukkan COD di Asia Tenggara akan terus menyusut. Akan tetapi Filipina diperkirakan menjadi pasar utama terakhir yang masih mempertahankan porsi di atas 20 persen dalam waktu dekat.
Data ini menegaskan bahwa transformasi pembayaran e-commerce di Asia Tenggara terus berlangsung. Hanya saja kecepatan dan pola perubahannya sangat bergantung pada konteks lokal masing-masing negara.






