Rolasnews.com – Menteri Energi dan Tambang Kuba, Vicente de La O Levy, mengakui bahwa negaranya kini benar-benar kehabisan bahan bakar minyak (BBM) dan diesel, dengan cadangan nol. Pernyataan ini disampaikan di tengah krisis energi parah yang melanda pulau tersebut akibat blokade Amerika Serikat.
“Kami sama sekali tidak punya bahan bakar (minyak). Dan sama sekali tidak punya diesel,” kata de La O Levy dalam pernyataan di media pemerintah pada Rabu, (13/5/2026).
Ia menambahkan bahwa jaringan listrik nasional berada dalam kondisi “kritis”.
“Kami tidak memiliki cadangan sama sekali,” ujarnya.
Vicente de La O Levy menyatakan Kuba tetap terbuka untuk negosiasi impor bahan bakar dari pihak mana pun. “Kuba terbuka bagi siapa saja yang ingin menjual bahan bakar kepada negaranya.
Namun, upaya tersebut semakin sulit akibat lonjakan harga minyak global dan biaya transportasi yang dipicu konflik AS-Israel dengan Iran.
Pernyataan Menteri de La O Levy ini menjadi pengakuan paling terbuka dari pejabat tinggi Kuba mengenai kedalaman krisis energi yang kini dihadapi masyarakat.
Ketergantungan Impor
Kuba memproduksi sekitar 40.000 barel minyak per hari, tetapi konsumsinya mencapai 90.000 hingga 110.000 barel per hari. Hal ini membuat negara tersebut secara struktural bergantung pada impor yang kini hampir lenyap akibat blokade AS yang diperketat sejak Januari 2026.
Pemerintah Kuba pada Selasa (12/5/2026) mengumumkan akan meliberalisasi harga bahan bakar mulai 15 Mei, mengakhiri rezim harga tetap untuk mencerminkan biaya impor yang sebenarnya di tengah sanksi ekonomi AS dan kekurangan bahan bakar yang memburuk.
Krisis ini telah memicu pemadaman listrik bergilir yang meluas di negara Karibia itu. Defisit daya listrik mencapai lebih dari 2.000 megawatt beberapa waktu. Sementara donasi minyak dari Rusia yang diterima akhir Maret lalu juga telah habis.
Blokade AS yang berlanjut, termasuk ancaman sanksi terhadap negara pemasok, telah memutus pasokan dari mitra tradisional seperti Venezuela dan Meksiko. Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa Kuba akan menjadi target berikutnya setelah operasi militer terhadap Iran.






