Rolasnews.com – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan pelemahan signifikan pada perdagangan Kamis (23/4/2026), menembus level psikologis baru dan mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah. Tekanan terhadap mata uang Rupiah datang dari kombinasi memanasnya tensi geopolitik global serta meningkatnya beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat lonjakan harga minyak dunia.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot, Rupiah ambruk hingga menyentuh level Rp17.303 per Dolar AS pada pukul 10.15 WIB, melemah 0,71% dibandingkan penutupan hari sebelumnya . Pantauan terpisah menunjukkan mata uang ini sempat berada di posisi Rp17.315 per Dolar AS, menandai level intraday terendah yang pernah tercatat .
Pelemahan terjadi merata di berbagai platform dan bank nasional. Data Refinitiv mencatat Rupiah dibuka melemah ke Rp17.210, sementara data Bloomberg menunjukkan level Rp17.255 per Dolar AS pada awal sesi .
Kondisi ini turut tercermin pada kurs jual beli di perbankan nasional, dengan harga jual tertinggi dipatok oleh PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) di level Rp17.450 per Dolar AS untuk transaksi TT counter .
Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Biang Kerok
Analis menilai depresiasi Rupiah kali ini tidak terlepas dari memanasnya situasi di Timur Tengah. Ketegangan antara AS-Israel dengan Iran kembali meningkat setelah kegagalan perundingan dan aksi saling sita kapal di perairan strategis Selat Hormuz. Kondisi ini mendorong indeks dolar AS (DXY) bertahan di zona penguatan karena pelaku pasar cenderung memburu aset safe haven .
Eskalasi tersebut berimbas langsung pada melonjaknya harga minyak mentah global. Harga minyak Brent kini menyentuh US$103 per barel, jauh melampaui asumsi APBN 2026 yang hanya mematok harga minyak di kisaran US$70 per barel dengan batas atas US$92 .
“Tekanan terhadap Rupiah berasal dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang sama-sama kuat. Kenaikan harga energi ini memberi tekanan tambahan bagi negara importir seperti Indonesia,” ujar Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi dikutip dari kontan.co.id.
Lonjakan harga minyak ini diproyeksikan bakal memperlebar defisit anggaran karena Indonesia masih bergantung pada impor sekitar 1,5 juta barel minyak per hari. Beban subsidi energi pun membengkak di tengah kebijakan pemerintah menahan harga BBM bersubsidi.
Keputusan BI Tahan Suku Bunga Dinilai Kurang Kuat
Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini dinilai belum cukup kuat untuk menahan tekanan eksternal yang meningkat.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan pihaknya terus berupaya menjaga stabilitas Rupiah, salah satunya dengan menurunkan ambang batas pembelian valuta asing tunai dari US$100.000 menjadi US$50.000 per orang per bulan .
“Kami yakin ke depan akan semakin efektif, transaksi pembelian spot harus pakai underlying-nya. Yang dulunya 89,2% sekarang 93,5% transaksi spot itu dengan underlying,” jelas Perry .
Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono mengklaim kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil dengan penurunan rata-rata harian transaksi spot nasabah dari US$78 juta menjadi US$60 juta sejak 17 April 2026 .
Proyeksi: Rupiah Berpotensi Lanjut Melemah ke Rp17.400
Dengan fundamental eksternal yang masih belum kondusif, para analis memperkirakan tekanan terhadap Rupiah masih akan berlanjut.
Ibrahim Assuaibi bahkan memproyeksikan pelemahan bisa berlanjut hingga menyentuh level Rp17.400 per Dolar AS pada akhir April 2026, lebih cepat dari ekspektasi awal yang semula dipatok untuk tahun 2026 .
Sementara itu, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong kepada bisnis.com, memproyeksikan pergerakan Rupiah pada hari ini akan berada dalam kisaran Rp17.150 hingga Rp17.300 per Dolar AS . Hal ini sejalan dengan pelemahan mata uang Asia lainnya seperti Ringgit Malaysia, Peso Filipina, dan Baht Thailand yang juga terkoreksi hari ini. (TON)







