Polusi Udara di Perkotaan Sebabkan 1,8 Juta Kematian Setiap Tahunnya

Polusi Udara di Perkotaan Sebabkan 1,8 Juta Kematian Setiap Tahunnya
(Kabut pekat dari polusi udara menyelimuti New Delhi. Gambar diambil setahun sebelum pandemi COVID-19. AFP)

Rolasnews.com – Terus menerus terpapar polusi udara di atas ambang batas normal menyebabkan 1,8 juta kematian setiap tahunnya di wilayah perkotaan di seluruh dunia.

Selain itu, hampir 2 juta kasus asma yang menimpa anak-anak secara gobal terkait dengan paparan polusi nitrogen dioksida (NO2) dari emisi kendaraan bermotor. Dua pertiganya terjadi di perkotaan.

Read More

Dari dua studi yang dipublikasikan hari Rabu di The Lancet Planetary Health, juga menyebutkan bahwa anak-anak dan orang lanjut usia adalah yang paling menderita akibat paparan polusi udara.

“Menghindarkan ruang publik yang luas dari polusi udara yang membahayakan kesehatan, akan membutuhkan strategi yang tidak hanya mereduksi emisi tetapi juga meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan,” demikian kata Veronica Southerland yang terlibat dalam dua studi tersebut.

“Sebagian besar penduduk perkotaan dunia masih tinggal di daerah dengan tingkat polusi udara yang tidak sehat,” imbuh Southerland yang merupakan kandidat doctor kesehatan masyarakat di Universitas George Washington di Washington D.C., AS.

Sementara menurut sebuah analisa yang diterbitkan pada bulan November tahun lalu, paparan partikel halus di udara menyebabkan 4 juta kematian di seluruh dunia setiap tahunnya.

Anak-anak dan polusi udara
(Selain warga lanjut usia, anak-anak adalah yang paling rentan dengan polusi udara di perkotaan. ANTARA)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 55% populasi dunia tinggal di perkotaan. Dari studi yang dilakukan Southerland dkk, 86% atau sekitar 2,5 miliar dari mereka terpapar partikel mikroskopis udara dalam tingkatan yang tidak sehat, atau PM2.5.

PM2.5 sebagaimana yang ditetapkan Enviromental Protection Agency (EPA) mengacu pada polutan mikroskopis yang didapati dalam debu dan asap di udara, terutama di sekitar lokasi pabrik dan industri.

Beberapa studi sebelumnya menunjukkan bahwa paparan partikel dengan diameter 2,5 mikrometer atau kurang, dikaitkan dengan aneka komplikasi kesehatan, termasuk asma dan gangguan paru-paru serta penyakit jantung dan demensia.

Pada analisis pertama, Southerland dan para koleganya melihat konsentrasi PM2.5 dan kecenderungan naiknya angka kematian di lebih dari 13 ribu kota secara global antara tahun 2000 hingga 2019.

Dari semua kota yang diteliti, konsentrasi PM2.5 rata-rata di udara mencapai hingga 300% dari ambang batas yang ditetapkan WHO di tahun 2021 untuk paparan polusi udara yang tidak sehat.

Para peneliti memperkirakan 61 dari setiap 100 ribu kematian di wilayah perkotaan di seluruh dunia terkait dengan paparan PM2.5 pada tahun 2019. Penduduk di Asia Tenggara adalah yang paling banyak meninggal karena polusi udara, yakni 84 dari 100 ribu kematian.

Polusi udara di Jakarta
(Banyaknya kendaraan bermotor membuat Jakarta menjadi salah satu kota di Asia Tenggara dengan tingkat polusi udara terburuk. Mongabay Indonesia)

Baca Juga :

Polusi dan Kebakaran Hutan Tingkatkan Resiko Penderita COVID-19 di Daerah Terdampak

Para peneiti juga merujuk pada data CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS) yang secara global pada tahun 2019 saja memperkirakan ada 1,8 juta kematian terkait polusi udara di perkotaan. Trend ini menunjukkan angka yang terus meningkat setiap tahunnya meski konsentrasi PM2.5 di banyak daerah perkotaan di Afrika, Eropa dan daratan Amerika justru menurun selama dua dekade terakhir.

Sedangkan di studi kedua, tim peneliti lebih melihat tingkat nitrogen dioksida (NO2) di kota-kota yang sama.

Di tahun 2019, ada 1,85 juta kasus asma pediatrik baru yang terkait dengan NO2, atau 9% dari semua kasus gangguan paru-paru yang dilaporkan pada tahun tersebut.

Akan tetapi di wilayah perkotaan, NO2 menjadi penyebab 16% dari semua kasus asma anak yang baru di tahun 2019.

“Hasil studi kami menunjukkan polusi udara menjadi faktor utama yang menyebabkan masalah kesehatan pada anak-anak di perkotaan secara global,” terang peneliti yang lain, Susan Anenberg.

“Saat ini, tingkat NO2 berkontribusi besar terhadap asma pediatrik. Karena itu, mengurangi tingkat polusi udara di perkotaan harus menjadi unsur penting dari strategi kesehatan publik, terutama untuk anak-anak,” tandasnya. (TON)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.