Universitas Negeri Malang Kukuhkan Enam Guru Besar Baru

  • Whatsapp
Universitas Negeri Malang Kukuhkan Enam Guru Besar Baru
(6 Guru Besar UM yang baru dikukuhkan. Credit: Ist)

Rolasnews.com – Sebagai upaya untuk menjadi perguruan tinggi yang berdaya saing dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, Universitas Negeri Malang (UM) kembali menggelar pengukuhan guru besar, Kamis (23/9). Tak tanggung-tanggung, enam guru besar dikukuhkan sekaligus dalam waktu yang bersamaan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Mereka adalah Prof. Dr. Endang Purwaningsih, M.Si (FMIPA), Prof. Dr. Lia Yuliati M. Pd (FMIPA), Prof. Dr. Abdur Rahman As’ari M. Pd, M. A., (FMIPA), Prof. Dr. Parno, M.Si., (FMIPA), Prof. Dr. Achmad Rasyad M. Pd., (FIP) dan Prof. Dr. Yusuf Hanafi, M. Fil. l. (FS).

Read More

Dalam orasi pengukuhannya, Prof. Dr. Endang Purwaningsih, M.Si menyampaikan, sesuai dengan aturan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005, seorang guru profesional dituntut untuk memiliki empat kompetensi yakni kompetensi pedagogi, profesional, sosial dan kepribadian.

Sayangnya sejauh ini menurut Prof Endang, pengembangan keempat kompetensi tersebut pada level calon guru masih dirasa sulit sehingga perlu dioperasionalisasi berdasarkan landasan teoritik yaitu Pedagogical Conten Knowledge (PCK), Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) dan identity theory.

Karenanya sejak tahun 2015 ia mulai mengembangkan model pembelajaran Concept Mapping Content Representation-Lesson study (CoMCoRe-LS)

“Sebuah model pembelajaran yang dikembangkan untuk mata kuliah Kuliah Praktik Lapang (KPL) guna meningkatkan PCK calon guru, khususnya calon guru yang memiliki pemahaman konten yang masih kurang,” terangnya.

Sementara Prof. Dr. Lia Yuliati M. Pd menilai, pelaksanaan pembelajaran Fisika dengan pembelajaran dalam jaringan (daring) memunculkan tantangan baru. Jika dalam pembelajaran luar jaringan (luring), guru Fisika fokus untuk memunculkan fenomena fisika menjadi lebih konkret di dalam pembelajaran dengan menghadirkan media pembelajaran di kelas, terutama media-media yang dapat diamati secara langsung oleh siswa.

“Karena itu, metode demonstrasi dan eksperimen menjadi metode yang paling dianjurkan dalam pembelajaran Fisika,” sebutnya.

Namun, dalam pembelajaran daring, upaya yang dilakukan guru Fisika menjadi berubah. Guru Fisika harus mencari cara bagaimana menghadirkan fenomena Fisika yang konkret dengan menggunakan media berbasis komputer yang bersifat virtual, bagaimana melatih keterampilan proses sains kepada siswa melalui pembelajaran daring, dan tentunya bagaimana menanamkan sikap ilmiah dan karakter kepada siswa melalui pembelajaran jarak jauh (distance learning).

Berangkat dari permasalahan tersebut Prof Lia mengajak para dosen, guru dan mahasiswa untuk membelajarkan siswa dengan ill-structured problem sesuai dengan karakteristik materi Fisika yang dipelajari dan karakteristik belajar siswa.

“Termasuk belajar tentang bagaimana cara belajar (learning how to learn) Fisika untuk memfasilitasi berkembangnya kemampuan siswa secara komperhensif dan produktif dan pembelajaran menjadi lebih bermakna,” ucapnya.

Baca Juga :

Tambah Guru Besar, UM Kukuhkan Dua Profesor Baru

Sedangkan Prof. Dr. Abdur Rahman As’ari M. Pd, M. A., dalam orasinya menilai bahwa siswa yang mandiri akan mampu mengatur dan menata diri mereka sendiri tujuan belajarnya, bahan belajarnya, cara mempelajarinya, dan termasuk menilai keberhasilan belajarnya. Mereka akan belajar dengan menyenangkan karena sesuai dengan minat dan bakatnya.

Sementara itu, pelajar yang memiliki kemampuan berpikir kritis akan mampu memutuskan apakah informasi yang diterimanya layak dipercaya atau tidak.

Suasana pengukuhan guru besar di UM
(Suasana pengukuhan 6 guru besar Universitas Negeri Malang. Credit: Ist)

Sehubungan dengan itu, Prof As’ari mengemukakan tentang perlunya para guru menerapkan Pembelajaran yang Berorientasi WISE. Sebab pembelajaran berorientasi WISE adalah pembelajaran yang diarahkan untuk mencetak anak-anak yang bijaksana, yang biasanya memiliki wawasan yang luas baik dalam tutur kata dan tindakannya.

“Pembelajaran WISE yakni Wondering habits, Investigating skills, Synthesizing Skills dan Expressing skills,” urainya.

Lebih lanjut, Prof. Dr. Parno, M.Si., menyebutkan, dalam dua tahun terakhir perkuliahan Materi dan Pembelajaran Fisika (MPF) membebaskan mahasiswa untuk mencari sendiri permasalahan fisika sekolah. Akibatnya, lingkupnya terlampau sempit dan kurang problematik.

Karena itu Prof Parno memberikan solusi dengan menyediakan permasalahan yang problematik dan kontekstual berbentuk Lembar Kegiatan Mahasiswa (LKM) LKM berbasis PBL-Multirepresentasi-Scaffolding yang disajikan dengan model Two Stay Two Stray (TSTS).

“Tujuannya agar mahasiswa bisa menyelesaikannya secara konstruktif dan bermakna yang memungkinkan siswa dapat mengembangkan pemahaman materi bidang studi secara optimal selama pembelajaran. Perkuliahan MPF ini akan memanfaatkan SIPEJAR,” pungkasnya.

Sementara itu Profesor termuda UM Prof. Dr. Yusuf Hanafi, M. Fil. l. (FS), dalam orasinya mengangkat tema terkait “Desain pembelajaran pendidikan agama Islam berwawasan moderasi beragama untuk mencetak peserta didik yang toleran dan multikultural”.

Sedangkan Prof. Dr. Achmad Rasyad M. Pd., dalam pidatonya menekankan terkait Model tata kelola pelatihan yang efektif berbasis pendekatan fleksibelitas, kolaboratif dan partisipatif. (ANC)

Related posts

Link Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *