Awas, Remaja Korban Bullying dan Intimidasi Cenderung Berbuat Kekerasan di Masa Depan

  • Whatsapp
Awas, Remaja Korban Bullying dan Intimidasi Cenderung Berbuat Kekerasan di Masa Depan
(Remaja yang kerap menjadi obyek kekerasan oleh teman sebayanya, cenderung berpikir untuk melakukan hal yang sama sebagai balasan atas apa yang dialaminya. Photo Courtesy : Pinterest)
Link Banner
Rolasnews.com – Saat ini isu-isu kesehatan mental terutama yang terjadi di usia muda tidak bisa dianggap remeh. Tingginya angka kekerasan, termasuk korban bullying, yang dialami remaja tentu berdampak pada kehidupan mereka di masa depan baik, secara psikologis dan sosial.

Riset menunjukkan dan memperingatkan kita semua bahwa remaja yang pernah mengalami tindak kekerasan dan intimidasi cenderung berpikir untuk menyakiti dan bahkan membunuh orang lain.

“Salah satu cara untuk memikirkan fantasi adalah saat otak kita melatih skenario masa depan,”  kata Manuel Eisner Direktur Pusat Penelitian Kekerasan Universitas Cambridge, Inggris.

Read More

Sebuah penelitian yang telah diterbitkan di jurnal Aggressive Behavior dan melibatkan lebih dari 1.400 anak muda usia 15, 17, dan 20 tahun di Zurich, Swiss menyimpulkan bahwa kebanyakan partisipan melaporkan setidaknya satu jenis tindakan viktimisasi.

Sedangkan mereka yang terlalu sering mendapatkan tindakan penganiayaan dan kekerasan cenderung memiliki fantasi pemikiran untuk membunuh, menyerang atau mempermalukan orang lain.

Mereka diberi beberapa pertanyaan  antara lain apakah mereka memiliki pikiran berbuat kekerasan dalam sebulan terakhir dan jenis penindasan atau agresi  apa yang mereka hadapi dalam setahun terakhir.

Penelitian ini juga menanyakan tentang pengalaman partisipan dengan 23 bentuk viktimisasi, termasuk ejekan, serangan fisik, pelecehan seksual oleh teman sebaya, pola asuh agresif, seperti berteriak dan menampar dan kekerasan selama pacaran seperti paksaan untuk berhubungan seks.

Pada umumnya anak laki-laki lebih banyak memiliki pikiran tentang kekerasan. Meski demikian, sebenarnya dampak dari berbagai tindakan viktimisasi terhadap fantasi untuk berbuat kekerasan pada orang lain hampir sama baik remaja laki-laki atau perempuan.

Dalam sebulan terakhir tingkat fantasi kekerasan di antara anak laki-laki berusia 17 tahun yang belum pernah menjadi korban sebelumnya adalah 56 persen. Setiap jenis penganiayaan tambahan meningkatkan kemungkinan fantasi kekerasan hingga 8 persen.

Mereka  yang melaporkan 5 bentuk viktimisasi memiliki kemungkinan 85 persen mengalami fantasi pikiran tentang kekerasan di masa depan. Sedangkan partisipan yang melaporkan 10 bentuk tindakan vikimisasi, fantasi untuk berbuat kekerasan naik menjadi 97 persen.

Pada gadis remaja berusia 17 tahun yang belum pernah mengalami tindakan viktimisasi memiliki  fantasi kekerasan sebesar 23 persen, mereka yang melaporkan 5 jenis penganiayaan memiliki kemungkinan fantasi berbuat kekerasan sebesar 59 persen, dan yang mengalami setidaknya 10 macam penganiayaan, fantasi untuk membalas dendam dengan kekerasan menembus angka 73 persen.

Secara keseluruhan, fantasi akan tindakan kekerasan pada usia 20 tahun mulai menurun dengan 14 persen pria muda dan 5,5 persen wanita melaporkan memiliki pikiran untuk membunuh seseorang yang mereka kenal dalam sebulan terakhir.

Akan tetapi pengaruh viktimisasi pada fantasi kekerasan tidak berkurang saat peserta penelitian tumbuh dewasa, ini menunjukkan bahwa intensitas efek buruk kesehatan mental ini mungkin tidak memudar,

Anak mengalami bullying di sekolah
(Korban bullying di usia kanak-kanak, berpotensi menjadi pelaku kekerasan di masa mendatang. Photo Courtesy : Freepik)

Tingkat fantasi kekerasan yang lebih tinggi di antara mereka yang sering diintimidasi atau dianiaya mungkin merupakan mekanisme psikologis untuk membantu mempersiapkan mereka menghadapi kekerasan yang akan datang.

“Fantasi untuk membalas perbuatan orang lain mungkin memiliki akar dalam sejarah manusia. Dimulai dari saat masyarakat bersikap jauh lebih kejam dan pembalasan atau ancamannya adalah  suatu bentuk perlindungan yang dianggap penting,” ungkap Eisner.

Fenomena Pemimpin Emosional, Potret Masyarakat Sakit?

Studi ini tidak menyelidiki apakah orang-orang yang memiliki pemikiran tentang fantasi kekerasan karena tindakan viktimisasi akan merealisasikan pikiran tersebut dalam bentuk perilaku kekerasan. Tetapi Eisner mengungkapkan bahwa temuan yang konsisten di banyak kasus kriminologi adalah bahwa korban sering pula menjadi pelaku dan sebaliknya.

“Fantasi yang tidak terkendali dan pembalasan yang muncul dalam pikiran kita seringkali sangat tidak proporsional dengan peristiwa nyata yang menjadi pemicunya,” katanya.

Oleh karena itu, penanganan yang cepat dan tepat bagi mereka yang telah mengalami banyak tindakan kekerasan sangat penting untuk dilakukan agar tidak berdampak serius bagi masa depan, baik secara psikologis maupun sosial.

Karena itu, jangan ragu-ragu untuk menghubungi psikolog atau meminta bantuan pihak tekait ketika Anda atau orang-orang terdekat Anda mengalami gejala gangguan kesehatan mental akibat tindak kekerasan. (AZP)

Related posts

Link Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *