Pekerja di Peternakan Lebih Beresiko Terpapar ‘Superbug’

  • Whatsapp
Pekerja di Peternakan Lebih Beresiko Terpapar ‘Superbug’
(Peternakan babi memiliki resiko 15 kali lebih tinggi menularkan bakteri ‘superbug’ yang resisten terhadap antibiotik. Photo Courtesy : Getty Imges)
Rolasnews.com – Para pekerja di peternakan memiliki resiko lebih tinggi terinfeksi bakteri ‘Superbug’ yang berbahaya serta resisten terhadap antibiotik.

Demikian temuan para peneliti di Michigan State University (MSU) setelah mempelajari resiko paparan ‘Superbug’ tersebut dari tinjauan berbagai literatur yang diterbitkan selama 15 tahun terakhir. Fakta ini tentu saja mengejutkan mereka karena tidak menyangka resikonya setinggi itu.

“Ini cukup merisaukan,” kata Felicia Wu.

Read More

Wu adalah profesor di Departemen Ilmu Pangan, Nutrisi dan Pertanian, Ekonomi serta Sumberdaya Pangan di MSU, East Lansing, Amerika Serikat.

“Saya tidak yakin pekerja di peternakan babi menyadari resiko tinggi itu, misalnya. Begitu pula dengan dokter hewan yang bekerja di peternakan hewan besar,” jelas Wu dalam rilis resmi universitas tempatnya bekerja.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibanding mereka yang tidak bekerja dengan hewan, para pekerja di peternakan babi memiliki resiko 15 kali lebih tinggi terpapar strain tertentu dari bakteri yang dikenal sebagai Staphylococcus aureus yang resisten terhadap methicilin (MRSA). Bakteri ini umumnya ada pada hewan ternak.

Sedangkan di peternakan sapi, para pekerja beresiko terpapar 12 kali lebih tinggi. Untuk dokter hewan yang bekerja di sana, resikonya 8 kali lebih tinggi.

“MRSA yang terkait dengan ternak adalah salah satu jenis MRSA yang sangat menular di antara hewan. Kini bakteri itu telah berevolusi sehingga juga dapat menginfeksi manusia,” imbuh Wu.

Wu menuturkan bakteri ‘superbug’ itu memiliki kemampuan luar biasa berpindah antar spesies untuk membentuk koloni dan menyebabkan infeksi.

“MRSA yang ada di ternak bersifat zoonosis, dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit semacam ini dapat merusak kesehatan manusia,” ujarnya.

Wu bersama koleganya, Chen Chen, mempublikasikan penelitian mereka di jurnal Occupational & Enviromental Medicine. Tak hanya menyoroti bahaya MRSA, dalam tulisan di jurnal itu juga diberikan cara-cara bagi pekerja di peternakan untuk melindungi diri mereka.

MRSA di hewan ternak pertama kali didokumentasikan di awal tahun 2000-an. Studi terbaru ini menunjukkan bahwa resiko MRSA meningkat untuk setiap pekerjaan yang berhubungan dengan hewan yang dipelajari para ilmuwan. Termasuk di antaranya adalah mereka yang bekerja di RPH (Rumah Pemotongan Hewan) dan mereka yang bekerja dengan kuda dan unggas.

Regulasi yang dikeluarkan CDC (BPOM AS, red) di tahun 2017, membatasi penggunaan antibiotik di sektor pertanian demi mengurangi kemampuan bakteri mengembangkan resistensi terhadap antibiotik.

Peternakan ayam
(Peternakan ayam juga menyimpan potensi zoonosis, penularan penyakit dari hewan ke manusia. Sehingga sangat disarankan bagi pekerja di peternakan ayam mengenakan standar alat pelindung diri dan menjaga sanitasi. Photo Courtesy : Getty Images)

Selain COVID-19, Masih Ada 500 Ribuan Virus Tak Dikenal yang Lebih Mematikan

Sementara untuk mereka yang bekerja di peternakan, sangat direkomendasikan melindungi diri dengan mencuci tangan secara teratur, memakai sarung tangan dan pakaian pelindung, serta menutup kulit yang terluka.

MRSA hidup di lapisan lunak seperti kulit dan hidung tanpa menyebabkan kerusakan jaringan, jelas para peneliti.

“Namun begitu bakteri ini menguasai satu lingkungan, mereka sangat sulit dibasmi,” kata Wu.

Karena itu, lanjutnya, mengurangi resiko infeksi yang resisten terhadap antibiotik juga harus menjadi prioritas perhatian bagi mereka yang bekerja di peternakan.

Pendapat menarik dikemukakan mengenai pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh virus yang diduga berasal dari kelelawar. Kendati bekerja dan menyebar secara berbeda dari MRSA, namun manusia dapat meminimalkan resiko terpapar.

“Yang jelas kita perlu melindungi kesehatan kita dan kesehatan hewan kita. Kita memang tidak memiliki kendali atas kelelawar. Tetapi kita memiliki kendali atas cara kita memelihara dan menangani unggas, sapi maupun babi,” pungkas Wu. (NAY)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *