MMI Sukses Dokumentasikan Sejarah Musik Populer di Indonesia tahun 1967-1978.

MMI Sukses Dokumentasikan Sejarah Musik Populer di Indonesia tahun 1967-1978.
(Ketua Museum Musik Indonesia (MMI), Hengki Herwanto, menunjukkan koleksi majalah musik populer yang telah didokumentasikan dan diunggah ke laman MMI. Photo Courtesy : ANC/Rolasnews.com)
Rolasnews.com – Melalui dukungan dana hibah dari program FBK (Fasilitasi Bidang Kebudayaan) Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2020, Museum Musik Indonesia (MMI) akhirnya berhasil melaksanakan dokumentasi sejarah musik populer di Indonesia tahun 1967-1978. Dokumentasi dilakukan dengan menghimpun tulisan-tulisan dalam 200 edisi majalah musik yang pernah terbit dalam kurun waktu 12 tahun tersebut yang selanjutnya disajikan dalam laman (website) MMI.
Aneka majalah musik populer di jamannya
(Aneka majalah musik populer yang dulu pernah sangat digandrungi karena menyajikan berbagai informasi perkembangan musik baik dari tanah air maupun internasional. Photo Courtesy : ANC/Rolasnews)

Ketua MMI Ir. Hengki Herwanto, MM, menjelaskan, program FBK sebenarnya merupakan usaha dari Pemerintah untuk membantu pembiayaan atas kegiatan para pelaku budaya dalam rangka Pemajuan Kebudayaan Indonesia.

“Tahun 2020 ini, proposal yang diterima sejumlah lebih dari 2000 buah dan yang berhasil lolos seleksi 129 proposal. Tiga di antaranya berasal dari Kota Malang termasuk MMI,” jelasnya saat jumpa pers di hotel Pelangi, Kamis (17/12).

Read More
Link Banner

Menurutnya, pekerjaan dokumentasi yang dilakukan MMI sebenarnya cukup sederhana yakni dengan menghimpun 200 edisi dari 8 majalah musik, yaitu Diskorina (Yogya), Favorita (Surabaya), Paradiso (Surabaya) serta Junior, Star, Top, Varia Nada dan Vista, kelimanya terbit di Jakarta. Semua majalah tersebut saat ini sudah tidak terbit lagi.

“Tahap selanjutnya adalah memindai (scan) halaman per halaman. Dimana semua halaman dalam satu edisi digabung dan dilengkapi dengan daftar isi, untuk kemudian diunggah ke dalam laman MMI,” ucapnya.

Jumpa pers MMI
(Jumpa pers MMI dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang dengan awak media di Hotel Pelangi, Kamis (17/12). Photo Courtesy : ANC/Rolasnews)

Guna melengkapi pekerjaan dokumentasi tersebut, dibuat pula buku katalog yang dicetak secara terbatas. Katalog berisi gambar cover dan daftar isi setiap edisi majalah yang dilengkapi pula dengan story telling dari 8 majalah dan petikan sejarah musik populer di Indonesia tahun 1967-1978.

Sebelumnya, pekerjaan sejenis telah dilakukan MMI untuk 200 edisi majalah Aktuil (Bandung) penerbitan 1967-1978. Pekerjaan ini terlaksana atas dukungan dana dari UNESCO melalui program MOWCAP (Memory of The World Committee Asia Pacific).

“Kami sadari bahwa kegiatan pendokumentasian ini sebenarnya merupakan ikhtiar awal untuk mengumpulkan tulisan-tulisan sejarah musik yang bertebaran di berbagai media di tahun 1967-1978 dari 8 majalah. Namun mungkin di luar itu ada majalah lainnya atau di bawah tahun itu mungkin juga ada berita sejarah yang tercecer sehingga kita sebut bahwa kegiatan ini baru sekedar rintisan awal sehingga perlu dilengkapi dengan sejarah lainnya,” tuturnya.

Selanjutnya, disampaikan Hengky, kegiatan yang mentransformasikan koleksi museum dari wujud fisik ke wujud digital, memiliki tiga manfaat.

“Pertama adalah untuk pelindungan informasi agar tetap terjaga keberadaannya, sebab koleksi majalah yang berupa kertas sangat rawan terhadap kerusakan dan bias hilang,” ucapnya.

Manfaat kedua, daftar isi yang terdapat dalam laman MMI maupun catalog dapat menjadi bahan baku pangkalan data dalam Sistem Pendataan Kebudayaan Terpadu. Manfaat ketiga, informasi dapat diakses oleh masyarakat luas di seluruh wilayah dunia.

“Kemudian kepada para pelaku budaya di Kota Malang kami berharap bias memanfaatkan program FBK tahun 2021. Kesempatan terbuka tidak hanya untuk yang sudah berbadan hukum. Perorangan ataupun komunitas juga memiliki peluang yang sama untuk memperoleh bantuan Pemerintah,” terangnya.

Ketua MMI dan kabid dinas pendidikan dan kebudayaan kota Malang
(Ketua MMI, Hengki Herwanto, dan Kabid Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Dian Kuntari. Photo Courtesy : ANC/Rolasnews)

Komunitas Mata Hati, Wadah Penyandang Tuna Netra Kembangkan Potensi Diri

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Dr.Dian Kuntari, SSTP, M.Si, menyampaikan apresiasnya kepada tim MMI yang telah bekerja keras mengumpulkan dokumentasi sejarah musik populer.

“Ini merupakan hasil kerja keras dari tim MMI, Dimana kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil yang baik bagi pemajuan kebudayaan Indonesia,” tuturnya.

Kemajuan kebudaya Indonesia ini tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah saja, tetapi juga oleh masyarakat seperti MMI yang saat ini menjadi penyokong utama dari kemajuan kebudayaan Indonesia. (ANC)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *