Pedagang Warung Pinggir Jalan Sulit Bangkit di Tengah Pandemi

  • Whatsapp
Pedagang Warung Pinggir Jalan Sulit Bangkit di Tengah Pandemi
(Tutik di depan warungnya. Foto : SN/Rolasnews)
Rolasnews.com – Pandemi Corona menghantam banyak sektor, demikian pula dengan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi salah satu yang paling terpukul dan mengalami kesulitan memutar modal karena omzet yang menurun drastis. Termasuk di antaranya bidang kuliner mulai dari pembuat jajanan pasar hingga penjual di warung-warung pinggir jalan.

Sebenarnya tak hanya warung pinggir jalan saja yang terkena imbas pandemi, yang sekelas rumah makan sampai ke resto-resto besar pun tak kalah lesu didera pandemi.

Akan tetapi warung-warung kecil adalah yang terpukul paling parah, terutama karena keterbatasan modal.

Read More

Inilah yang juga dialami oleh Yulias Sri Hastutik yang kerap disapa Tutik. Ia merupakan seorang penjual makanan di warung pinggir jalan di Kota Malang. Selama pandemi COVID-19 merebak di Indonesia, Tutik sempat berhenti berjualan sementara selama 3 bulan.

“Selama pandemi saya libur jualan mulai bulan Maret hingga Juni, dan baru bulan Juli ini kami buka kembali,” tuturnya.

Beberapa makanan yang dijual Tutik cukup beragam. Mulai dari nasi bungkus yang berupa nasi putih dan nasi kuning, serta beberapa lauk seperti bacem tempe tahu, sate usus, sate puyuh dan aneka gorengan. Selain itu juga terdapat minuman seperti kopi, teh, dan air minum kemasan.

“Awal Juli saat mulai kembali berjualan penghasilan menurun. Pemasukan anjlok hampir 50 persen,” ungkap wanita paruh baya tersebut.

“Tak hanya menurunnya penjualan. Tapi beberapa bahan makanan seperti usus dan cabe harganya naik turun akhir-akhir ini,” jelasnya.

Tutik mengatakan bahwa para pelanggannya rata-rata kebanyakan dari para pelajar dan mahasiswa. Dengan adanya pandemi ini sebagian besar dari mereka libur dan pulang kampung ke tempat asal masing-masing.

“Sebelum adanya Corona saya bisa menjual sekitar 30 bungkus. Kalau sedang ramai bisa sampai 40-45 bungkus perharinya. Tapi saat Corona begini ya cuma terjual 12-17 bungkus setiap harinya,” imbuhnya.

Warung Tutik Sepi Pembeli
(Warung milik Tutik terus menurun pembelinya sehingga berpengaruh terhadap modal yang semakin lama semakin menyusut karena juga dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Foto : SN/Rolasnews)

Bank Dunia : Pandemi Covid-19 Ciptakan Jutaan Orang Miskin Baru di Asia

Himbauan pemerintah untuk tetap tinggal rumah juga membuat kondisi jalanan Kota Malang sedikit lebih lengang dari biasanya.

Tutik biasa berjualan dengan gerobaknya di Jalan Terusan Kawi dengan putrinya.

“Waktu Corona begini, dan saya berharap agar pandemi segera berakhir dan penjualan saya bisa normal lagi,” pungkas Tutik. (SN)

Related posts

Link Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *