0 Kasus Selama 17 Hari, Selandia Baru Cabut Semua Kebijakan Pembatasan

  • Whatsapp
0 Kasus Selama 17 Hari, Selandia Baru Cabut Semua Kebijakan Pembatasan
(Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengumumkan pencabutan seluruh pembatasan aktivitas penduduk setelah 17 hari tidak ditemukan satu pun kasus positif di negaranya. Foto : Asia Nikkei)
Rolasnews.com – Setelah lebih dari dua minggu tak ada laporan kasus terkonfirmasi positif COVID-19, Selandia Baru resmi mencabut semua pembatasan bisnis dan kegiatan sosial penduduknya. Kecuali di pucuk-pucuk perbatasan yang rentan penularan dari warga asing, pencabutan kebijakan pembatasan berlaku di seluruh negeri.

Hal itu disampaikan Perdana Menteri Jacinda Ardern dalam konferensi pers, Senin (8/6) waktu setempat. Ia mengatakan Selandia Baru berada dalam level terendah penyebaran COVID-19 dan akan mengendorkan status siaga yang berlangsung selama 75 hari. Ardern juga menyatakan mencabut seluruh kebijakan pembatasan untuk aktivitas bisnis, pertemuan sosial, dan semacamnya.

“Untuk saat ini, kami yakin telah menghentikan penularan virus di Selandia Baru. Namun untuk menjaga hal itu, tetap harus ada upaya berkelanjutan mencegah penyebarannya,” ujar Ardern.

Read More

Perdana Menteri perempuan dari Partai Buruh itu berterima kasih kepada “5 juta anggota tim”, merujuk jumlah penduduk Selandia Baru, yang mau mengorbankan kebebasan beraktivitas mereka selama 11 minggu terakhir sehingga negeri kiwi itu terbebas dari kasus tambahan COVID-19.

Hal ini menjadikan Selandia Baru negara pertama yang mengumumkan eliminasi virus di dalam negeri setelah 17 hari tanpa satu pun kasus baru dan 12 hari tanpa adanya laporan pasien yang masuk rumah sakit karena terinfeksi Virus Corona.

Selandia Baru menerapkan kebijakan pembatasan ketat (lockdown) sejak 25 Maret 2020 saat 280 warganya dilaporkan terinfeksi COVID-19. Hingga Senin kemarin, total kasus positif selama pandemi di negeri tetangga Australia itu hanya 1.504 dengan 22 kematian. Dihitung dari jumlah penduduknya, ini merupakan salah satu tingkat per kapita penyebaran COVID-19 terendah di dunia.

Meski Pandemi Meluas, Sejumlah Negara Longgarkan Kebijakan Lockdown

Meski demikian, Ardern mengungkapkan, kebijakan pembatasan ketat tetap diberlakukan khususnya di daerah-daerah perbatasan dan pintu keluar masuk negaranya demi mencegah munculnya kasus baru. Namun langkah ini bukan berarti meniadakan kemungkinan terjadinya penularan atau munculnya kasus baru.

“Sekali lagi ingin saya katakan, hampir pasti akan ada kasus positif lagi di sini. Tetapi saat itu terjadi, bukan berarti kita gagal. Itulah realita virus ini. Kita musti waspada dan siap menghadapi adanya penularan kembali di masa depan,” jelasnya.

Karena itulah, Ardern menegaskan, perbatasan menjadi garis pertahanan pertama yang wajib dijaga agar negaranya tidak sampai kecolongan masuknya virus lagi.

Related posts

Link Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *