Trump Ancam Menerjunkan Militer untuk Kembalikan Ketertiban

  • Whatsapp
Trump Ancam Menerjunkan Militer untuk Kembalikan Ketertiban
(Pasukan Garda Nasional atau National Guard berpatroli di Distrik Fairfax, Los Angeles, hari Minggu lalu. Presiden Donald Trump mengancam akan menerjunkan militer untuk mengembalikan ketertiban setelah AS dilanda gelombang demonstrasi selama sepekan terakhir yang menimbulkan kerusuhan di berbagai penjuru negeri. Demonstrasi dipicu tewasnya George Floyd akibat aksi brutal polisi. Foto : Getty Images)
Rolasnews.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, hari Senin malam menyatakan akan mengerahkan segala sumber daya federal untuk mengatasi aksi unjuk rasa memprotes kelakuan brutal polisi sehingga menyebabkan tewasnya George Floyd. Trump mengancam tak akan segan-segan menerjunkan militer untuk mengembalikan ketertiban di negaranya.

Presiden AS itu juga mendorong semua walikota dan gubernur negara bagian untuk mengerahkan Garda Nasional atau National Guard di wilayah masing-masing. Ia meminta agar para walikota dan gubernur untuk “sepenuhnya menegakkan hukum demi mempertahankan kehidupan dan properti milik warga mereka”.

Jika tidak ada tindakan dan aksi unjuk rasa yang diwarnai kekerasan dan penjarahan terus berlarut-larut, ia mengancam akan menerjunkan militer.

Read More

Pernyataan Trump ini dikeluarkan di Washington DC sebagai tanggapan atas meningkatnya aksi demonstrasi yang disertai kerusuhan dan pembakaran di ibukota negara adi daya itu. Sang Presiden bahkan harus diungsikan ke bunker demi pengamanan karena aksi demonstrasi sudah mencapai depan Gedung Putih.

“Kewajiban utama dan tertinggi saya sebagai presiden adalah membela negara dan rakyat Amerika. Saya bersumpah menegakkan hukum dan itu pasti akan saya lakukan,” kata Trump dalam video conference yang ditujukan kepada para kepala negara bagian dan otoritas penegak hukum menyikapi aksi unjuk rasa yang sudah berlangsung selama sepekan di seluruh penjuru AS.

“Saya akan mengirim ribuan tentara bersenjata lengkap, personel militer dan petugas penegak hukum untuk menghentikan kerusuhan, penjarahan, vandalisme, penyerangan dan perusakan properti secara ugal-ugalan,” imbuhnya.

Sebagai informasi, sekitar 17.000 personil National Guard telah dikerahkan di 24 negara bagian untuk membantu aparat kepolisian mengawal aksi unjuk rasa. Jumlah itu masih bisa bertambah mengingat total National Guard ada 350.000 yang tersebar di seluruh negeri.

Selain mendesak para gubernur negara bagian untuk “mengambil alih kembali jalanan”, Trump juga mengkritik respon mereka atas aksi unjuk rasa yang berakhir dengan kekerasan.

“Kebanyakan dari kalian terlalu lemah. Mustinya lebih banyak lagi yang ditangkap,” semprotnya.

Namun kekesalan Trump ini bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan. Ribuan pengunjuk rasa telah ditangkap sepanjang akhir pekan kemarin setelah mereka bentrok dengan aparat keamanan dan menentang diberlakukannya jam malam.

Penangkapan Pengunjuk Rasa di Boston
(Penangkapan pengunjuk rasa di Boston. Foto : WBUR)

Sebagian yang ditangkap tersebar di berbagai kota-kota besar AS seperti Los Angeles, New York, Miami, Chicago, Seattle, Salt Lake City, serta Minneapolis.

Minneapolis yang berada di Negara Bagian Minnesota adalah kota yang menjadi TKP tewasnya George Floyd, seorang warga kulit hitam, akibat ulah brutal seorang polisi kulit putih. Sentimen rasialis kemudian berkembang menjadi gelombang demostrasi besar-besaran di AS, juga dunia.

Perusakan Kantor Polisi di Minneapolis
(Perusakan kantor polisi di Minneapolis sebagai ungkapan kemarahan warga atas tewasnya Floyd. Foto : AP Photo)

Unjuk Rasa Kecam Aksi Brutal Polisi di AS Merembet ke Berbagai Negara

Untuk mengaktifkan militer agar dapat beroperasi di negaranya, Trump harus meminta persetujuan diberlakukannya “Undang-Undang Pemberontakan tahun 1807”.

Sekretaris Gedung Putih, Kayleigh McEnany sebelumnya mengatakan UU tersebut merupakan “salah satu perangkat yang tersedia” yang dapat digunakan Presiden AS.

Akan tetapi pelibatan militer untuk mengatasi aksi unjuk rasa ditentang Gubernur Illinois, J.B. Pritzker. Dilansir dari United Press Internasional, ia mengatakan negara bagian yang dipimpinnya tidak akan meminta bantuan militer. Ia juga mempertanyakan legalitas pernyataan Trump yang akan menerjunkan militer.

“Itu ilegal. Ia tak bisa melakukannya. Kami juga tidak akan meminta bantuan militer di negara bagian Illinois,” kata Pritzker.

Aksi Pembakaran di Texas
(Aksi pembakaran di depan polisi di Austin, Texas. Aksi-aksi vandalisme inilah yang membuat Trump mengancam akan menerjunkan militer untuk mengembalikan ketertiban di negaranya. Foto : Getty Images)

Hal senada diungkapkan Walikota Washington DC, Muriel Browser. Dalam akun twitternya hari Senin malam, ia mengutuk tindakan represif penegak hukum federal terhadap para pengunjuk rasa.

“Saya sudah memberlakukan jam malam sejak pukul 7. 25 menit menjelang jam malam dan tanpa provokasi apa pun, aparat federal tiba-tiba bertindak represif pada para pengunjuk rasa yang melakukan aksi damai di depan Gedung Putih. Tindakan ini akan makin menyulitkan pekerjaan polisi Washington DC. Memalukan!” cuit Browser.

Aksi Brutal Derek Chauvin
(Tindakan Derek Chauvin, polisi Minnesota, yang menekankan lututnya selama beberapa menit ke leher George Floyd menyebabkan pria kulit hitam yang dituduh tindak kriminal ringan itu tak bisa bernafas dan akhirnya tewas. Tewasnya Floyd memicu aksi demonstrasi di seluruh Amerika. Foto : Twitter)

Sementara itu, Walikota New York, Bill de Blasio, yang menolak pemberlakuan jam malam, mengapresiasi polisi yang mampu menahan diri. Meski begitu, ia prihatin dengan viralnya sejumlah video yang menayangkan bentrok antara polisi dengan pengunjuk rasa.

“Para demonstran adalah manusia yang musti diperlakukan dengan baik. Begitu pula dengan polisi yang bertugas. Keduanya harus diperlakukan dengan penuh respek,” tegas de Blasio.

Related posts

Link Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *