India Longgarkan Kebijakan Lockdown untuk Gerakkan Ekonomi

India Longgarkan Kebijakan Lockdown untuk Gerakkan Ekonomi
(Toko-toko kelontong yang kembali buka di Prayagraj, India, Sabtu (25/4). Beroperasinya kembali unit-unit usaha masyarakat bawah ini disambut lega karena warga dapat mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Foto : AP Photo)
Rolasnews.com – Pemerintah India sedikit melonggarkan kebijakan lockdown demi menghentikan penyebaran pandemi COVID-19. Langkah ini diambil demi menggerakkan perekonomian, terutama masyarakat kelas bawah, di negara itu.

Pembukaan kembali toko-toko kelontong yang menjual mulai dari minuman dingin hingga kartu ponsel pada hari Sabtu (25/4) melegakan banyak warga India. Pasalnya, di negara berpenduduk 1,3 milyar tersebut, perekonomian nyaris stagnan akibat kebijakan lockdown super ketat yang diberlakukan sejak 24 Maret 2020. Tak heran jika kemudian banyak keluh kesah dan protes dari para penduduk karena kesulitan mencari nafkah.

Namun kebijakan lockdown tetap berlaku untuk pusat-pusat perbelanjaan besar.

Read More

“Ini adalah keputusan yang bijak,” kata Amit Sharma, seorang arsitek.

“Kita musti melonggarkan (kebijakan lockdown, red) untuk hal-hal kecil dan biarkan roda ekonomi bergerak. Masyarakat bawah harus memiliki sumber penghasilan. Wabah ini bisa berlangsung lama,” imbuhnya.

Sebelumnya, pada pekan lalu, Pemerintah India juga sudah mengijinkan sektor manufaktur dan pertanian beraktivitas kembali. Hal ini demi meringankan ekonomi jutaan orang yang hidup dari upah harian yang sempat kehilangan pekerjaan sejak penerapan lockdown di seantero negeri.

Perintah tinggal di rumah sangat membatasi aktivitas penduduk. Mereka hanya diperbolehkan keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan primer seperti membeli makanan, obat-obatan atau kebutuhan mendesak lainnya.

Baca Juga : Lockdown Dicabut, Aktivitas Transportasi di Wuhan Berangsur Normal

Pemerintah India menerapkan secara ketat kebijakan lockdown demi memutus rantai penyebaran pandemi COVID-19 yang telah menewaskan ratusan penduduk di negara Asia Selatan itu. Apaalgi dengan padatnya jumlah penduduk di sebagian besar wilayah serta kondisi kumuh yang melingkupinya, dikhawatirkan wabah akan cepat berkembang dan semakin sulit dikendalikan.

Namun kebijakan membatasi aktivitas penduduk tersebut ternyata menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang cukup parah. Banyak warga yang menderita kelaparan karena ditutupnya akses untuk memenuhi hajat hidup mereka.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.