Hartini, Bakul Pecel yang Melanglang Dunia Berkat Asuransi

  • Whatsapp
Hartini, Bakul Pecel yang Melanglang Dunia Berkat Asuransi
(Hartini, bakul pecel yang melanglang buana berkat nyambi di perusahaan asuransi. Foto : Ist)
Link BannerLink Banner
Rolasnews.com – Semasa sekolah, ada beberapa kriteria yang membuat seseorang sulit dilupakan, bahkan hingga puluhan tahun kemudian. Beberapa kriteria tersebut di antaranya adalah ganteng atau cantik, pintar, bandel serta terkenal banyak omong alias ceriwis.

Hartini masuk dalam salah satu kriteria tersebut. Kendati parasnya, kalau kate orang Betawi “kagak lebih banyak kurangnye”, namun Hartini relatif banyak dikenal teman-temannya semasa bersekolah di SMP Negeri 12 Surabaya.

Ini karena perempuan kelahiran Kota Pahlawan 5 juni 1972 itu, memiliki sifat centil, setengah bawel, kadang kemeruh (sok ngerti, red). Tapi justru gara-gara sifat-sifat demikianlah ia tak mudah dilupakan teman-temannya.

Read More

Link Banner Link Banner

“Saya sering menjadi korban “bully-an” arek-arek saat ada acara ngumpul-ngumpul. Baik itu di acara reunian, pengajian atau arisan emak-emak alumni. Tapi bully-an itu adalah cara akrab kita berkomunikasi. Guyonan Suroboyoan. Jadi ya ga diambil hati lah,” kata Hartini.

Hartini Semasa Sekolah
(Hartini (dilingkari kuning) bersama teman-teman di masa sekolah. Foto : Ist)

Di SMPN 12, Hartini pernah ngendon di Kelas I C, 2 F & 3 D. Sekolah yang berlokasi di Jalan Ngagel Kebonsari tersebut mulai dari kelas 1 hingga kelas 3 masing-masing memiliki 14 kelas. Tak heran jika jumlah alumninya membludak setiap tahunnya.

Hartini lulus SMP tahun 1988.

Selepas SMP, ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMAN 16, Surabaya. Sebenarnya ia ingin melanjutkan ke jenjang kuliah. Sayang, ia gagal di ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Untuk mengisi waktu, Hartini mengambil kursus komputer. Kemudian melamar dan diterima di sebuah perusahaan kontraktor di kawasan Margomulyo, Surabaya. Setelah 9 tahun bekerja di perusahaan tersebut, ia memutuskan resign.

Jenuh karena beberapa bulan nganggur, Tince, sapaan akrab Hartini, mengikuti kursus memasak dan sempat menjalankan usaha katering selama 1 tahun. Sampai akhirnya ia mencoba membuka warung pecel sendiri di awal tahun 2000-an.

Haritni, Bakul Pecel yang Sempat Melanglang Buana
(Hartini, dengan pecel dagangannya. Foto : Ist)

“Banyak saudara yang usaha jadi bakul pecel di Surabaya. Mereka juga yang mengawali jualan pecel di mobil di sini,” ujar Hartini.

Lebih lanjut ia menuturkan, awalnya bersama suami ia berjualan pecel dengan modal satu mobil di Bogowonto, Wonokromo, Surabaya. Hanya bertahan satu tahun karena sering diobrak Satpol PP. Usaha pecel itu lalu dipindah ke Jalan Bodri hingga sekarang. Sementara mobil tetap dipakai sang suami jualan pecel di Kalibokor.

Warung pecel yang ia namakan “Pecel Ponorogo Bu Pri” itu sempat menjadi tumpuan keluarga. Hingga kemudian jalinan pertemanan dengan para alumni SMPN 12 Surabaya terbuka kembali di tahun 2010.

Bersama Rekan2nya Sesama Alumni SMPN 12
(Bersama rekan-rekannya sesama alumni SMPN 12 Surabaya di depan warung pecelnya. Foto : Ist)

Sesekali Nongkrong di Warung

Sesekali Nongkrong di Warung
(Warung pecelnya kerap dikunjungi teman-temannya semasa sekolah. Foto : Ist)

“Mulanya kita bertemu melalui Facebook. Terus kita bentuk arisan-arisan. Dari ngumpul-ngumpul itu kita adakan reuni I di Sheraton Hotel tahun 2011. Di 2014, reunian 25 tahun. Dan yang terakhir, tahun 2018 lalu, reunian yang ke 30 tahun,” kata Hartini.

Tak puas hanya berjualan pecel, dua tahun sebelumnya ibu berputra dua ini juga bekerja di Asuransi Manulife sebagai marketing. Dari perusahaan asuransi inilah ia mengecap pengalaman bepergian ke luar negeri.

Di Manulife
(Lebih dari 10 tahun Hartini juga berkarier di Manulife. Foto : Ist)

“Pertama kali naik pesawat di tahun 2009, ya dari Manulife. Sampai keterusan beberapa kali ke luar negeri. Boleh dibilang, saya ini bakul pecel yang melanglang dunia berkat asuransi,” ujarnya terkekeh.

Setengah bergurau, Hartini juga menceritakan pengalaman lucu tapi kurang mengenakkan yang dialaminya di tahun 2010.

“Waktu itu ditugaskan oleh perusahaan ke luar negeri. Tapi sempat sedikit ada masalah dengan imigrasi. Mungkin karena dipikirnya saya ini TKW, maklum tampang ndeso banget. Apalagi beda dengan penampilan orang-orang Manulife lainnya. Tapi tetap saja, pihak perusahaan ngamuk-ngamuk dengan perlakuan diskriminatif imigrasi itu,” tuturnya.

Bakul Pecel Mampir ke Jepang
(Dengan bekerja di Asuransi, Hartini sempat berkelana ke beberapa negara. Salah satunya, ke Jepang. Foto : Ist)
Di Australia
(Si Bakul Pecel di Australia. Foto : Ist)

Bagi Hartini, di masa-masa sekarang ini ia ingin lebih menikmati hidup. Berkumpul dengan teman-teman dan mengikuti berbagai kegiatan sosial merupakan saat-saat menyenangkan. Apalagi dua anaknya sudah besar-besar.

Yang sulung, perempuan, sudah masuk tahap pengerjaan skripsi di Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya). Sementara yang bungsu, laki-laki, saat ini sudah duduk di Kelas 1 SMA Muhammadiyah, Gadung, Surabaya.

Bersama Kedua Buah Hatinya
(Hartini bersama kedua buah hatinya. Foto : Ist)

Meski demikian, Hartini tak memungkiri bahwa di usianya yang hampir menginjak setengah abad, ia masih mempunyai impian.

“Pingin semakin sukses karir di Manullife. Juga dapat mengembangkan warung pecel menjadi semacam resto,” tutupnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 comments