Manfaat Diet Keto Turunkan Lemak Hati dan Perbaiki Gula Darah

Manfaat Diet Keto Turunkan Lemak Hati dan Perbaiki Gula Darah
Ilustrasi makanan rendah karbohidrat.

Rolasnews.com – Diet keto sangat rendah karbohidrat mungkin memberikan manfaat metabolik tambahan bagi sebagian orang yang mengalami obesitas, prediabetes, dan penyakit perlemakan hati.

Dalam uji klinis yang dikontrol ketat, para peneliti menemukan diet ketogenik menghasilkan perbaikan lebih besar pada lemak hati dan beberapa indikator kontrol gula darah dibandingkan diet Mediterania maupun diet rendah lemak yang berfokus pada tanaman.

Read More

Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 27 Agustus di jurnal Cell Metabolism.

Tim yang dipimpin peneliti dari Washington University School of Medicine di St. Louis merancang studi untuk menjawab pertanyaan penting. Apakah jenis makanan yang dikonsumsi tetap berpengaruh di luar jumlah berat badan yang hilang?

Obesitas masih menjadi masalah umum dan erat kaitannya dengan sejumlah penyakit metabolik. Di Amerika Serikat, sekitar empat dari sepuluh orang dewasa mengalami obesitas. Kondisi ini meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, perlemakan hati, dan berbagai masalah kesehatan jangka panjang lainnya.

Prediabetes juga menjadi sinyal peringatan. Kadar gula darah sudah lebih tinggi dari normal, tetapi belum mencapai ambang diagnosis diabetes tipe 2. Tanpa perubahan berat badan, pola makan, aktivitas fisik, atau pengobatan, sebagian orang dengan prediabetes akhirnya berkembang menjadi diabetes.

Penyakit perlemakan hati (fatty liver disease) juga sangat berhubungan dengan obesitas dan resistensi insulin. Lemak berlebih menumpuk di dalam hati dan seiring waktu dapat memicu peradangan serta kerusakan organ pada sebagian orang.

Penurunan berat badan memang mampu memperbaiki ketiga kondisi tersebut. Namun, para ilmuwan terus memperdebatkan apakah ada jenis diet tertentu yang memiliki efek metabolik khusus yang tidak semata-mata disebabkan oleh turunnya berat badan.

Percobaan 3 Pola Makan

Untuk menjawab pertanyaan itu, peneliti merekrut 42 orang dewasa yang mengalami obesitas, prediabetes, dan perlemakan hati. Peserta secara acak dibagi ke dalam tiga pola makan: diet ketogenik, diet Mediterania, atau diet rendah lemak yang berfokus pada tanaman.

Studi ini lebih terkontrol dibanding banyak penelitian diet sehari-hari karena seluruh makanan peserta disediakan oleh tim peneliti. Peserta juga bertemu dengan ahli gizi setiap minggu sehingga kepatuhan terhadap diet yang ditetapkan dapat dipastikan.

Ketiga diet tersebut memiliki proporsi karbohidrat dan lemak yang sangat berbeda.

Diet ketogenik hanya menyumbang 4 persen kalori dari karbohidrat dan 73 persen dari lemak. Pola ini sangat rendah karbohidrat dan tinggi lemak.

Diet Mediterania menyediakan sekitar 50 persen kalori dari karbohidrat dan 35 persen dari lemak. Pola makan ini menekankan sayuran, kacang-kacangan, minyak zaitun, dan makanan berbasis tanaman lainnya, disertai asupan ikan dan produk susu dalam jumlah sedang.

Sementara itu, diet rendah lemak berfokus pada tanaman berada di ujung spektrum yang berlawanan. Sekitar 70 persen kalori berasal dari karbohidrat dan hanya 15 persen dari lemak.

Yang penting, para peneliti menyesuaikan asupan kalori agar peserta di ketiga kelompok mengalami penurunan berat badan yang kurang lebih sama. Setiap peserta ditargetkan turun sekitar 10 persen dari berat badan awal, yang umumnya tercapai dalam empat hingga lima bulan.

Desain ini memungkinkan peneliti memisahkan efek penurunan berat badan dari pengaruh komposisi diet. Jika semua orang kehilangan berat badan yang serupa, tetapi satu kelompok menunjukkan perubahan metabolik yang lebih besar, perbedaan itu lebih mungkin terkait dengan isi diet itu sendiri.

Ketiga diet berhasil memberikan perbaikan kesehatan yang berarti. Peserta kehilangan lemak tubuh dan menjadi lebih peka terhadap insulin, artinya tubuh mereka lebih mampu merespons hormon yang mengatur kadar gula darah.

Baca Juga:

 Diet Karbohidrat Efektif Kendalikan Berat Badan

Saat Kecil Banyak Konsumsi Makanan Ultra-Proses, Berpotensi Obesitas Saat Dewasa

Namun, kelompok diet ketogenik menunjukkan perbaikan terbesar dalam beberapa parameter. Lemak hati turun rata-rata 67 persen pada peserta yang mengikuti diet ketogenik, dibandingkan sekitar 45 persen pada kelompok diet Mediterania maupun diet rendah lemak berfokus tanaman.

Para peneliti juga memantau aktivitas metabolik selama 24 jam dengan berulang kali memeriksa darah peserta. Kelompok ketogenik menunjukkan kenaikan glukagon terbesar. Hormon ini mendorong hati melepaskan dan memanfaatkan energi tersimpan, serta berpotensi membantu mengurangi lemak hati dalam kondisi tersebut.

Kelompok yang sama juga mengalami penurunan kadar insulin paling besar. Kadar insulin yang lebih rendah dapat mendorong tubuh menggunakan lemak tersimpan dan berkontribusi pada berkurangnya kelebihan lemak di hati.

Salah satu temuan yang mengejutkan peneliti adalah, meskipun hampir tiga perempat kalori berasal dari lemak, peserta kelompok ketogenik tidak mengalami kenaikan kadar lemak darah atau kolesterol selama masa penelitian.

Hasil paling mencolok terkait prediabetes. Setelah periode penurunan berat badan, sekitar separuh peserta yang mengikuti diet ketogenik tidak lagi memenuhi kriteria prediabetes dalam studi ini.

Sebagai perbandingan, hanya sekitar 29 persen peserta diet Mediterania dan 7 persen peserta diet rendah lemak berfokus tanaman yang tidak lagi memenuhi kriteria tersebut.

Manfaat Metabolik dari Pengurangan Karbohidrat

Temuan ini mengisyaratkan bahwa pembatasan karbohidrat mungkin memberikan efek tambahan terhadap pengaturan gula darah pada sebagian peserta.

Penulis korespondensi Samuel Klein menyatakan bahwa hasil penelitian menunjukkan orang dengan obesitas, prediabetes, dan kadar lemak hati tinggi mungkin memperoleh manfaat metabolik dari pengurangan asupan karbohidrat yang melampaui sekadar penurunan berat badan.

Penulis pertama Max Petersen menambahkan bahwa hasil ini menunjukkan komposisi diet tetap relevan di era obat penurun berat badan kuat seperti obat berbasis GLP-1 yang semakin tersedia.

Temuan ini menarik karena berasal dari uji coba pemberian makanan yang sangat terkontrol, bukan sekadar menanyakan apa yang dimakan peserta. Penyediaan makanan, pertemuan rutin dengan ahli gizi, dan penyamaan penurunan berat badan di ketiga kelompok mempermudah perbandingan antar-diet.

Namun, studi ini berskala kecil karena hanya mengikutkan 42 peserta. Durasinya pun hanya berlangsung hanya sekitar empat hingga lima bulan. Artinya, penelitian belum dapat menjawab apakah keuntungan yang sama akan bertahan selama bertahun-tahun, apakah orang dapat mempertahankan diet ketogenik yang sangat ketat dalam kehidupan sehari-hari, atau apakah efek jangka panjangnya tetap menguntungkan.

Hasil ini juga tidak boleh diartikan bahwa diet ketogenik secara otomatis menjadi pilihan terbaik bagi semua orang dengan obesitas. Pola makan yang hanya memperoleh 4 persen kalori dari karbohidrat bersifat sangat restriktif. Kondisi medis individu, preferensi makanan, kualitas nutrisi, penggunaan obat, dan kemampuan mempertahankan diet semuanya perlu dipertimbangkan.

Secara keseluruhan, uji coba ini memberikan bukti bahwa penurunan berat badan bermanfaat pada berbagai pola makan yang sangat berbeda. Hal ini sekaligus mengisyaratkan bahwa pembatasan karbohidrat yang ekstrem mungkin menawarkan keuntungan metabolik jangka pendek tambahan bagi orang yang mengalami obesitas, prediabetes, dan perlemakan hati.

Penelitian yang lebih besar dan lebih panjang masih diperlukan untuk menilai seberapa tahan lama perbaikan tersebut. Juga apakah keseimbangan manfaat dan risikonya tetap menguntungkan dalam jangka panjang.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *