Edukasi Investasi Cerdas di Tengah Pandemi, BPF Malang Gelar Investment Outlook 2022

Edukasi Investasi Cerdas di Tengah Pandemi, BPF Malang Gelar Investment Outlook 2022
(Investment Outlook 2022 “Pilihan Cerdas Investasi di Era New Normal” di UB. Ist)

Rolasnews.com – Sejak pandemi COVID-19 melanda tiga tahun silam telah mendorong perubahan perilaku dan cara berinvestasi sebagian besar orang. Hal ini ditopang pula dengan  kemunculan beragam jenis investasi berbasis online yang semakin menjamur. Sehingga memudahkan orang untuk mendapatkan keuntungan di mana pun dan kapan pun hanya dengan bermodalkan ponsel pintar.

Melihat fenomena ini, PT Bestprofit Futures Malang bersama dengan PT Bursa Berjangka Jakarta, PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) dan Universitas Brawijaya (UB) menggelar Investment Outlook 2022 bertajuk “Pilihan Cerdas Investasi di Era New Normal”.

Read More

Bertempat di Grand Mercure Hotel Kota Malang, acara ini juga dihadiri oleh para mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Kota Malang.

Pimpinan Cabang PT Bestprofit Futures Malang, Andri mengatakan bahwa saat ini pilihan investasi semakin beragam. Terutama di era new normal di masa pandemi, banyak pergeseran investasi konvensional menjadi online dan jenis investasi baru mulai hadir.

“Yang jelas, sebelum kita memutuskan instrumen investasi yang tepat, harus tahu tujuan dan target jangka waktu yang kita inginkan untuk mendapatkan return dari portfolio investasi yang kita tempatkan” ujarnya, Kamis (20/1/2022).

Sebagai contoh, properti, dan obligasi, lanjutnya, merupakan investasi yang menjanjikan dari sisi return, namun bersifat jangka panjang. Sementara jika ingin mendapatkan return yang positif dan bersifat likuid, maka Perdagangan Berjangka bisa menjadi pilihan alternatif, terutama untuk produk emas.

“Terbukti dimulai sejak tahun 2020 ketika COVID-19 awal-awal melanda, harga emas langsung mencuat. Bahkan hingga menyentuh harga hampir Rp 2 juta/gr atau US$ 1.970/toz,” ungkapnya.

Lebih lanjut Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta, Stephanus Paulus Lumintang mengatakan, akibat COVID-19 melanda telah terjadi perubahan radikal dalam kehidupan dan perputaran ekonomi sehingga dibutuhkan fleksibilitas dalam segala hal.

Di tahun 2022, Pemerintah Republik Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,8%-5,9%. Tingkat optimisme ini karena terjadi super cylce commodity.

“Sejak akhir 2021, sejumlah harga komoditi mengalami lonjakan harga seperti CPO, kopi, kakao dan komoditi lainnya. Hal ini berimbas positif terhadap return pada kontrak komoditi di pasar bursa berjangka,” sebutnya.

Baca Juga :

Kuartal III, BPF Malang Catatkan Peningkatan Volume Transaksi dan Jumlah Nasabah

Kemudian Ekonom Universitas Brawijaya, Wildan Syafitri mengatakan bahwa faktor kenaikkan harga komoditas saat ini disebabkan oleh suply chain yang mengalami penurunan. Dengan tren peningkatan harga tersebut mendorong terjadinya volatilitas yang membuat nilai perdagangan kontrak berjangka komoditi semakin menarik di bursa berjangka.

Adapun faktor yang mempengaruhi Bursa Berjangka antara lain Consumer Confidence Index, Consumer Price Index, Stock Market Index, Suku bunga, money supply dan gross domestic product.

“Hasil dari pasar India menunjukkan bahwa variabel makroekonomi nasional, dan internasional memiliki kesan positif pada volatilitas pasar komoditi” jelasnya.

Para narasumber Investment Outlook 2022 di UB
(Para narasumber diskusi Investment Outlook 2022 di UB. Ist)

Sementara itu Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero), Fajar Wibhiyadi mengatakan, saat ini masyarakat dihadapkan pada berbagai peluang investasi yang cukup menjanjikam dengan transaksi yang semakin mudah dan cepat.

Namun demikian, masyarakat juga harus menjadi investor yang cerdas dengan memilih perusahaan investasi yang legal dan terdaftar di badan pengawas pemerintah.

“Khusus di pialang berjangka maka harus diperhatikan dulu apakah pialang tersebut terdaftar atau tidak di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi,” tuturnya.

Selain itu pelajari juga risikonya. Sebab setiap investasi memiliki risikonya sendiri. Semakin tinggi tingkat return yang dihasilkan maka semakin tinggi pula risikonya.

“Tapi jangan pernah tergiur dengan tawaran fixed income,” pungkasnya. (ANC)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.