Refleksi Hari Guru Nasional, UMM Kenang Sang Guru Bangsa Malik Fadjar

  • Whatsapp
Refleksi Hari Guru Nasional, UMM Kenang Sang Guru Bangsa Malik Fadjar

Rolasnews.com – Bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar refleksi dengan mengenang H. Malik Fadjar, M.Sc., Sang Guru Bangsa. Dalam kegiatan yang berlangsung di Hall Dome UMM ini diiikuti oleh dosen dan karyawan secara daring dan luring.

Tidak hanya itu, dalam gelaran tersebut juga ada pelucuran tiga buku yang membahas Malik Fadjar dan juga launching lagu ‘Ampunkanku Ya Rabbi’ karya warga binaan Lapas Perempuan Kota Malang. Sekaligus menghadirkan pembicara yang merupakan kerabat dan saksi hidup kiprah Malik Fadjar pada Kamis (25/11).
(Tiga buku Prof. Abdul Malik Fadjar yang diluncurkan pada saat peringatan hari guru di UMM. Credit : ANC)

Mewakili Rektor UMM, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si dalam sambutannya mengatakan, dua momentum yang diperingati hari ini sangat berkaitan dengan Pak Malik Fadjar.

Read More
Pertama adalah momentum Dies Natalis UMM dimana dalam usia yang menapaki tahun ke 57, pasti ada histori, tradisi, prestasi dan reputasi.

“Contohnya kemarin UMM dikukuh sebagai kampus unggul kategori universitas untuk ke 14 kalinya secara berturut-turut. Ini semua  tidak terlepas dari tangan dingin Pak Malik,” ucapnya.

Ditambah lagi, dulu UMM masih tidak ada apa-apanya. Tapi begitu pak Malik datang dan di backup oleh kepemimpinan yang bagus, Alhamdulillah sekarang UMM sudah disebut sebagai universitas yang telah memiliki reputasi.

Kemudian yang kedua adalah momentum hari guru dimana Pak Malik juga merupakan seorang bahkan disebut sebagai guru bangsa.

“Saya sendiri sudah merasakan bagaimana sentuhan dari pak Malik. Pak Malik adalah guru yang bukan hanya sebagai motivator, tetapi juga menginspirasi,” akunya.

Wakil Rektor I UMM
(Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin,M.Si. credit : ANC)

Sementara itu turut hadir secara daring Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM sekaligus Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. Ia mengaku bahwa telah mengetahui Malik sejak kelas 3 SMP. Diceritakan Muhadjir, Malik sempat ingin pergi ke Jakarta namun diyakinkan untuk berkiprah di UMM.

“Bersama salah satu teman, kami berhasil meyakinkan Pak Malik bahwa dia bisa menjadi orang hebat meski berada di Malang, tepatnya berjuang membangun UMM,” tuturnya.

Sayangnya, Malik waktu itu belum memiliki kartu anggota Muhammadiyah. Sehingga tidak bisa mencalonkan diri menjadi rektor UMM. Muhadjir mengatakan bahwa ia sampai bersusah payah ke Yogyakarta untuk mengurusnya.

“Berbagai pengalaman yang telah dilalui oleh Pak Malik menjadi pengingat bagi kita untuk terus meneladani kehumanisan dan pandangan-pandangan yang luar biasa,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.Si mengatakan bahwa agenda ini merupakan hal yang penting. Apalagi jika para peserta dan tamu ingin menjadi manusia yang sukses. Maka, Malik Fadjar adalah sosok yang tepat karena telah sukses dalam aspek keluarga, perjuangan politik, dan juga dalam dunia pendidikan

Imam menyampaikan hal menarik bagaimana Malik Fadjar sangat menghargai dan menghormati istrinya. Ia selalu berdiskusi terkait keputusan-keputusan yang ia buat. Bakan masalah-masalah pelik yang sedang Malik hadapi. “Kehidupan Pak Malik yang lapang dan lancar tentu salah satunya ditopang oleh doa-doa, puasa dan juga tahajud dari Bu Malik. Tidak seperti istri Abu Lahab yang malah mengompori, ketika Pak Malik pulang dengan kepenatan, Bu Malik hadir untuk mendinginkan,” tuturnya.

Ia juga mengenang bagaimana Malik tidak suka sama sekali dengan budaya ‘titip-menitip’. Mereka yang dititipkan adalah mereka yang bermasalah. Jika orang yang bermasalah dimasukkan ke universitas, maka tinggal menunggu waktu saja menjadi perguruan tinggi yang bermasalah.

“Dulu, Pak Malik juga berpesan bahwa dosen itu memberikan cahaya. Selalu terang di berbagai aspek seperti agama, ilmu dan lainnya. Jika seorang dosen gelap, maka akan melahirkan kegelapan. Sebaliknya, jika terang, akan menghasilkan cahaya terang,” tegasnya. (ANC)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *