Napi Wanita di AS dan Inggris Tak Nyaman Berbagi Sel dengan Napi Transgender

Napi Wanita di AS dan Inggris Tak Nyaman Berbagi Sel dengan Napi Transgender
(Penempatan napi transgender di penjara wanita dipandang sebagai kebijakan yang kurang peka terhadap perasaan para napi wanita. Credit: iStockphoto)

Rolasnews.com – Napi wanita di Amerika Serikat dan Inggris banyak yang merasa terintimidasi karena ditempatkan dalam satu penjara, bahkan berbagi sel dengan napi transgender alias waria. Kebijakan yang dianggap terlalu mengistimewakan hak-hak kaum transgender itu menimbulkan ekses kekerasan dan serangan seksual terhadap para napi wanita lainnya.

Tomiekia Johnson adalah salah satunya. Ia pada tahun 2012 divonis 50 tahun penjara dengan dakwaan membunuh suaminya karena tak kuat terus menerus mengalami KDRT. Mantan petugas patroli jalan raya di California itu mengeluh ditempatkan dalam satu sel dengan seorang napi transgender yang digambarkannya “sangat kasar dan vulgar”.

Read More

Dikutip RT, Johnson mengatakan napi itu kerap memaksa napi wanita di penjara untuk membersihkan kamar mandi dan mengepel lantai. Pemaksaan dengan intimidasi kekerasan itu mengingatkannya pada kekerasan domestik yang pernah ia alami sehingga berujung pada kasus pembunuhan.

Meski napi itu diidentifikasi sebagai wanita, namun secara biologis ia tetaplah laki-laki. Tak hanya itu, menurut Johnson si napi dikabarkan memiliki kekasih sesama napi yang sering “dipukuli” dan “dicekik” manakala menolak hasrat seksualnya.

“Jika menolak berlaku romantis, ia akan marah dan menyerangnya. (Sayangnya) ia tidak mau melaporkannya,” ujar Johnson merujuk pada sikap pasrah si “kekasih” yang adalah seorang wanita tulen.

Johnson meyakini penempatan napi transgender satu sel dengannya bukanlah kebetulan. Para penjaga penjara bisa jadi menganggap “hal yang lucu” menempatkan seorang mantan petugas di dalam sel yang sama dengan seseorang yang secara biologis berbeda kelamin dengannya.

“Saya merasa tak berdaya. Merasa terperangkap,” ujarnya mengenai perasaannya berbagi sel dengan napi transgender.

Tomiekia Johnson diwawancara RT
(Tomiekia Johnson saat diwawancarai RT mengungkapkan untuk mengintimidasi, teman satu selnya sering memunculkan sosok aslinya sebagai seorang pria. Credit: Youtube/RT)

Apa yang dialami Johnson dan sebagian napi wanita lainnya di AS bermula dari undang-undang yang disahkan negara bagian California awal tahun ini yang memungkinkan napi transgender meminta pemindahan ke penjara yang sesuai dengan identitas “gender” mereka. Sejak itu hingga bulan Juni, tak kurang dari 300 permohonan pindah penjara diajukan. Anehnya, tak satu pun permohonan tersebut yang ditolak.

Undang-undang terkait hal ini dituding merupakan upaya dari para politisi untuk merangkul komunitas LGBT yang memiliki “sumber daya” dan kekuatan dalam mempengaruhi peta politik di negara bagian tersebut. Beberapa politisi malah terang-terangan ingin mengadopsi kebijakan yang akan membuat semua orang merasa “terlindungi”.

Hanya saja, kata Johnson, mereka tidak memahami dampak dari kebijakan itu terhadap para napi wanita.

Baca Juga :

Awas, Remaja Korban Bullying dan Intimidasi Cenderung Berbuat Kekerasan di Masa Depan

Hal serupa terjadi di Inggris. Dari penelusuran RT, seorang mantan tahanan wanita di Inggris mengungkapkan bahwa ia pernah mengalami penyerangan seksual oleh teman satu selnya yang mengklaim dirinya transgender. Padahal ia dipenjara, sebagai seorang pria, gara-gara kasus kejahatan seksual terhadap wanita.

“Anda akan selalu gelisah. Anda tahu mereka bukan wanita. Mereka secara fisik mengancam dan berperilaku agresif,” katanya.

Dilema penempatan napi transgender
(Serba salah. Menempatkan napi transgender di penjara pria bisa membuat mereka menjadi bulan-bulanan para tahanan lainnya. Namun menempatkan mereka di penjara wanita juga dilematis, khususnya napi yang masih memiliki genital laki-laki atau punya rekam jejak pernah melecehkan kaum hawa. Credit: Tico Times)

Salah seorang napi transgender yang berada dalam penjara yang sama, suatu ketika diberitahu bahwa ia tidak bisa mandi bareng dengan napi wanita lainnya karena alasan perbedaan kelamin. Tak terima, ia protes dan mengajukan pengaduan resmi hak-hak asasinya sebagai manusia telah dilanggar.

“Sekarang ia diperbolehkan mandi bersama kami. Buntutnya, napi-napi transgender lainnya juga mengajukan perlakuan yang sama,” imbuhnya.

Sebagai informasi, penjara wanita di Inggris dan Wales bisa menampung napi transgender bermodal sertifikat pengakuan gender meski ia masih memiliki kelamin laki-laki.

Dalam kebijakan yang baru-baru ini ditetapkan di pengadilan tinggi Inggris dan Wales, hakim memutuskan kendati napi wanita mungkin saja terancam oleh rekan satu selnya yang secara biologis masih memiliki genital laki-laki, namun hak-hak terpidana transgender juga perlu dipertimbangkan. (TON)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *