Ikuti Jejak Olimpiade, Paralimpiade Digelar Tanpa Penonton

  • Whatsapp
Ikuti Jejak Olimpiade, Paralimpiade Digelar Tanpa Penonton
(Maskot Paralimpiade Tokyo 2020. Credit: AP Photo)

Rolasnews.com – Panitia penyelenggara memutuskan penonton dilarang hadir saat gelaran Paralimpiade di Jepang karena pandemi virus corona, sama seperti Olimpiade yang baru saja usai.

Jika sebelumnya pada saat Olimpiade ada pengecualian di mana penonton tetap diizinkan datang di daerah terpencil yang jauh dari Tokyo, kali ini semua penonton dilarang datang pada Paralimpiade. Penyelenggara juga meminta masyarakat untuk tidak keluar melihat acara di jalan-jalan.

Read More

Dilansir Associated Press, keputusan itu diumumkan setelah pertemuan dengan Presiden Komite Paralimpik Internasional Andrew Parsons, Presiden Komite Penyelenggara Seiko Hashimoto, Gubernur Tokyo Yuriko Koike dan Menteri Olimpiade Tamayo Marukawa.

Paralimpiade akan berlangsung pada 24 Agustus hingga 5 September dengan diikuti sekitar 4.400 atlet, jauh lebih kecil daripada Olimpiade dengan 11.000 atlet. Tetapi Paralimpiade akan berlangsung ketika infeksi baru meningkat di Tokyo, yang bisa saja menyerang populasi atlet yang lebih rentan terhadap COVID-19.

Saat konferensi pers, Parsons mengatakan tidak ada ruang untuk berpuas diri setelah Olimpiade.

“Mengingat tingginya jumlah kasus saat ini di Tokyo dan Jepang pada umumnya, semua orang yang menghadiri pertandingan ini harus waspada,” kata Parsons.

Baca Juga :

Para Pejabat Tokyo Khawatirkan Lonjakan Kasus di Tengah Perhelatan Olimpiade

Infeksi baru di Tokyo meningkat tiga kali lipat selama 17 hari Olimpiade. Para ahli medis  mengatakan acara itu secara tidak langsung ikut menyebabkan meningkatnya kasus karena publik terganggu dan terbuai dengan rasa aman palsu yang ditawarkan oleh hajatan Olimpiade.

Dengan situasi yang semakin memburuk, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga pada hari Senin mengatakan keadaan darurat di Tokyo dan daerah lainnya akan diperpanjang hingga 12 September. Keadaan darurat telah berlaku sejak 12 Juli dan akan berakhir akhir bulan ini.

“Lonjakan infeksi mencapai rekor tertinggi yang mengkhawatirkan,” kata Suga setelah bertemu dengan anggota kabinet lainnya. (AZP)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *