Warga Tolak Hotel Radho Dijadikan Safe House

  • Whatsapp
Warga Tolak Hotel Radho Dijadikan Safe House
(Anggota DPRD Kota Malang, Arif Wahyudi (berdiri) memahami keberatan warga Bareng, Kecamatan Blimbing, tentang rencana Pemkot Malang menjadikan Hotel Radho sebagai safe house pasien COVID-19. Credit: ANC/Rolasnews)
Rolasnews.com – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk menjadikan Hotel Radho sebagai lokasi safe house bagi pasien COVID-19 yang menjalani isolasi, mendapat penolakan dari warga sekitar. Pasalnya hotel yang berlokasi di Jalan Simpang Kawi, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen ini berada di persis di tengah-tengah pemukiman masyarakat.

Hal ini disampaikan sekretaris komisi B DPRD kota Malang, Arief Wahyudi, usai menghadiri agenda pertemuan dengan masyarakat di balai RW 7 Bareng Kulon.

Dikatakan Arief, setelah dilakukan proses mapping oleh RW setempat melalui RT, ternyata sebagian besar warga keberatan kalau Hotel Radho ini dijadikan Safe House. Mereka keberatan karena lokasinya yang berhimpitan langsung dengan warga masyarakat.

Read More

“Menurut saya pribadi lokasinya juga kurang layak, apalagi tempat parkirnya. Beda halnya safe house di gedung Balai Pelatihan Sumber Daya Manusia (BPSDM) yang memiliki pagar tinggi yang memisahkan gedung safe house dengan lingkungan masyarakat sehingga masyarakat sekitar bisa menerima dengan baik,” ujarnya, Jumat (23/7).

Menurut Arief, mestinya di setiap kecamatan harus memiliki safe house seperti ini, karena sebenarnya banyak gedung pemerintah yang bisa dimanfaatkan. Kenapa tidak mempergunakan Gedung Kartini Imperial Building yang lokasinya juga dekat dengan rumah sakit.

Arif mempertanyakan kenapa justru memakai safe house seperti Hotel Radho yang ada di lingkungan di tengah-tengah masyarakat.

“Saran saya manfaatkan saja gedung pemerintah sebagai safe house karena memang masyarakat sangat membutuhkannya. Atau bisa juga pakai gedung sekolah. Apalagi sekarang gedung sekolah tidak dipakai sampai waktu yang tidak ditentukan. Kenapa tidak pakai itu saja, tinggal masukkan bednya saja,” tuturnya.

Baca Juga :

Sama Ramah, Program Pendampingan Trauma Healing Korban COVID-19

Arief berharap, Pemkot Malang bisa mendengarkan suara masyarakat. Sebab setiap kegiatan yang ada di Kota Malang membutuhkan dukungan masyarakat.

Apabila masyarakat tidak mendukung, sebaiknya pemerintah tidak melanjutkannya. Ia menyarankan agar Pemkot mencari cara-cara yang elegan untuk menyediakan tempat Isolasi.

“Saya ikut suara masyarakat karena saya wakil mereka. Ketika mereka menolak dengan berbagai alasan yang bisa diterima dengan akal, ya sudah kita tolak saja jangan di sini. Alihkan ke tempat lain masih banyak,” tandasnya. (ANC)

Related posts

Link Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *