Profesor Ani Kembangkan Sensor Elektrokimia untuk Deteksi Residu Pestisida

Profesor Ani Kembangkan Sensor Elektrokimia untuk Deteksi Residu Pestisida
(Prof. Dr. Ani Mulyasuryani, M.S. Photo Courtesy : Ist)
Rolasnews.com – Pemakaian pestisida secara berlebihan, dengan dosis yang tidak tepat, bahkan ilegal masih kerap terjadi. Beberapa peneliti bahkan menemukan kadar residu pestisida pada teh komersial.

Hal ini menurut Prof. Dr. Ani Mulyasuryani, M.S harus menjadi perhatian pemerintah supaya terus dapat melakukan kontrol secara berkelanjutan. Untuk itu diperlukan suatu alat atau metoda untuk mendeteksi kadar pestisida dalam pangan.

“Saat ini sudah ada metode yang direkomendasikan SNI untuk penentuan kadar residu pestisida. Namun memerlukan preparasi sampel yang cukup panjang sehingga akan terjadi penumpukan sampel. Selain itu diperlukan seorang operator yang mempunyai kompetensi khusus,” ujarnya dalam pidato pengukuhannya sebagai profesor bidang Ilmu Kimia Analitik Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, Rabu (30/6).

Read More

Karenanya Prof Ani menawarkan deteksi residu pada tanaman pangan dengan menggunakan metode elektrokimia untuk dikembangkan menjadi instrumen yang portable untuk mengontrol keamanan pangan.

“Sensor elektrokimia dapat diaplikasikan untuk mendeteksi kadar residu pestisida klorpirifos dalam sampel buah-buahan dan sayuran,” sebutnya.

Menurutnya, sensor elektrokimia untuk deteksi klorpirifos terdiri dari tiga jenis.

Pertama sensor klorpirifos berbasis enzim, menggunakan screen printed electrode tunggal, dengan sinyal luaran konduktivitas listrik yang berbading lurus dengan konsentrasi.

Kedua adalah sensor klorpirifos berbasis MMIP menggunakan screen printed electrode dua elektroda yaitu indikator dan refenrensi. Sinyal yang terukur adalah potensial listrik, hubungan kuantitif dengan konsentrasi merupakan persamaan logaritma.

Ketiga adalah sensor klorpirifos berbasis komposit nanopartikel, menggunakan screen printed electrode tiga elektroda yaitu elektroda kerja, referensi dan elektroda counter. Sinyal luaran adalah arus listrik yang berbanding lurus dengan konsentrasi.

“Batas deteksi sensor klorpirifos lebih kecil dari 1 ppm, diaplikasikan pada sampel buah-buahan dan sayuran pada kondisi pH kerja yang berbeda,” tuturnya.

Pengukuhan Prof Ani di UB
(Pengukuhan Dr. Ani Mulyasuryani, M.S sebagai profesor aktif ke-24 di Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya. Photo Courtesy : Ist)

Baca Juga :

Prof Ludji Ungkap Pentingnya Improvisasi PHGT pada Beras dalam Simpanan

Dikatakan, untuk mencapai miniaturisasi sistem analisis kimia, pengembangan sensor elektrokimia perlu diintegrasikan dengan metoda preprasi seperti liquid phase microextraction (LPME) dan magnetic solid phase microextraction (MSPE).

“Untuk mengembangkan sensor elektrokimia sebagai instrumen analisis ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Tetapi diperlukan kerjasama dengan berbagai bidang, diantaranya biokimia, nanomaterial, sintesis organik maupun anorganik, serta teknik elektronika sensor, transduser, dan aktuator,” pungkasnya.

Sementara itu disebutkan, Prof. Dr. Ani Mulyasuryani, M.S merupakan profesor aktif ke-24 dari Fakultas MIPA, profesor aktif ke-197 di UB, dan ke-281 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB. (ANC)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *