Apes, Sejam Cari Makanan Hanya Dikasih Tip 1 Dolar

  • Whatsapp
Apes, Sejam Cari Makanan Hanya Dikasih Tip 1 Dolar
(Tampang melas Michael saat curhat soal tip tak manusiawi yang diterimanya. Photo Courtesy : deliveryguy100/tiktok)
Rolasnews.com  – Jangan pesan makanan yang susah didapatkan kalau nggak mau ngasih tip lebih. Begitu kiranya yang harus diperhatikan sebelum memesan makanan lewat aplikasi online. Jangan sampai, enak di kita malah nggak enak di driver aplikasi online-nya.

Seperti curhatan seorang driver aplikasi online bernama Smithson Michael. Dalam video yang dia unggah lewat akun TikTok miliknya, @deliveryguy100, Michael mengungkapkan nasib apesnya setelah mengantar makanan pesanan pelanggannya.

“Yo, saya berharap orang-orang tahu bagaimana rasanya mengirim pesanan untuk Uber Eats, Postmates, atau DoorDash, semua perusahaan itu,”’ buka Michael dalam curhatannya.

Read More

“Baru saja saya harus menghabiskan waktu sejam hanya untuk dikasih tip US$ 1,19,”  lanjut Michael.

Wow, sejam berkeliling hanya mengantongi uang lelah yang nominalnya kalau dikurskan ke rupiah jadi sekitar Rp 16.908? Michael tak menyebutkan seberapa kilometer dia berkendara. Logikanya, bisa berpuluh-puluh kilometer sih.

Jarak yang jauh tentunya juga tentu menguras koceknya lebih dalam. Terlebih Michael di saat itu mengendarai mobil untuk menjemput makanan pesanan pelanggan, dan mengantarkan ke alamat yang tercantum dalam apilikasinya.

“Maksudku tak ada salahnya kan kalian memberi tip ke kami USD$ (Rp 71.042)?’’ harapnya sambil membuka maskernya lalu memperlihatkan mimik wajahnya yang berlinang air mata. Kasihan, kan?

Ia pun membeberkan betapa sulit dirinya bertahan hidup dengan pendapatan jadi driver pengiriman makanan online.

“Saya mendapatkan tip US$ 1,19, dan US$ 2 (Rp 28.416) dari aplikasi. Tip macam apa ini?’’ keluhnya yang menyebut itu jelas tak sebanding dengan pengeluarannya.

“Tip itu bahkan tak cukup untuk menutupi pengeluaranku membeli bensin. Bagaimana saya bisa bertahan hidup dengan kondisi seperti ini”’ keluhnya dalam video yang di TikTok ditonton sebanyak 1,1 juta dan dikomentari kurang lebih sampai 15 ribu komentar itu.

@deliveryguy100##helpme ##ubereatsdriver ##traction ##positiveforce♬ original sound – Smithson Michael

Jawabannya pun sangat tragis. Tip-tip yang dia dapat sebagai driver pengantar makanan online tak cukup membuatnya bertahan hidup. Bahkan untuk sekadar berlindung dari panas dan hujan, Michael tak punya rumah alias tuna wisma! Cicilan mobilnya bahkan sudah nunggak sampai empat bulan.

“Semuanya berantakan. Saya belum mampu menopang diriku sendiri, menafkahi diriku sendiri. Dan ini (pengiriman makanan online) menurutku adalah layanan yang penting,” tambah Michael dalam video yang diberi tagar #helpme dan #uberatsdriver itu.

Meski begitu, Michael tak mau dikasihani dan diberi sumbangan uang oleh siapapun yang menonton video unggahannya itu.

“Saya hanya berharap orang-orang tahu seperti apa rasanya. Saya harap, orang-orang juga mengerti bagaimana rasanya mengemudi untuk layanan ini,’’ tutur Michael.

Baca Juga :

Pizza, Makanan Pesan Antar Paling Populer Sedunia

Ada satu komentar netizen yang membuat Michael terkesan.

“Orang-orang yang merasa berduit, jangan pesan makanan kalau tak bisa kasih tip yang wajar,’’ tulis komentar tersebut.

Netizen lain berkomentar bahwa semua ini dikembalikan kepada operator penyedia jasa layanan pengiriman makanan online. Baik Uber Eats, Postmates, atau DoorDash.

“Saya selalu memberi tip lebih. Tapi untuk kasus yang begini-begini, perusahaan musti ikut bertanggung jawab dong,” begitu salah satu netizen mengomentari curhatan Michael.

Kemungkinan besar, pesanan yang diantarkan Michael tersebut lewat aplikasi pengiriman makanan online Uber Eats.

Dilansir New York Post, pihak Uber Eats menyatakan mereka tidak bisa mengidentifikasi pengirim dalam sistem Uber. Perusahaan hanya memberi link terkait sistem tarif, penetapan harga di awal, dan pemberian tip.

Secara tidak langsung, pihak Uber Eats seolah menyalahkan si driver, dalam hal ini Michael. Sebaliknya, Michael menyalahkan konsumen. Konsumen sendiri menyalahkan operator.

Lantas, siapa yang salah kalau begitu? (YMP)

Related posts

Link Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *