Launching Kampung Tangguh RW 16 Bunulrejo Diwarnai Tebar Benih Lele

  • Whatsapp
Launching Kampung Tangguh RW 16 Bunulrejo Diwarnai Tebar Benih Lele
(Launching Kampung Tangguh RW 16 Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang diwarnai dengan penebaran benih lele untuk menunjang pangan mandiri bagi warganya. Foto : TON/Rolasnews)
Rolasnews.com – Satu demi satu kampung di wilayah Kota Malang mendeklarasikan kampungnya sebagai kampung tangguh. Salah satu yang baru saja menyusul pembentukan kampung yang dimaksudkan untuk melawan penyebaran COVID-19 itu adalah Kampung Tangguh RW 16 Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Launching Kampung Tangguh RW 16 Bunulrejo dilakukan Minggu pagi, (5/7), di rumah Musiran, Ketua RT 01. Dalam launching tersebut, ke depannya diharapkan warga dapat mandiri dalam ketahanan pangan dengan saling berbagi. Keberadaan kampung tangguh ini juga untuk membuat warga lebih waspada terhadap penyebaran COVID-19 di lingkungan tempat tinggalnya.

“Dengan menjadikan kampung kita sebagai bagian dari Kampung Tangguh Semeru, maka warga harus mengikuti protokol kesehatan dalam aktivitasnya. Jangan lupa selalu pakai masker, jaga jarak. Untuk warga yang baru dari luar kota dan warga luar yang masuk ke kampung kita, harus lapor ke RT masing-masing,” kata Ketua Tim Penggerak PKK RW 16 Bunulrejo, Mutifah.

Read More
Launching Kampung Tangguh RW 16 Bunulrejo
(Emak-emak dari RW 16 dan 19 berpose sejenak setelah launching Kampung Tangguh Mandiri RW 16 Bunulrejo. Foto : TON/Rolasnews)

Sebagai catatan, Kampung Tangguh Semeru adalah inisiatif Polda Jatim untuk upaya melawan penyebaran COVID-19 yang dilakukan mulai dari lingkup terkecil, seperti kampung dan desa yang melibatkan partisipasi aktif warga sekitar. Salah satu program yang terus disosialisasikan Kampung Tangguh Semeru adalah displin menerapkan protokol kesehatan.

“Disiplin mematuhi protokol kesehatan ini wajib dipatuhi demi kepentingan bersama. Apalagi tadi malam, RW sebelah warganya ada yang reaktif dan sekarang harus menjalani karantina mandiri di rumahnya,” imbuh Mutifah.

Sebelum membentuk Kampung Tangguh RW 16 Bunulrejo, pengurus RW dan seluruh RT setempat sudah melakukan berbagai upaya untuk mandiri, setidaknya dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Disediakan tempat khusus bagi warga untuk menaruh beberapa bahan pokok seperti sayur mayur, bumbu dapur, telur, minyak goreng, dll. Warga lainnya bebas mengambil asal sebatas kebutuhan.

Dari Warga untuk Warga
(Penyediaan tempat untuk kebutuhan dapur dari warga untuk warga. Foto : TON/Rolasnews)

Menko PMK : Kampung Tangguh Mandiri Contoh Revolusi Mental

Berbagi bahan-bahan kebutuhan pokok ini sebelumnya dibantu oleh RW 19 di kelurahan yang sama yang berada di perumahan sebelah. Bahkan saat launching Kampung Tangguh RW 16 Bunulrejo, pengurus RW 19 turut menyumbangkan sejumlah paket sembako.

Ketua RW 16 Menerima Pengurus RW 19
(Ketua RW 16 Bunulrejo, Yeni Prasetio, menerima kunjungan pengurus RW 19 di kelurahan yang sama. Foto : TON/Rolasnews)
Sumbangan Sembako dari RW 19
(Sembako sumbangan dari RW 19. Foto : TON/Rolasnews)

Uniknya, dalam kesempatan itu RW 16 juga mendapat bantuan benih lele yang langsung ditebar sementara ke akuarium.

“Benih lele ini nantinya akan dibagi ke-5 RT yang berada di wilayah RW 16 untuk dibudidayakan di RT masing-masing. Semoga pembudidayaan lele ini bisa berkembang dan menunjang ketahanan pangan warga,” tutur Ketua RW 16 Bunulrejo, Yeni Prasetyo.

Pembangunan Balai RW Butuh Perhatian Pemkot Malang

Sementara itu, meski pembebasan lahan sudah tuntas dan gedung Balai RW 16 Bunulrejo sudah berdiri, namun masih banyak yang perlu dilakukan untuk penyelesaian pembangunan fisiknya.

Menurut Ketua RW, Yeni Prasetyo, baik pembelian lahan maupun pembangunan fisik balai RW tersebut murni swadaya warga.

“Tanah ini dibeli seharga Rp 89 juta. Setiap KK patungan Rp 30 ribu selama 1 tahun lebih sehingga terkumpul Rp 134 juta. Sisa dana dipakai untuk membangun pondasi dan tembok. Tapi karena masih kurang untuk finishing bangunan supaya Balai RW ini benar-benar layak dan bisa pakai, warga kembali patungan,” jelasnya.

Balai RW 16 Bunulrejo
Balai RW 16 Bunulrejo dinamakan “Gotong Royong” karena memang murni hasil swadaya masyarakat. Foto : TON/Rolasnews)

Untuk menyelesaikan pembangunan Gedung Balai RW seluas 12,5 m X 14 meter tersebut, setiap KK di RW 16 ditarik iuran Rp 10 ribu selama 1 tahun. Ada pun total KK di RW 16 Bunulrejo berjumlah 342 KK.

“Sebenarnya untuk Balai RW ini kami sudah mengajukan bantuan ke Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan, red) Pemkot Malang. Namun dua kali ditolak karena alasan status tanah. Padahal tanahnya sudah dibeli lunas dan ada akta jual belinya,” kata Yeni.

Ia menambahkan, sembari menunggu uluran tangan dari Pemerintah Kota Malang, warga secara swadaya tetap melanjutkan pembangunan Balai RW. Biaya sedikit dapat ditekan karena menggunakan tukang dan kuli dari masyarakat sekitar. Juga ada bantuan pinjaman lunak dari seorang warga yang pernah tinggal di sana namun sekarang sudah pindah ke tempat lain.

“Harapan kami ada perhatian dari Pemkot Malang untuk membantu mempercepat pembangunan Balai RW ini sehingga dapat segera dimanfaatkan warga,” tutup Yeni. (TON)

Related posts

Link Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *